Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Anak inklusi dari Sekolah Growing Hope Bandar Lampung tampilkan karya desain busana dalam ajang Lampung Internasional Fashion Movements (Lifmove) di Hotel Radisson, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Heboh Bayi Laki-Laki Ditemukan di Gerobak Sate, Lengkap dengan Susu dan Popok
Anak-anak istimewa tersebut tanpa malu-malu tampil di hadapan desainer dalam negeri maupun luar negeri.
Menggunakan pakaian serba putih dan biru, anak-anak inklusi ini tampil memukau di lintasan catwalk.
Anak-anak inklusi tersebut yakni, Louis Atmadja, Nova Yulia Sari, Mutiara Nur Rizky Khairani.
Kemudian Rafif Irfan Ghalib, M Nabil Ardhana, M Aaz Fauzinullah dan Feldy Cris Natahadi.
Ketua Yayasan Harapan Masa Depan Lampung sekaligus Desainer GIH Fashion, Maria Novitawati, M.Psi, menjelaskan dirinya mengapresiasi atas keberanian bahwa anak didiknya tampil di ajang Limove 2026.
"GIH Fashion merupakan brand kami dan anak-anak difabel yang kami bimbing ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya seni berkelas internasional," kata Maria Novitawati saat diwawancarai Tribun Lampung, Rabu (22/7/2026).
Pihaknya mengungkapkan bahwa ajang ini diikuti oleh sekitar 30-an desainer ternama, mulai dari tingkat lokal, nasional, hingga desainer asal New York, Amerika Serikat.
"Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa inklusifitas itu sangat bisa kami wujudkan hari ini," kata Maria yang juga Pemilik Energi Positif (Enpos).
Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) bisa berdampingan dan bekerja sama.
Menurutnya panggung ini menjadi sebuah inclusion working space ruang kerja bersama antara masyarakat umum dan para difabel.
"Karya mereka tidak hanya layak diapresiasi, tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi. Ini adalah etalase kami, SLB Growing Hope, supaya Bandar Lampung, Lampung, Indonesia, bahkan internasional bisa melihat langsung karya-karya luar biasa mereka," terangnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pergelaran tersebut, GIH Fashion mengusung tema Timeless Casual.
"Kain batik buatan anak-anak SLB Growing Hope disulap menjadi pakaian jadi yang modis, anggun, serta cocok digunakan untuk kegiatan kasual maupun formal," kata Maria.
Menariknya, setiap helai kain katun dan linen yang dipamerkan menyimpan cerita mendalam dari para pembuatnya.
Batik colet karya Nabil, yang merupakan anak dengan kondisi autisme dan memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi secara verbal. mampu mengekspresikan perasaannya dengan sangat fokus dan konsisten.
Lalu, batik motif mobil karya Rafif mengangkat apa yang sangat ia sukai, Rafif menuangkan imajinasi dunianya tentang otomotif ke dalam lembaran kain batik yang unik.
Kemudian batik lukis karya Aas, yang merupakan anak dengan gangguan pendengaran, menunjukkan ketelitian luar biasa.
Garis demi garis dilukisnya dengan sangat rapi dan detail hingga tercipta kain batik lukis yang menawan.
"Mereka bercerita lewat coretan-coretan ini. Walaupun ada keterbatasan verbal atau pendengaran, saat memegang kain dan mewarnai, mereka sangat happy, fokus, dan bisa menunjukkan siapa diri mereka," bebernya.
Maria menekankan bahwa pengembangan brand GIH Fashion yang diambil dari singkatan Growing Hope bukan sekadar untuk konsumsi event busana semata.
"Goal utamanya adalah menciptakan dunia kerja yang inklusif dan berkelanjutan bagi para difabel," kata Maria.
Di masa depan, anak-anak ini diharapkan tidak hanya menjadi pembatik, tetapi juga bisa memeragakan busananya sendiri sebagai model, atau bahkan berkembang menjadi seorang desainer profesional.
"Kami ingin mereka punya pekerjaan tetap, punya penghasilan sendiri, dan bisa mandiri. Hasil karya mereka layak diterima setara dengan kita semua," jelasnya.
Melalui GIH Fashion, Maria mengajak seluruh masyarakat Bandar Lampung, Lampung, Indonesia, hingga dunia internasional untuk memberikan ruang belajar dan bekerja bagi para difabel.
"Mereka bisa, mereka punya kemampuan, mereka ada, dan mereka sama dengan kita. Harapan kami sesuai nama sekolah kami, Growing Hope, agar harapan ini terus bertumbuh," tutup Maria.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)