Mitigasi Dampak Super Elnino
Hari Widodo July 23, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- DAMPAK musim kemarau membuat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan selama sepekan terakhir semakin meningkat. Titik api, bermunculan hampir di seluruh kabupaten/kota.

Dampak susulan berupa kabut asap pun kian terasa. Bahkan, di Banjarbaru kabut asap membuat jarak pandang di Bandara Internasional Syamsudin Noor terbatas. Jadwal enam penerbangan di bandara setempat juga sempat delay karenanya.

Kabut asap yang kini semakin terasa bakal membuat kesehatan masyarakat menurun. Karena, di tengah memburuknya kualitas udara kasus Infeksi Saluran Pernapasan akut (ISPA) biasa juga meningkat.

Kerugian akibat kabut asap imbas dari karhutla sangatlah besar. Belum lagi, dampak ekonomi yang ditimbulkannya. Karena itu, pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk mengatasinya.

Saat ini, Helikopter Waterboombing pun mulai dikerahkan untuk mengatasi kebakaran lahan di daerah yang sulit dijangkau. Hujan buatan, atau yang secara ilmiah disebut Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), sebuah metode intervensi manusia pada cuaca untuk memanipulasi curah hujan juga dilakukan untuk meminimalkan karhutla.

Namun, sejauh ini karhutla masih terjadi. Kabut asap pun semakin terasa menyesakkan pernafasan saat pagi hari. Kejadian kebakaran lahan, seperti sekarang ini seolah menjadi cerita rutin yang selalu berulang setiap tahun.

Hanya saja, tahun ini ada fenomena Super El Nino atau Kemarau Godzilla membuat musim kemarau akan sangat panjang dengan suhu udara yang lebih panas sehingga memicu kekeringan ekstrem.

Kondisi inilah yang membuat ancaman karhutla yang berdampak kabut asap bisa jadi lebih parah terjadi. Ancaman kekeringan, juga menghantui sektor pertanian. Gagal panen, akibat kekeringan di hadapan mata.

Kini kesiapan pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana kabut asap maupun kekeringan ekstrem dampak Super Elnino dinantikan masyarakat. Pengalaman bencana kabut asap dan kekeringan akibat kemarau panjang yang pernah terjadi tahun 1997-1998, 2015 dan 2019 diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga untuk melakukan mitigasi bencana.

Jangan sampai, pemerintah gagap menghadapi bencana yang sudah terjadi rutin. Apalagi, fenomena Super Elnino sudah diprediksi terjadi jauh sebelumnya.

Berbagai langkah strategis, sudah harus dilakukan untuk mencegah kerugian besar yang bisa terjadi. Tanpa kemampuan untuk melakukan mitigasi bencana, dampak Super Elnino bisa menyebabkan kerugian yang besar. Bahkan, swasembada pangan yang telah dicapai bisa sirna dalam sekejap karena padi petani gagal panen akibat kekeringan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.