Jangan Cuma Melarang Gadget Ke Anak, Pakar Unair: Orang Tua Harus Hadir
Wiwit Purwanto July 22, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA – Kehadiran teknologi digital telah mengubah cara anak tumbuh, belajar, dan berinteraksi. Generasi Alpha yang sejak kecil akrab dengan gawai menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya berperan sebagai pengawas yang membatasi waktu penggunaan perangkat, melainkan perlu membangun kedekatan emosional agar anak merasa aman untuk berdiskusi, bertanya, dan mencari bantuan ketika menghadapi persoalan di dunia digital maupun kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelang peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli. Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini bukan lagi sekadar membentuk kedisiplinan, tetapi menciptakan hubungan yang hangat, responsif, dan penuh kepercayaan.

Orang Tua Perlu Menjadi Digital Mentor

Primatia menilai pola pengasuhan yang tepat akan membantu anak mengenali emosi, memiliki empati, dan membangun relasi sosial yang sehat. Dalam konteks perkembangan teknologi yang begitu cepat, orang tua juga dituntut memahami cara anak berinteraksi di dunia digital.

Baca juga: Surabaya Resmi Bentuk Dewan Pendidikan Baru, Soroti Gadget dan Gen Alpha

"Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police, guna mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman," ujarnya.

Menurutnya, peran tersebut penting karena anak menghadapi berbagai risiko di dunia maya, mulai dari kecanduan gawai hingga perundungan siber atau cyberbullying. Karena itu, pendampingan aktif jauh lebih diperlukan dibanding sekadar pengawasan atau larangan.

Primatia juga menegaskan bahwa pola asuh yang responsif dan penuh kehangatan terbukti lebih efektif dibanding pendekatan yang mengandalkan bentakan maupun hukuman fisik.

"Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah," katanya.

Komunikasi dan Kehadiran Orang Tua Jadi Kunci

Selain pendampingan digital, Primatia menekankan pentingnya komunikasi dua arah dalam keluarga. Orang tua disarankan menerapkan active listening dengan mendengarkan anak hingga selesai sebelum memberikan tanggapan, sekaligus memvalidasi perasaan yang mereka alami.

Baca juga: DPRD Jatim Dukung Pembatasan Gadget di Sekolah, Tekankan Juknis Harus Aplikatif

Ia menilai budaya komunikasi yang terlalu hierarkis masih membuat banyak anak takut mengungkapkan pendapat karena khawatir dianggap melawan. Padahal, keterbukaan justru memperkuat kelekatan antara orang tua dan anak sehingga mereka tidak ragu mencari bantuan saat menghadapi masalah.

Primatia juga mengingatkan orang tua untuk bijak menggunakan media sosial, terutama ketika membagikan foto atau video anak. Fenomena sharenting, menurutnya, perlu dipertimbangkan secara matang karena jejak digital dapat terus melekat hingga anak beranjak dewasa.

"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa," tuturnya.

Momentum Hari Anak Nasional, lanjut Primatia, menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bagi masa depan anak bukan semata fasilitas, melainkan kualitas hubungan yang dibangun di dalam keluarga.

"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, sebab keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.