Pengakuan Gay soal Populasinya di Purwokerto, Dikumpulkan Satu Alun-alun Tidak Cukup
khoirul muzaki July 22, 2026 01:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di tengah semakin terbukanya ruang media sosial dan derasnya arus pendatang ke Purwokerto, geliat fenomena Lesbian Gay Biseksual Transgender dan Queer (LGBTQ+) ikut berubah.


Apabila dahulu identitas tersebut cenderung disembunyikan, kini sebagian mulai berani mengekspresikan diri, meski masih dibayangi stigma, diskriminasi, hingga cibiran dari masyarakat.


Di balik berbagai stereotip yang berkembang, terdapat kisah-kisah dari masing-masing pribadi yang kompleks. Mulai dari pengalaman masa kecil, trauma, pencarian rasa aman dalam sebuah hubungan, hingga pergolakan batin yang begitu kuat. 


Dua pria yang mengaku bagian dari kelompok LGBTQ+ membagikan cerita mereka kepada Tribun Banyumas dengan identitas yang telah disamarkan.


Berani terbuka


Seorang pria berinisial XX (28) asal Purwokerto menilai perkembangan kota membuat komunitas LGBTQ+ juga semakin beragam.


Menurutnya, Purwokerto kini menjadi kota yang lebih maju dengan banyak pendatang dari berbagai daerah. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin heterogen, termasuk keberadaan kelompok LGBT.


Ia memperkirakan tingkat keterbukaan kelompok tersebut saat ini sudah makin meningkat dibanding beberapa tahun lalu.


"Kalau dikumpulkan jadi satu di Alun-alun Purwokerto dan suruh baris gitu kayaknya sudah tidak cukup, LGBT dimana-mana ada, cuma karena silent aja," kelakarnya kepada Tribunbanyumas.com, Senin (20/7/2026). 


Apalagi juga banyak pendatang dan masyarakatnya semakin heterogen dan keterbukaan kelompok tersebut sekarang sudah meningkat, apalagi di sosial media. 


Berdasarkan pengamatannya, sejauh ini keberadaan LGBTQ+ di Purwokerto terbagi dalam tiga pola.

Pertama, mereka yang secara terbuka membentuk komunitas melalui media sosial. 


Kedua, kelompok-kelompok kecil atau circle pertemanan yang anggotanya saling mengenal dan berinteraksi secara terbatas.


Ketiga, individu yang menjalani kehidupan secara pribadi tanpa tergabung dalam komunitas maupun kelompok tertentu.


"Saya bukan orang yang ikut komunitas atau circle apa pun. Tapi kalau diamati di beberapa tempat tongkrongan sebenarnya ada loh ada grup-grup kecil yang patut diduga mereka sebenarnya adalah LGBT," ujarnya.


Menurutnya, ada kelompok yang seluruh anggotanya merupakan LGBT. Namun ada pula circle yang berisi campuran antara LGBT dan heteroseksual.


"Tapi sebenarnya di mana-mana ada kok. Hanya saja mereka tidak menampakkan diri dan mengumbar. Yang kelihatan dan dijudge biasanya yang dianggap melambai atau feminin saja atau sekarang disebutnya Boty. 


Padahal yang maskulin, bapak-bapak yang sudah punya anak juga banyak yang aslinya Biseks bahkan boty," katanya. 


Memilih Hidup Seperti Pria pada Umumnya


Berbeda dengan stereotip yang selama ini berkembang di masyarakat, XX mengaku menjalani kehidupan sehari-hari layaknya pria pada umumnya.


Ia berpakaian biasa dan tidak berusaha tampil mencolok ataupun menyerupai perempuan.


"Saya bukan anak yang suka nongkrong sana sini. Saya juga tidak bergabung dengan komunitas atau kelompok apa pun, tapi saya bisa mana yang belok alias gay," katanya.


Memasuki usia tergolong masih muda 28 tahun, ia mengaku lebih memilih menjalani hidup dengan tenang dan tidak lagi ingin terlibat dalam banyak relasi.


Menurutnya, stigma negatif terhadap LGBTQ+ membuat dirinya berusaha menjaga citra di lingkungan sosial.


Sedih Istilah 'Boty' jadi Bahan Bully


Salah satu hal yang menurut XX paling menyakitkan adalah penggunaan istilah "boty" sebagai ejekan.


Ia mengaku sedih karena istilah tersebut sering dipakai masyarakat untuk menghina seseorang.


"Saya sangat sedih dengan kata-kata boty yang digunakan untuk membully. Kata boty itu seperti disamakan dengan bencong atau banci yang sebelumnya sudah ada," katanya.


Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai istilah tersebut sering kali tidak tepat.


Ia menjelaskan bahwa di kalangan LGBT, istilah boty digunakan untuk menggambarkan peran dalam hubungan seksual, yakni pihak yang mengambil posisi wanitanya sedangkan top merupakan pihak yang mengambil posisi sebagai laki-lakinya. 


Menurut pengakuannya, istilah tersebut tidak berkaitan langsung dengan sifat feminin ataupun cara seseorang berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.


"Boty bukan berarti punya sifat kemayu. Tapi lebih kepada pihak yang menerima rangsang apabila dalam hubungan seksual. 


Dalam kehidupan sehari-hari tetap seperti pria maskulin pada umumnya," katanya.


Ia juga menilai tidak semua pria yang berpenampilan lembut atau feminin merupakan LGBT.


Sebaliknya, ada pula pria LGBT yang justru berpenampilan sangat maskulin.


"Contohnya ada pria yang kemayu tapi dia straight. Ada juga pria kemayu yang dia LGBT tetapi role-nya top," ujarnya.


Pernah Menjadi Top


XX mengaku peran dalam hubungan tersebut menurutnya tidak selalu bersifat tetap. Dirinya pernah menjalani peran sebagai top, meski kini lebih merasa nyaman sebagai boty.


Menurutnya, hubungan yang sehat bukan ditentukan oleh peran tersebut, melainkan oleh kesetiaan pasangan.


"Kalau mau berhubungan ya harus setia," katanya. 


Meski merupakan bagian dari LGBT, XX justru mengkritik sebagian perilaku sesama kelompoknya yang dinilai terlalu terbuka di ruang publik.


Ia menilai ada sebagian orang yang sudah berani berjalan bersama maupun bermesraan di tempat umum. Menurutnya, tindakan tersebut justru memicu penolakan masyarakat.


Kelakuan boty di Purwokerto menurutnya makin bar-bar. Bahkan ada yang bermesraan di muka umum dan tidak malu lagi jalan bareng bahkan gandengan tangan.


Ia menilai perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan.


"Ibaratnya begini, yang hetero saja kalau bermesraan di tempat umum salah. 


Apalagi ini LGBT ditambah bermesraan di tempat umum, ya jelas dihujat. Apalagi Purwokerto banyak pendatang, mungkin banyak mahasiswa pendatang juga," katanya.


Pernah Mengalami Pelecehan Saat SD


Saat ditanya mengenai alasan dirinya menjadi gay, XX mengaku tidak memiliki jawaban pasti.


Ia hanya menduga terdapat banyak faktor yang memengaruhi seseorang. Menurutnya, keluarga bukan penyebab utama. Ia mengaku tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan berkecukupan.


"Bapak ibu saya baik dan berkecukupan," katanya.


Namun ia mengaku memiliki pengalaman traumatis saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengaku pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman sebayanya.


"Saya pernah mendapat trauma masa kecil, dilecehkan oleh sesama teman waktu masih SD. 


Saat itu saya merasa ada perasaan aneh, tapi saya menganggap itu hal yang biasa. Saya tidak tahu kenapa teman saya melakukan itu kepada saya. Barangkali dia juga pernah mendapat perlakuan yang sama dari orang lain," katanya.


Trauma Masa Kecil


Pengalaman XX sejalan dengan kisah XY (34), pria asal Solo yang kini menetap di Purwokerto.


XY menceritakan sejak kecil dirinya mendapat perlakuan keras dari ayahnya yang merupakan anggota kepolisian.


Ia mengaku sering mengalami kekerasan fisik. Bahkan suatu ketika dirinya pernah diusir dari rumah dan dilempar keluar saat hujan deras.


Menurutnya, pengalaman tersebut meninggalkan trauma yang mendalam hingga dewasa. Meski demikian, ia sempat beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan perempuan.


Namun hubungan-hubungan tersebut berakhir dengan perselingkuhan yang dilakukan pasangannya.


"Sejak kecil saya dididik keras. Saat dewasa bertemu banyak wanita, tapi saya selalu diselingkuhi. 


Itulah yang membuat saya akhirnya muak. Saya tidak melihat lagi itu wanita atau pria. Siapa saja yang bisa membuat saya aman dan nyaman, tidak masalah buat saya," katanya.


Berangkat dari pengalaman tersebut, XY akhirnya mencoba membuka hubungan dengan laki-laki.


Ia mengaku menjalin hubungan yang menurutnya serius dan saling mendukung.


"Barangkali trauma yang menjadikan saya sekarang. Kalau role saya nyaman jadi boty, tapi memang saya tidak melakukan anal seks karena berisiko.


Jadi saya menjalani hubungan yang sehat dan saling support saja," katanya.


Meski demikian, ia tidak dapat memastikan bagaimana masa depannya. Menurutnya, kemungkinan kembali menjalin hubungan dengan perempuan tetap ada, meski tidak mudah.


"Mungkin bisa saja balik lagi dengan wanita, tapi tidak gampang," katanya.


Dari dua kisah tersebut terlihat pengalaman setiap individu yang mengaku sebagai bagian dari LGBTQ+ tidak selalu sama.


Ada yang mengaitkannya dengan pengalaman traumatis semasa kecil, ada pula yang menghubungkannya dengan pengalaman hidup saat dewasa.


Di sisi lain, keduanya sama-sama mengaku masih menghadapi stigma sosial yang kuat di tengah masyarakat.


Mereka juga menilai masih banyak kesalahpahaman mengenai istilah-istilah yang berkembang di kalangan LGBT, termasuk penggunaan kata "boty" yang menurut mereka sering dimaknai berbeda oleh masyarakat luas.


Terlepas dari berbagai pandangan yang berkembang, kisah-kisah tersebut memperlihatkan fenomena LGBTQ+ tidak dapat dipandang dari satu sudut pandang saja, melainkan melibatkan beragam latar belakang pengalaman hidup, dinamika psikologis, serta lingkungan sosial yang berbeda pada setiap individu. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.