Cerita Menantang Revitalisasi SMAN 8 Kupang, Bangun Kelas di Lahan Berkarang
GH News July 22, 2026 01:10 PM
Jakarta -

Pernahkah detikers membayangkan membangun ruang kelas di atas tumpukan batu karang yang tajam dan lahan yang naik-turun? Itulah kurang lebih kondisi dari tanah SMAN 8 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekolah ini terletak di perbatasan antara Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Wilayahnya yang dekat pantai membuat strukturnya tanahnya demikian.

Dengan kondisi seperti itu, butuh perjuangan ekstra dalam membangun gedung sekolah. Baru-baru ini, pembangunan sekolah baru saja selesai setelah sekolah mendapatkan dana revitalisasi dari pemerintah.

"Di tempat ini lokasinya tidak seperti yang kita bayangkan mungkin di Jakarta, mungkin di tempat yang rata, yang bagus. Kami di tempat yang berbatu-batu, naik-turun," ujar Pengawas Pembina SMAN 8 Kupang, Noh Kana Hau, saat ditemui dalam rangka Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Kementerian Komunikasi dan Digital di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Selasa (21/7/2026) lalu.

Perjuangan Bangun Sekolah di Atas Karang

SMAN 8 Kupang, NTT.Lahan berkarang di SMAN 8 Kupang, NTT. Foto: Cicin Yulianti/detikcom

Hampir di setiap lahan kosong sekolah terdapat karang besar maupun kecil yang dapat ditemui. Karena itu, pembangunan gedung di sekolah ini tak hanya urusan semen dan bata, tapi juga tantangan menghadapi kondisi geografisnya.

Tahun 2025, SMAN 8 Kupang ini mendapatkan dana revitalisasi dari pemerintah senilai Rp 1,2 miliar. Dana tersebut cukup untuk membangun empat ruang kelas baru dan dua toilet.

Noh mengatakan, butuh perjuangan yang keras bagi para tukang dalam pembangunan. Adapun tenaga kerja dalam proyek kali ini mengandalkan warga sekitar, bukan kontraktor.

"Tempat itu di atas karang Bapak Ibu. Membangun ini juga butuh perjuangan dan tanggung jawab," ujar Noh.

SMAN 8 Kupang, NTT.Lahan berkarang di SMAN 8 Kupang, NTT. Foto: Cicin Yulianti/detikcom

Kepala SMAN 8 Kupang, Samuel Djami Riwu mengungkapkan, bantuan ini menjadi angin segar bagi para siswa maupun guru. Pasalnya, sekolah ini memang kekurangan tujuh kelas.

SMAN 8 Kupang memiliki 850 siswa. Awalnya, dalam satu rombongan belajar atau kelas berisikan lebih dari 40 siswa.

Kini, satu kelas hanya berisi 30-an siswa. Dengan perbaikan sekolah, animo masyarakat yang ingin mendaftar ke sekolah ini juga meningkat.

"Awalnya kami kekurangan tujuh ruang kelas. Dengan dana revitalisasi ini, kami bangun empat ruang kelas, sehingga sekarang kekurangannya sisa tiga," jelas Samuel.

Sudah Tak Belajar di Lab Lagi

Dikarenakan kekurangan kelas, siswa bahkan harus belajar di laboratorium. Selain itu, ruang aula disekat menjadi tiga kelas darurat.

"Dulu kami pakai aula, kemudian ada Lab Biologi, Lab Kimia, tambah dengan Lab Komputer dijadikan ruang kelas. Kita siasati karena animo anak-anak sekolah di sini cukup besar," kenang Kepala Sekolah.

Sekarang, ruang-ruang tersebut sudah bisa digunakan sebagaimana mestinya. Laboratorium hanya digunakan saat praktik.

"Kami berharap ada dampak positif. Lab-lab itu kini tidak kami pakai (untuk kelas) lagi, nanti tetap dipakai untuk praktik mata pelajaran tertentu," kata Samuel.

Masih Butuh UKS hingga Pagar Keamanan

Meski sudah jauh lebih baik, SMAN 8 Kupang masih memiliki beberapa PR. Selain masih kekurangan tiga ruang kelas lagi, sekolah ini sangat membutuhkan ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah).

Selama ini, jika ada siswa yang pingsan atau sakit tiba-tiba, mereka terpaksa dirawat di Ruang Kesiswaan sebelum dibawa ke Puskesmas.

"UKS ini sebenarnya cukup mendesak karena anak-anak sering ada yang pingsan atau semaput. Terpaksa kami tahan di ruang kesiswaan dulu," ungkap Samuel.

Selain UKS, pihak sekolah juga mengusulkan pengadaan pagar pengaman. Juga, perataan lahan karang yang masih tersisa di area depan sekolah.

"Harapan kami semoga ke depan kami bisa mendapat intervensi lagi dari pemerintah pusat karena sekolah ini masih banyak hal yang perlu dibenahi," kata Noh.

Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, di detikcom sejak 2022. Spesialis menulis topik pendidikan, kampus, sekolah, beasiswa, riset, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.