Kisah Gilang, Sarjana Difabel Berburu Rezeki di Pasar Ngasem Yogyakarta
Muhammad Fatoni July 22, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah ingar-bingar dan riuhnya aktivitas pagi di Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta, seorang pemuda tampak duduk bersandar di lantai depan sebuah lapak kosong.

Di hadapannya, tertata rapi sebuah plastik berukuran besar berisi puluhan bungkus kerupuk rambak yang siap ditawarkan kepada para pengunjung pasar.

Sekilas penampilannya pun tampak unik dan berbeda dengan pedagang asongan lain, karena papan barcode QRIS tergantung rapi melingkari lehernya.

​Pemuda itu adalah Gilang Rizki (29), pria difabel tunanetra asal Brebes, Jawa Tengah yang menyandang gelar Sarjana Sosial Program Studi Bimbingan Konseling (BK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2022.

​Namun, garis nasib berkata lain.

Gelar sarjana yang diraihnya dengan sungguh-sungguh rupanya belum cukup sakti untuk menjamin jalan mulus di dunia kerja formal. 

Diskriminasi Penyandang Disabilitas

Diskriminasi dan keterbatasan akses bagi penyandang disabilitas seakan jadi tembok tebal yang menghadang, hingga memilih untuk berjuang di jalanan.

​"Karena enggak dapat pekerjaan. Sekarang kan memang susah ya cari kerja, apalagi untuk difabel seperti saya, begitu," katanya, Rabu (22/7/2026).

​Gilang mengaku tidak terlalu menaruh harapan tinggi pada gelaran pasar kerja atau job fair yang rutin dilangsungkan pemerintah dan kerap diakses para pencari kerja. 

Ia sudah kenyang dengan penolakan dari rentetan perusahaan maupun pemberi kerja lainnya, yang kerap kali berujung pada alasan kondisi fisik.

​"Sebenarnya tentu pengin kerja di kantor. Tapi ya, ah, ya sudah lah. Mesti alasannya alasan fisik, alasan apa lah, begitu. Makanya saya milih dagang," ungkapnya.

Rintis Jualan Sejak Kuliah​

Tidak mau berpangku tangan, demi menyambung hidup, Gilang melanjutkan usaha berjualan yang sudah dirintisnya sejak duduk di bangku kuliah. 

Dulunya, ia menjajakan beraneka jenis makanan ringan secara keliling, mulai dari kawasan kampus, area Tugu Pal Putih, Taman Siswa, hingga SPBU ke SPBU.

​Akan tetapi, memasuki kisaran 2023, roda usahanya berputar lebih berat.

Penjualan kian sepi, sampai akhirnya Gilang berganti haluan menjual kerupuk rambak.

Ia pun berlabuh di kawasan sarat pelancong, di Pasar Ngasem, untuk menjual kuliner renyah kesukaannya yang dipasok langsung dari Solo, Jawa Tengah.

​"Pasar Ngasem kan ramai wisatawan. Rambak cocok buat oleh-oleh atau camilan. Paling tidak, per harinya, kalau pas ramai bisa dapat (omzet) Rp200 ribu," ujarnya.

Sehari-hari, untuk bertolak menuju pasar rakyat yang berlokasi di Kemantren Kraton itu, Gilang menumpang ojek online dari kediamannya di wilayah Glagah.

​Guna memudahkan pembeli yang kian jarang membawa uang tunai, ia pun beradaptasi dengan teknologi, dengan mengalungkan bercode QRIS di lehernya.

​"Kemarin ada beberapa pembeli yang nanyain QRIS. Ya sudah, langsung tak bikin. Daripada enggak jadi beli, eman-eman, kan sayang," selorohnya.

Baca juga: Tanpa Lelah Dobrak Stigma: Kisah Perjuangan Penyandang Disabilitas Berburu Lowongan Kerja 

Perjuangan Penuh Liku

Kendati demikian, meski berhasil meraup pundi-pundi tergolong lumayan, perjuangan Gilang menjajakan rambak seharga Rp7.000 per bungkus bukan tanpa lika-liku.

Berdagang secara asongan di area Pasar Ngasem nyatanya menyalahi aturan tata tertib.

Bagaimana tidak, aktivitas pedagang liar atau asongan dilarang keras di kawasan tersebut.

​Beberapa waktu lalu, langkah kaki Gilang sempat terhenti ketika dihampiri oleh petugas keamanan pasar yang memberikannya teguran secara lisan.

​"Tapi bukan tindakan represif. Aku sadar, yang namanya peraturan ya peraturan. Yang namanya (pedagang) liar-liar itu emang perlu dibersihkan, di mana pun tempatnya," ungkapnya.

​Dikisahkan, saat diingatkan petugas dengan bahasa yang santun, Gilang hanya dapat mengangguk pasrah dan tidak memberikan argumen balasan apapun.

Namun, desakan kebutuhan hidup yang kian mencekik di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, memasaknya untuk mengambil keputusan nekat.

​"Aku paham banget. Cuma, ya gimana ya? Istilahnya nekat lah. Maksudku, aku juga butuh biaya dan butuh solusi (dari pemerintah daerah)," tuturnya.

​Bagi Gilang, Pasar Ngasem menjadi secercah harapannya untuk bisa bertahan hidup di Kota Yogyakarta yang sarat dinamika bagi pedagang difabel sepertinya.

Bukan tanpa alasan, jika memilih mundur selaras imbauan petugas pasar, dirinya pun mengaku kebingungan harus mengupayakan sesuap nasi ke mana lagi.

​"Ekonomi kan lagi enggak baik-baik saja. Aku mikir, kalau enggak ke sini, padahal ramainya di sini, nanti bagaimana? Ya sudah lah, nekat dulu saja," paparnya.

Simpan Harapan

​Saat ini, Gilang untuk sementara bisa menempati sudut lapak kosong milik pedagang resmi di Pasar Ngasem yang kebetulan sedang libur berjualan. 

Alhasil, kepastian hari esok apakah dirinya bisa kembali mengasong di tempat yang sama, masih menjadi tanda tanya besar yang siap disongsongnya.

​"Sementara bisa jualan di sini karena pedagangnya libur. Nanti kalau enggak libur, ya enggak tahu lagi. Wis pokoknya datang dulu, enggak tahu nanti bagaimana," kelakarnya.

Kini, di balik peluh dan deretan bungkus kerupuk rambak yang ditawarkannya kepada wisatawan setiap pagi, Gilang pun menyimpan harapan sederhana. 

Ia berharap terciptanya kesetaraan kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas di Indonesia, bukan sekadar wacana manis di atas kertas.

​"Harapannya ada peluang (kerja) lebih besar buat difabel. Tapi, selagi belum ada, yang penting coba terus dan jalan dulu sekarang," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.