TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) menggelar The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 di Hotel Tentrem, Yogyakarta, pada Rabu-Jumat 22-24 Juli 2026.
Konferensi yang digelar tiga tahunan itu mempertemukan pelaku industri kakao dari dalam dan luar negeri untuk membahas perkembangan industri, keberlanjutan, hingga tantangan perdagangan global.
Penyelenggaraan IICC tahun ini berlangsung di tengah tren peningkatan industri pengolahan kakao nasional.
Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan (grinding) kakao Indonesia mencapai 110.410 ton atau naik 30,1 persen dibanding kuartal pertama yang tercatat 84.844 ton.
Produksi olahan kakao juga meningkat 8,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan kapasitas industri pengolahan yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk memperkuat posisi di pasar global.
Saat ini Indonesia menyumbang sekitar 49 persen dari total volume industri pengolahan kakao di kawasan Asia.
Ketua Umum DPP ASKINDO, Jeffrey Haribowo, menilai peningkatan volume pengolahan tersebut menunjukkan ketahanan sekaligus potensi industri kakao nasional di tengah dinamika pasar global.
Menurutnya, perkembangan industri perlu diiringi dengan peningkatan kesejahteraan petani kakao.
"Peningkatan volume pengolahan pada kuartal ini merupakan sinyal kuat bahwa kakao Indonesia memiliki daya tawar yang tinggi di pasar global," ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Pasar Ngasem Ramai Diserbu Pedagang Asongan, Pemkot Yogyakarta Tawarkan Alternatif Solusi
Melalui IICC 2026, ASKINDO ingin memastikan kebangkitan industri ini berjalan selaras dengan kesejahteraan petani.
"Untuk itu, kami siap memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berharap konferensi ini dapat menghasilkan rekomendasi untuk mendukung kebijakan yang konstruktif bagi sektor kakao dari hulu hingga hilir," katanya.
Ia menegaskan akan terus berfokus pada kolaborasi, peningkatan produktivitas, serta adopsi standar mutu internasional agar produk kakao kita benar-benar menjadi ‘Mutiara Asia’ yang diakui dunia.
Selama tiga hari pelaksanaan, konferensi membahas sejumlah isu strategis, mulai dari teknologi budidaya kakao berkelanjutan, strategi menghadapi regulasi perdagangan internasional, hingga pengembangan produk olahan bernilai tambah.
Sebanyak sekitar 250 peserta mengikuti konferensi ini dengan melibatkan delegasi dari 15 negara, di antaranya Amerika Serikat, Belgia, India, Pantai Gading, Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, Filipina, Taiwan, Prancis, Belanda, Pakistan, dan Inggris.
Sejumlah organisasi internasional yang bergerak di sektor kakao juga turut hadir, antara lain European Cocoa Association, Cocoa Association of Asia, Malaysia Cocoa Board, Philippines Cocoa Association, Swiss Platform for Sustainable Cocoa, UNDP, serta lembaga penelitian pertanian Prancis CIRAD (Centre de Coopération Internationale en Recherche Agronomique pour le Développement).
Kehadiran mereka diharapkan menjadi wadah pertukaran pengalaman dan penguatan kerja sama dalam pengembangan industri kakao yang berkelanjutan. (*)