Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berfokus membangun ketahanan masyarakat agar tidak mudah terpapar paham radikal di tengah perubahan lanskap ancaman terorisme.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan perubahan lanskap ancaman mendorong pendekatan penanggulangan terorisme terus beradaptasi.
"Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada pencegahan aksi teror, kini upaya membangun ketahanan menjadi sama pentingnya," ucap Eddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, anak-anak dan remaja Indonesia kini tumbuh di tengah dunia yang nyaris tanpa batas. Dalam hitungan detik, beragam informasi dapat diakses melalui telepon genggam.
Namun di balik kemudahan tersebut, kata dia, terselip ancaman yang tidak selalu terlihat. Propaganda ekstremisme berbasis kekerasan, ujaran kebencian hingga ajakan untuk bergabung dengan kelompok radikal kini lebih banyak beredar melalui ruang digital dibandingkan ruang fisik.
"Di tengah perkembangan teknologi digital bentuk ancaman terus berubah yang semakin adaptif dan persisten," ungkapnya.
Di usia yang ke-16, BNPT menegaskan arah tersebut melalui tema "Kolaborasi Jaga Indonesia". Tema itu menggambarkan bahwa menjaga Indonesia dari ancaman radikalisme dan terorisme bukan hanya menjadi tugas aparat negara, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Selama lebih dari satu dekade, Eddy menyampaikan BNPT mengembangkan strategi pencegahan yang melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, media hingga komunitas.
Dia menyebut pendekatan kolaboratif tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti Sekolah Damai, Kampus Kebangsaan, Desa Siapsiaga, penguatan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) serta pembentukan Satuan Tugas Kontra Radikalisasi lintas sektor.
Dikatakan bahwa penanggulangan terorisme memerlukan sinergi dan kolaborasi yang menganut prinsip whole of government and society approach, yaitu pendekatan menyeluruh yang melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat dalam mendukung Astacita Presiden Prabowo Subianto yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2025-2029.
Ia mengungkapkan fokus pendekatan tidak hanya mencegah penyebaran paham radikal, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih tangguh melalui peningkatan literasi digital, penguatan wawasan kebangsaan, dan pemberdayaan sosial ekonomi.
Eddy mencontohkan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat misalnya, Desa Siapsiaga mengembangkan budi daya ikan lele dengan sistem bioflok.
Ia mengatakan program tersebut membuka peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat kohesi sosial melalui kegiatan ekonomi yang produktif.
"Ketahanan ekonomi yang semakin baik diharapkan mampu memperkecil ruang tumbuhnya pengaruh kelompok radikal yang kerap memanfaatkan kerentanan sosial masyarakat," ucap Eddy.
Pendekatan serupa, lanjut dia, juga diterapkan di Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Berkolaborasi dengan PLN Indonesia Power dan pemerintah daerah, BNPT membangun lokakarya produksi paving block berbahan limbah Abu Terbang dan Abu Dasar (FABA).
Selain menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah limbah industri, Eddy menilai program tersebut menjadi contoh bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan terhadap pengaruh ekstremisme.
Dia berpendapat pengalaman di berbagai daerah menunjukkan pencegahan terorisme tidak hanya berbicara tentang aspek keamanan. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan, ruang partisipasi, dan kehidupan sosial yang sehat, daya tahan terhadap infiltrasi paham radikal pun menjadi lebih kuat.
Di saat yang sama, lanjutnya, ruang digital menjadi medan baru yang membutuhkan perhatian serius. Media sosial telah menjadi sarana utama penyebaran propaganda dan disinformasi oleh kelompok ekstrem.
Oleh karena itu, dia menegaskan kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menggunakan media digital secara bijak menjadi bagian penting dari sistem pertahanan bangsa.
Eddy menyebut 16 tahun perjalanan BNPT memperlihatkan bahwa penanggulangan terorisme terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Dari pendekatan yang berorientasi pada penegakan hukum, kini semakin diperkuat melalui kolaborasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada akhirnya, kata dia, menjaga Indonesia bukan hanya soal mencegah terjadinya aksi teror, melainkan juga memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan untuk hidup aman, sejahtera serta terlindungi dari pengaruh ideologi kekerasan.
Hal itu merupakan makna yang ingin ditegaskan BNPT pada usia ke-16, yakni kolaborasi sebagai fondasi utama untuk menjaga Indonesia hari ini dan di masa depan.
"Melalui semangat kolaborasi jaga Indonesia, mari perkuat sinergi antarlembaga dunia pendidikan, tokoh agama, media, dunia usaha, komunitas, serta seluruh masyarakat," kata Eddy.





