TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -
"Laras Kawung: Ketika Limbah Berubah Menjadi Karya Artwear yang Menghidupkan Filosofi Batik Indonesia”
Oleh:
Stefani Kesya, mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan pelestarian budaya, inovasi menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan bangsa tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Berangkat dari semangat tersebut, Stefani Kesya, mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, menghadirkan Laras Kawung, sebuah karya artwear yang mengangkat filosofi Batik Kawung sebagai simbol harmoni, keseimbangan, dan pengendalian diri melalui pendekatan desain kontemporer berbasis keberlanjutan.
Karya ini dipresentasikan pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 08.00–12.00 WIB, di Studio Content Digital, Bandung Creative Hub, sebagai ruang untuk memperkenalkan bahwa limbah tidak selalu berakhir menjadi sampah, melainkan dapat memiliki kehidupan baru ketika dipadukan dengan kreativitas, nilai budaya, dan inovasi desain.
Mengusung gagasan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk tradisionalnya, tetapi juga melalui interpretasi yang sesuai dengan kebutuhan masa kini, Laras Kawung diwujudkan menggunakan berbagai material bekas, seperti kardus, botol plastik, bubble wrap, serta limbah nonorganik lainnya.
Material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah melalui proses eksplorasi bentuk, tekstur, dan komposisi visual hingga menjadi sebuah kostum artwear yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya pemanfaatan kembali limbah sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Nama Laras, yang berarti harmoni, dipadukan dengan Kawung, salah satu motif batik tertua di Indonesia yang sarat akan makna kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Perpaduan tersebut merepresentasikan hubungan yang selaras antara budaya, manusia, dan lingkungan.
Melalui karya ini, Stefani Kesya ingin menunjukkan bahwa identitas budaya Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar filosofinya, sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Di balik terwujudnya Laras Kawung, terdapat kolaborasi berbagai insan kreatif yang berperan dalam menerjemahkan gagasan menjadi sebuah karya visual yang utuh.
Dokumentasi visual dilakukan oleh Rizky Hanif Rahman dan Jodhi Exactana sebagai fotografer yang menangkap setiap detail artistik karya.
Proses pencahayaan didukung oleh Rully Riansyah selaku asisten lighting untuk membangun suasana visual yang selaras dengan konsep Laras Kawung, sementara penyuntingan akhir dikerjakan oleh Jodhi Exactana guna memperkuat kualitas estetika hasil dokumentasi.
Karakter Laras Kawung kemudian dihidupkan melalui penampilan Sri Rahayu sebagai model yang merepresentasikan filosofi harmoni dan kekuatan perempuan dalam balutan artwear berbasis daur ulang.
Kolaborasi lintas profesi tersebut menjadi bukti bahwa sebuah karya budaya tidak lahir dari kreativitas individu semata, melainkan dari sinergi berbagai bidang kreatif yang saling mendukung dalam menyampaikan pesan kepada publik.
Melalui Laras Kawung, Stefani Kesya berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin terdorong untuk mencintai budaya Indonesia, berani berinovasi, serta lebih bijaksana dalam memanfaatkan kembali material yang tersedia di sekitar mereka.
Karya ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan bukanlah dua hal yang berjalan sendiri, melainkan dapat dipadukan menjadi sebuah karya yang bernilai artistik, edukatif, sekaligus memberikan inspirasi bagi masa depan industri kreatif Indonesia.