Dorong Hilirisasi Kopi Menoreh, DPKP DIY Hibahkan 10 Motor Keliling ke Kelompok Tani di Kulon Progo
Hari Susmayanti July 22, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aroma khas seduhan kopi Perbukitan Menoreh kini tak lagi hanya memanjakan penciuman mereka yang rela menjelajahi ketinggian Kabupaten Kulon Progo.

Lewat deru mesin "Motor Kopi Darling" atau Dua Roda Keliling, kenikmatan kopi lokal tersebut kini "turun gunung", menyapa langsung para penikmatnya di berbagai sudut keramaian Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa menghilangkan jejak aslinya.

Inovasi jemput bola ini resmi bergulir pada Senin (20/7/2026). Bertempat di Ruang Wijaya Kusuma Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, hibah armada Motor Kopi Darling diserahkan kepada 10 kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) pilihan asal Kabupaten Kulon Progo.

Penyerahan ini dipimpin langsung oleh Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, dan disaksikan oleh perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo (Pariman dan Wijayanto), para koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Girimulyo dan Samigaluh, serta para petani penerima manfaat.

Melalui sarana yang modern dan mobile ini, Kopi Menoreh diharapkan memiliki daya saing tinggi yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Menariknya, inisiatif ini bukan sekadar urusan berdagang kopi. Program ini merupakan bagian dari Penyelenggaraan Keistimewaan DIY yang didukung penuh oleh Dana Keistimewaan Urusan Tata Ruang, tepatnya melalui Sub Kegiatan Pemanfaatan Ruang Satuan Ruang Strategis Perbukitan Menoreh.

Aris menjelaskan bahwa pendekatan berjualan menggunakan sepeda motor keliling ini menyimpan visi pelestarian ekologi yang mendalam.

"Dengan konsep kedai motor keliling ini, kita menghindari pembangunan kedai permanen yang berisiko merusak bentang alam atau mengalihfungsikan lahan di sana. Armada ini bisa berpindah menghubungkan titik wisata, sementara alam tetap lestari. Ketika biji kopi ini memberikan nilai tambah yang nyata, petani otomatis akan semakin terdorong merawat tanaman kopinya di lereng Menoreh," tutur Aris.

Mengingat besarnya nilai strategis program ini, proses penentuan penerima hibah tidak dilakukan sembarangan. Proses identifikasi dan verifikasi lapangan telah dilakukan sejak Februari 2026.

Fokusnya menyasar dua kantong utama penghasil kopi yang memiliki agroklimat ideal di perbukitan Menoreh, yakni Kapanewon Girimulyo dan Samigaluh.

Dari hasil asesmen ketat terkait potensi produksi, kemampuan pengolahan pascapanen, dan kekuatan kelembagaan, terpilih 10 kelompok yang berhak membawa pulang armada Kopi Darling.

Dari Kapanewon Girimulyo, armada diserahkan kepada Gapoktan Argo Makmur, Kelompok Tani (KT) Marsudi Karya, KT Sri Rahayu, dan KT Tegal Mulyo.

Baca juga: Cara Mahasiswa ISI Jogja Meruntuhkan Eksklusivitas Seni di Teras Malioboro

Sementara dari Kapanewon Samigaluh, motor keliling ini dipercayakan kepada KT Margo Mulyo, KT Ayem, Taruna Tani Astabrata, KT Sedyo Rukun, KT Mekar Tani, serta KT Ngunduh Pakaryan.

Aris mengingatkan agar motor-motor tersebut dirawat dan dikelola secara bertanggung jawab untuk jangka panjang.

Peningkatan nilai tambah, menurutnya, tidak boleh hanya berhenti di tahap panen budidaya.

"Bantuan ini jangan hanya dilihat sekadar sebagai wujud barang fisik, tetapi jadikanlah sebagai mesin penggerak untuk mengembangkan usaha, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperluas jaringan pemasaran," pesannya kepada para petani.

Setelah kunci diserahkan, pemerintah tidak lantas lepas tangan.

 Skema pendampingan lanjutan telah disiapkan, mulai dari manajemen kelompok, peningkatan mutu produk, hingga strategi branding.

Lantas, bagaimana strategi mereka bertahan di tengah menjamurnya coffee shop modern di DIY?

Aris menegaskan bahwa Kopi Darling memiliki arena bermainnya sendiri.

Armada ini sejak awal tidak di posisikan untuk bersaing berhadap-hadapan dengan kedai kopi modern, melainkan murni menawarkan cita rasa kopi asli yang diseduh langsung oleh petaninya.

Sasarannya adalah titik-titik keramaian berkala seperti Pasartani, Pasar Tumbaso JAP, berbagai event pariwisata dan kebudayaan, serta ruang-ruang publik terbuka.

Agar fasilitas ini tidak mangkrak di garasi atau beralih fungsi, DPKP DIY telah menetapkan tiga tolok ukur keberhasilan, yakni pemanfaatan aset yang aktif, kinerja pemasaran yang meningkat, dan keberhasilan motor ini masuk ke dalam ekosistem kelembagaan petani.

Para kelompok tani juga diwajibkan menyusun laporan rutin yang akan dipantau langsung oleh para penyuluh pertanian setempat.

Sinergi kuat antara Pemda DIY, Pemkab Kulon Progo, penyuluh, dan petani kini bertumpu pada putaran roda Kopi Darling.

Harapannya satu, biji-biji kopi dari perbukitan tak sekadar dijual mentah, melainkan diracik menjadi suguhan bernilai tinggi yang menyejahterakan petaninya, selaras dengan harmoni alam Menoreh yang menjaganya tetap tumbuh. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.