BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman demam berdarah dengue (DBD) saat musim kemarau.
Meski genangan air di luar rumah berkurang, jentik nyamuk Aedes aegypti masih dapat berkembang biak di tempat penampungan air di dalam rumah.
Karena itu, masyarakat diminta tetap rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah peningkatan kasus DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengungkapkan musim kemarau memang menyebabkan genangan air di lingkungan terbuka berkurang sehingga populasi jentik nyamuk cenderung menurun.
Namun kondisi tersebut tidak berarti risiko penularan DBD hilang sepenuhnya.
Warga tetap harus memperhatikan tempat-tempat penampungan air di dalam rumah yang berpotensi menjadi sarang jentik.
“Ketika musim kemarau, genangan air memang berkurang dan jentik pun otomatis ikut berkurang,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Fakta Baru Sidang Lundup Timah Indonesia-Malaysia, Kirim Sinyal Senter ke Kapal Hantu Milik Pai
Slamet Wahidin menjelaskan bak mandi, wadah dispenser, hingga bagian belakang kulkas yang menampung air dapat menjadi lokasi berkembang biaknya jentik nyamuk.
Tempat-tempat tersebut sering luput dari perhatian masyarakat sehingga berpotensi menjadi sumber penularan DBD.
Menurutnya, kewaspadaan terhadap lingkungan di dalam rumah sama pentingnya dengan menjaga kebersihan di luar rumah.
Menurutnya faktor cuaca memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan kasus DBD.
Saat musim hujan, banyaknya genangan air, tumpukan sampah, dan wadah yang menampung air menjadi tempat ideal bagi jentik nyamuk berkembang biak.
Kondisi tersebut menyebabkan populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat dan memperbesar risiko penularan kepada masyarakat.
“Pada musim hujan, banyaknya wadah, sampah, dan genangan air membuat jentik mudah berkembang biak sehingga kasus DBD pasti akan meningkat,” beber Slamet Wahidin.
Hingga saat ini Kecamatan Toboali masih menjadi wilayah yang paling rawan terhadap kasus DBD di Bangka Selatan.
Sebagai kawasan perkotaan, Toboali memiliki tingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi dan masih ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Baca juga: Jadwal Semarak HUT ke-81 RI di Bangka Selatan, Berlangsung Hampir Sebulan, Inilah Rentetan Agendanya
Perilaku tersebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
Untuk menekan penyebaran DBD, DKPPKB mendorong seluruh desa dan kelurahan membentuk Kampung Bebas Jentik.
Program tersebut diharapkan mampu memberdayakan masyarakat melalui pembentukan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang secara berkala memeriksa keberadaan jentik di rumah warga.
Langkah tersebut dinilai efektif karena pengendalian dilakukan langsung dari lingkungan tempat tinggal masyarakat.
“Idealnya seluruh desa dan kelurahan menetapkan diri sebagai Kampung Bebas Jentik dengan memberdayakan kader Jumantik,” ungkapnya.
Slamet mengatakan kader Jumantik nantinya bertugas mendatangi rumah warga secara berkala untuk memantau keberadaan jentik nyamuk.
Semakin baik pengawasan terhadap jentik, semakin besar peluang menekan peningkatan kasus DBD di masyarakat.
Pengurangan populasi jentik akan berdampak langsung terhadap penurunan jumlah penderita DBD.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin menerapkan gerakan PSN DBD melalui 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air sedikitnya seminggu sekali, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan kembali atau mengubur barang bekas yang dapat menampung air hujan.
Baca juga: Inilah Syarat dan Nomor HP Air Bersih bagi Warga Terdampak Kemarau, Dijatah Gratis, Minimal 10 Rumah
Langkah tambahan dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa pada ventilasi, maupun menggunakan bubuk abate di tempat penampungan air apabila tidak memungkinkan untuk dikuras.
Pemerintah memastikan bubuk abate dapat diperoleh masyarakat melalui puskesmas sebagai bagian dari upaya pencegahan DBD.
“Kalau tidak mau menguras penampungan air, silakan minta bubuk abate di puskesmas dan taburkan di tempat-tempat penampungan air, baik di dalam rumah maupun pada air tadah hujan,” pungkas Slamet Wahidin.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)