TRIBUNMANADO.CO.ID - Otoritas Jasa Keuangan Sulut Gorontalo (OJK Sulutgo) bersama DPD Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Sulutgomalut kembali bersinergi untuk meningkatkan kapasitas SDM BPR.
Kepala OJK Sulutgomalut, Robert HP Sianipar melalui Kepala Divisi Pengawasan LJK OJK Sulutgo, Iqbal Mudir membekali puluhan analis kredit, account officer BPR di Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo dalam Workshop Peningkatan Kompetensi BPR di Manado, Rabu 22 Juli 2026.
Iqbal Mudir menjelaskan, performa BPR di Sulutgo secara umum relatif baik.
Hal itu tercermin dari peningkatan total asset 11,28 persen menjadi 2,5 triliun per Mei 2026.
Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sedikit tertekan turun 3,38 persen menjadi Rp 1.72 triliun.
Sementara untuk kredit meningkat signifikan sebesar 6,37 persen menjadi Rp 1,9 triliun.
Meskipun demikian, OJK memberi perhatian pada angka Non Performing Loan (NPL) atau kredit tidak perform BPR.
NPL BPR pada Mei 2026 naik 4,42 persen dan secara akumulatif menjadi 11,8 persen.
Terkait ini, Iqbal berpesan agar BPR memitigasi dan benar-benar menjalankan prinsip prudential (kehati-hatian) dalam tahapan analisa kredit.
"Penyebab NPL bukan hanya dari sisi analisis semata. Kami berharap, analis menerapkan prudential di awal," kata Iqbal di NDC Hotel and Resort Manado.
Dijelaskannya, tak sedikit analis fokus ke kolateral.
"Sepanjang agunannya memadai, mengesampingkan sisi kemampuan kapasitas usahanya. Padahal yang penting melakukan analisis, usahanya bagaimana, cashflow-nya," ujarnya lagi.
Analisa kredit memegang peran penting. Analisa yang keliru akan berdampak pada kredit macet. Seiring dengan itu, NPL naik yang mendorong CKPN bertambah, laba turun dan berisiko hukum.
Sejalan dengan itu, dalam pelatihan ini ditekankan terkait amanat Peraturan OJK Nomor 19 tahun 2024 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM.
POJK ini mengatur kewajiban BPR untuk memberi akses pembiayaan kepada UMKM namun tetap menerapkan asas kehati-hatian.
"Pemberian kredit harus dilakukan secara sehat," jelasnya lagi.
Terakhir, Iqbal menegaskan pentingnya integritas sebagai fundamental dalam tata kelola perbankan. Ia mengajak jajaran direksi dan komisaris dan menjaga pencatatan dan pelaporan dan memenuhi standar akuntansi OJK.
"Bisnis BPR, sumber utama labanya adalah kredit, labanya dari situ. Ketika Kredit dijaga, tidak ada fraud, tentu performa bisnis jalan baik," katanya lagi.
Sekretaris DPD Perbarindo Sulutgomalut, Vicky Palit menjelaskan, pelatihan ini sebagai upaya pihaknya terus mendorong kompetensi SDM BPR.
Latar belakangnya, kata Palit, sesuai mandat POJK 19 bagaimana BPR bisa menjadi agen pembangunan lewat akses pembiayaan yang mudah terhadap UMKM.
"Dengan catatan, BPR itu aman, dimungkinkan memberikan kredit ke UMKM dengan menjaga asas prudential,"
Vicky Palit mengungkapkan, tak dapat dipungkiri kapasitas BPR masih perlu terus didorong.
Begitu juga dengan dari sisi layanan yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar terkait digitalisasi layanan.
Selain OJK, pemateri workshop ialah Branch Manager Permata Bank Manado, Olivia L. Soputan; Pemimpin Wilayah Asuransi Al Amin, Rifani Rori dan Micro Business Manager BRI Manado, Reinol Pareda.
Turut dalam pelatihan ini, Andiwanto Wiratna dari DPD Perbarindo Sulutgomalut, Direktur Utama Bank Dana Raya, Hanny Mamoto dan Komisaris dan Direksi BPR lainnya.
(TribunManado.co.id/Ndo)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK