184 Desa di Kabupaten Semarang Rawan Bencana, Sadewa Jadi Senjata BPBD Hadapi Ancaman
muslimah July 22, 2026 03:13 PM

184 Desa di Kabupaten Semarang Rawan Bencana, Sadewa Jadi Senjata BPBD Hadapi Ancaman

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Sebanyak 184 desa di Kabupaten Semarang masuk kategori rawan bencana.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan sekaligus mempercepat penanganan bencana, BPBD Kabupaten Semarang mengembangkan inovasi Sadewa (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana) berbasis kolaborasi pentahelix dan digitalisasi. 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan, Sadewa lahir karena penanganan bencana sebelumnya belum terintegrasi secara maksimal.

Padahal, Kabupaten Semarang memiliki ancaman bencana yang beragam, mulai dari tanah longsor, banjir, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan.

"Konsep inovasi Sadewa dirancang sebagai respons strategis terhadap tingginya kejadian bencana di Kabupaten Semarang. Intinya, adalah kolaborasi pentahelix dan digitalisasi agar seluruh pemangku kepentingan memiliki fokus dan bergerak cepat saat terjadi bencana," katanya.

Dengan banyaknya deaerah rawan bencana di Kabupaten Semarang, Alex menyebut, Sadewa mendorong budaya sadar bencana sebagai embrio ketahanan wilayah, khususnya di tingkat desa, sehingga masyarakat mampu beradaptasi dan mengurangi dampak buruk bencana. 

Hasilnya, pembentukan destana meningkat dari 24 Destana pada 2024 menjadi 116 destana pada 2026 yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK).

"Kami menargetkan seluruh desa rawan bencana secara bertahap menjadi Desa Tangguh Bencana," ujarnya.

Alexander menjelaskan, Sadewa menitikberatkan pada tiga poin yakni penguatan kelembagaan Destana, pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi lintas sektor.

Dalam aspek digitalisasi, ia menyebut, masyarakat dapat melaporkan kejadian bencana, memantau perkembangan penanganan secara real time, mengakses informasi cuaca, hingga melihat berbagai data kebencanaan yang telah diintegrasikan dalam sistem.

"Tujuannya mempercepat response time. Semua laporan bisa dipantau secara terbuka sehingga penanganan lebih cepat dan terukur," katanya.

Untuk memangkas waktu penanganan, BPBD Kabupaten Semarang juga menjalin kerja sama dengan BPBD daerah sekitar, seperti Boyolali, Temanggung, Kendal, dan Kota Salatiga.

Apabila lokasi bencana lebih dekat dengan wilayah tetangga, petugas dari daerah tersebut dapat bergerak lebih dahulu sebelum tim Kabupaten Semarang tiba.

"Kami mengutamakan penyelamatan. Yang penting masyarakat segera mendapat penanganan terlebih dahulu," ujarnya.

Selain teknologi, BPBD tetap mengandalkan kekuatan relawan. Saat ini, terdapat sekitar 50 komunitas relawan yang tergabung dalam Rumah Relawan BPBD Kabupaten Semarang dan siap siaga selama 24 jam.

Sebelum adanya Sadewa, koordinasi dilakukan melalui grup WhatsApp dan sistem siaga manual. Kini, seluruh proses perlahan dimigrasikan ke sistem digital agar data lebih akurat, koordinasi lebih cepat, dan perkembangan penanganan dapat dipantau secara terbuka.

BPBD juga menggandeng perguruan tinggi melalui program KKN Tematik Kebencanaan. Kurikulum KKN telah disusun dan disosialisasikan kepada LLDIKTI. Sejumlah kampus seperti UNNES, UNDIP, Universitas Ngudi Waluyo (UNW), dan Stikes Telogorejo telah melaksanakan program tersebut di Kabupaten Semarang.

Alexander berharap, Sadewa mampu membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat sekaligus mempercepat respons penanganan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi.

"Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi jika masyarakat siap, pemerintah berkolaborasi, dan seluruh informasi dapat diakses secara cepat dan akurat," tuturnya. (eyf)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.