Kenakan Atribut Adat Papua saat Ujian, Mahasiswa Asal Nduga Angkat Bahasa Daerah ke Dunia Akademik
Rizali Posumah July 22, 2026 04:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Penampilan seorang mahasiswa asal Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, mencuri perhatian saat mengikuti ujian skripsi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Sulawesi Utara, pada Rabu (22/7/2026) pagi.

Mahasiswa tersebut adalah Yasenut Kogeya, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia.

Pada hari itu, ada dua mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi di Fakultas Ilmu Budaya Unsrat. 

Sesuai ketentuan fakultas, seluruh peserta ujian diwajibkan mengenakan pakaian adat sesuai daerah asal masing-masing.

UJIAN SKRIPSI - Penampilan Yasenut Kogeya, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia.654jio
UJIAN SKRIPSI - Penampilan Yasenut Kogeya, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia asal Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, mencuri perhatian saat mengikuti ujian skripsi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado pada Rabu (22/7/2026) pagi. Yasenut tampil mengenakan atribut khas Papua yang dipadukan dengan kemeja dan selempang Fakultas Ilmu Budaya Unsrat.

Yasenut tampil mengenakan atribut khas Papua yang dipadukan dengan kemeja dan selempang Fakultas Ilmu Budaya Unsrat.

Ia menggunakan ikat kepala berhias bulu, lukisan wajah bermotif tradisional, kalung etnik bertumpuk, hiasan daun di kedua lengan, serta ornamen berbahan serat alami di bagian depan tubuh.

Pria kelahiran Yuburumu, 21 April 2003 itu menjalani ujian dengan skripsi berjudul "Sintaksi Bahasa Indonesia dan Bahasa Dani: Suatu Analisis Kontrastif."

Usai ujian, Yasenut mengaku bersyukur dapat menyelesaikan salah satu tahapan akhir dalam perkuliahannya.

Ia mengatakan atribut adat yang dikenakannya merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya Papua.

"Budaya adalah identitas orang asli Papua. Walaupun saya tidak menggunakan seluruh perlengkapan adat, saya ingin menunjukkan identitas budaya kami dalam momen penting ini," ujarnya saat diwawancara di lokasi ujian.

Melalui penelitian tersebut, Yasenut juga ingin memperkenalkan sekaligus mendorong pelestarian Bahasa Nduga yang merupakan bagian dari rumpun Bahasa Dani.

Menurutnya, bahasa daerah adalah identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia menilai globalisasi membawa tantangan bagi keberlangsungan budaya Papua.

Mulai dari berkurangnya penggunaan pakaian adat, perubahan tradisi, hingga semakin jarangnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ia berharap upaya pelestarian budaya terus dilakukan melalui pendidikan, media, serta pelaksanaan tradisi adat.

Yasenut turut menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing, dosen penguji, keluarga, dan teman-temannya yang telah mendukungnya hingga menyelesaikan ujian skripsi.

Selama proses ujian berlangsung, sejumlah rekannya tampak menunggu di luar ruangan. 

Mereka memberikan semangat dan doa hingga Yasenut menyelesaikan ujian dengan lancar. (Pet)

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.