Berbagai peristiwa krusial dan menarik perhatian publik mewarnai Kota Padang. Mulai dari keresahan warga Kelurahan Rimbo Kaluang akibat krisis air bersih PDAM yang keruh, hingga aksi nekat perampokan modus pecah kaca mobil di siang bolong yang menggasak uang jutaan rupiah.
Tak hanya itu, warga juga digegerkan oleh penemuan jasad seorang lansia di rumahnya usai tercium bau menyengat, serta gejolak aksi massa yang menggeruduk kantor Kejati Sumbar guna menuntut pencopotan Kajati.
1. Keluhan Pelanggan PDAM di Padang: Tagihan Wajib Tepat Waktu, tapi Air Keruh dan Sering Mati
Aliran air keruh berwarna kecokelatan dan distribusi yang sering terputus menjadi makanan sehari-hari warga Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.
Gangguan jaringan distribusi air daerah ini telah berlangsung beberapa bulan lalu.
Pasokan air bersih yang tak kunjung normal sejak musibah banjir bandang meluluhlantakkan sebagian infrastruktur Kota Padang pada akhir tahun lalu membuat warga terpaksa memutar otak dan mengeluarkan biaya ekstra guna memenuhi kebutuhan dasar harian mereka.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar Hari Ini: Padang, Mentawai hingga Agam Berpotensi Diguyur Hujan Lebat
Syahrul, seorang warga Rimbo Kaluang, menuturkan bahwa aliran air bersih ke rumahnya tidak pernah menentu setiap harinya.
Saat ditemui pada Rabu (22/7/2026), ia menyebutkan bahwa debit air sering kali menyusut drastis, bahkan mati total selama berjam-jam.
"Kadang dalam sehari air baru mau mengalir saat sore atau malam hari. Itu pun airnya berwarna keruh kecokelatan," kata Syahrul saat memberikan keterangan.
Kondisi air yang tidak jernih itu membuat ia dan keluarganya ragu untuk memanfaatkannya langsung.
Baca juga: Jadwal Wako Fadly Amran Hari Ini, Audiensi dengan SETARA Institute hingga Hadiri AICCON 2026
Air yang keluar dari keran terbilang berisiko jika dipakai untuk mandi, apalagi dikonsumsi sebagai air minum.
Untuk mensiasati hal tersebut, Syahrul terpaksa memasang alat penyaring tambahan pada pipa kerannya.
Langkah ini diambil sebagai pertahanan terakhir agar air yang keruh tersebut setidaknya bisa tersaring dari endapan lumpur sebelum digunakan.
Syahrul menjelaskan, gangguan pada jaringan distribusi air ini sejatinya telah berlangsung lama. Ia dan warga sekitar mulai merasakan penurunan kualitas dan kuantitas pasokan air sejak banjir bandang menghantam kota tersebut pada akhir tahun lalu.
Ia menumpahkan kekecewaannya lantaran kewajiban pelanggan untuk membayar tagihan bulanan tidak sebanding dengan kualitas layanan yang diterima.
Menurutnya, tagihan rekening air selalu datang tepat waktu dan wajib dibayar tanpa penundaan.
"Kami untuk pembayaran PDAM wajib tepat waktu. Namun, air yang kami terima sekarang justru keruh dan sering mati," tutur Syahrul membandingkan antara kewajiban pelanggan dan hak pelayanan.
Keadaan dinilai paling parah ketika air benar-benar berhenti mengalir sama sekali. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan paling vital dalam menopang aktivitas seluruh anggota keluarga harian.
Senada dengan Syahrul, warga Rimbo Kaluang lainnya, Syamsidar, juga membeberkan kepasrahannya menghadapi kendala kelancaran air PDAM yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan permanen.
Syamsidar menceritakan bahwa saat aliran air mati total, ia tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu pasokan kembali mengalir. Untuk kebutuhan konsumsi, ia terpaksa mengandalkan pembelian air isi ulang kemasan galon.
"Jika air PDAM mati, saya terpaksa menunggu sambil memanfaatkan air galon untuk minum dan masak," ujar Syamsidar saat ditemui terpisah.
Ketika air mulai mengalir kembali, rasa lega warga tidak bertahan lama. Syamsidar mengaku masih dihinggapi rasa cemas lantaran air yang keluar kerap kali berwarna cokelat pekat.
Proses penyaringan berlapis menjadi prosedur wajib sebelum air tersebut dimanfaatkan.
Warna air yang tampak kotor menimbulkan ketakutan tersendiri akan dampak kesehatan jangka panjang bagi anggota keluarganya.
Baca juga: Bukan Uang, Warga Kuranji Padang Tuntut Pasokan Air Bersih Berkelanjutan Usai 8 Bulan Kekeringan
Masyarakat Rimbo Kaluang sangat berharap pihak pengelola PDAM dan Pemerintah Kota Padang segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan pembenahan infrastruktur air bersih ini.
Warga merindukan aliran air yang kembali jernih, mengalir lancar, dan aman untuk dikonsumsi.
Harapan tersebut ditegaskan warga mengingat kepatuhan mereka dalam memenuhi kewajiban bulanan.
Kepatuhan membayar tagihan secara tepat waktu tanpa pernah menunggak dinilai layak dibalas dengan jaminan penyediaan air bersih yang layak.(*)
2. Perampokan Pecah Kaca Mobil Siang Bolong di Padang, Pelaku Gasak Rp8 Juta
Aksi perampokan terjadi di depan sebuah tempat usaha di Jalan Abdul Muis, Kelurahan Jati Baru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (22/7/2026) siang.
Pelaku diduga berjumlah dua orang. Mereka memecahkan kaca sebuah mobil yang sedang terparkir sebelum membawa kabur uang setoran sekitar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta.
Pantauan TribunPadang.com di lokasi, peristiwa itu terjadi di depan Mec Laundry. Mobil Honda Freed milik korban menjadi sasaran pelaku.
Salah seorang saksi, Sofiar (42), mengatakan korban memang rutin memarkirkan kendaraannya di lokasi tersebut setiap hari.
Menurutnya, korban baru saja mengambil uang setoran dari SJS Mart sebelum aksi perampokan terjadi.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Kamis 23 Juli 2026: Dominan Cerah Berawan, Hujan Ringan Siang-Sore
"Awalnya mobil diparkir dulu. Memang setiap hari dia parkir di sini. Tiba-tiba datang pelaku dari arah kiri, langsung memecahkan kaca mobil dan mengambil tas yang berisi uang sekitar Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," ujar Sofiar saat ditemui TribunPadang.com, Rabu (22/7/2026).
Sofiar mengatakan uang tersebut merupakan hasil setoran yang sebelumnya dijemput korban dari sejumlah gerai SJS Mart.
"Itu uang setoran yang dijemput korban dari SJS Mart. Memang setiap hari sekitar jam 10 dia mengambil uang dari sana," katanya.
Saat kejadian, istri korban berada di dalam mobil. Namun aksi pelaku berlangsung sangat cepat sehingga uang berhasil dibawa kabur.
"Di dalam mobil ada istri korban. Kejadiannya cepat sekali. Saat korban keluar dari mobil, pelaku langsung memecahkan kaca lalu mengambil uang itu," jelasnya.
Baca juga: Gelar Latihan di Pantai Carolina, Kantor SAR Padang Pastikan Personel Siap Diterjunkan Kapan Pun
Ia menuturkan pelaku diduga berjumlah dua orang. Satu orang bertugas memecahkan kaca dan mengambil uang, sementara seorang lainnya menunggu di atas sepeda motor.
"Pelakunya dua orang. Satu berjalan, satu lagi menunggu di atas motor. Setelah mengambil uang, mereka kabur ke arah Pasar Alai," ucap Sofiar.
Meski lokasi kejadian berada di kawasan yang ramai, pelaku tetap nekat menjalankan aksinya.
"Kondisi di sini ramai. Korban memang setiap hari datang mengambil uang dari seluruh cabang SJS. Mungkin dia manajernya," katanya.
Pantauan TribunPadang.com, mobil Honda Freed milik korban telah diamankan di Mapolresta Padang untuk kepentingan penyelidikan. Kaca depan kendaraan tampak pecah akibat aksi pelaku.
Baca juga: Kronologi Api Mengamuk di Pasar Kayu Tanam Padang Pariaman, 15 Kios Ludes Terbakar
Korban juga telah berada di Mapolresta Padang. Namun, saat hendak dimintai keterangan oleh TribunPadang.com, korban memilih tidak memberikan komentar terkait peristiwa yang dialaminya.
3. Warga Curiga karena Bau Menyengat, Lansia Meninggal Membusuk di Padang
Warga Komplek Cendana, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, digegerkan dengan penemuan seorang wanita lanjut usia yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi membusuk di dalam rumahnya, Rabu (22/7/2026).
Korban diketahui berinisial E (71). Penemuan jasad tersebut bermula dari kecurigaan warga yang selama beberapa hari terakhir mencium aroma tidak sedap dari arah rumah korban.
Kasar Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin mengatakan bahwa korban diketahui tinggal seorang diri di rumah tersebut.
"Beberapa tetangga mulai merasa ada yang tidak biasa karena selain mencium bau menyengat, korban juga sudah beberapa hari tidak terlihat beraktivitas seperti biasanya," katanya.
"Kondisi tersebut kemudian dilaporkan kepada Ketua RT setempat. Bersama sejumlah warga, Ketua RT mendatangi rumah korban untuk memastikan kondisinya," tambahnya.
Baca juga: Massa Demo Kejati Sumbar Soroti Dugaan Penjemputan Paksa FR, Minta Kasus Tak Terulang
Saat tiba di lokasi, rumah diketahui dalam keadaan terkunci dari dalam sehingga warga tidak dapat masuk.
Karena rasa penasaran semakin besar, warga akhirnya mencoba mengintip melalui jendela rumah. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat korban sudah terbujur kaku di atas tempat tidur.
Warga kemudian menghubungi Polsek Padang Selatan dan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Padang untuk meminta penanganan lebih lanjut.
Tidak lama berselang, personel Satreskrim Polresta Padang bersama anggota Polsek Padang Selatan dan Tim Identifikasi (Inafis) mendatangi lokasi kejadian.
"Petugas langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan keterangan saksi, serta mengevakuasi jenazah korban dari dalam rumah," kata Yasin.
Baca juga: Massa Geruduk Kejati Sumbar, Minta Kajati Dicopot Usai Dugaan Penjemputan Paksa Peserta Aksi
Yasin juga mengatakan, hasil pemeriksaan awal Tim Inafis menunjukkan korban diperkirakan telah meninggal dunia lebih dari tiga hari sebelum akhirnya ditemukan.
"Kondisi jenazah saat ditemukan diperkirakan sudah meninggal dunia lebih dari tiga hari, sehingga sudah mengalami pembusukan alami. Dari pemeriksaan luar sementara oleh tim Inafis, kami belum menemukan tanda-tanda kekerasan fisik yang menonjol, namun penyelidikan mendalam tetap dilakukan," ujarnya.
Meski demikian, polisi belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban. Untuk memastikan hal tersebut, jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang guna menjalani visum et repertum.
Selain melakukan pemeriksaan terhadap jasad korban, penyidik juga meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk tetangga terdekat dan pihak keluarga, guna mengetahui aktivitas terakhir korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
Baca juga: Perampok Gasak Uang Setoran Rp 8 Juta di Padang, Diduga Sudah Intai Korban Sejak Awal
Yasin juga menegaskan, hingga saat ini penyelidikan masih terus berlangsung. Polisi mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya ataupun berspekulasi mengenai penyebab kematian korban.
Pihak kepolisian meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan medis dari Rumah Sakit Bhayangkara Padang yang nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab kematian korban. (*)
4. Massa Geruduk Kejati Sumbar, Minta Kajati Dicopot Usai Dugaan Penjemputan Paksa Peserta Aksi
Puluhan peserta aksi dari Gerakan Masyarakat Muda Sumatera Barat meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumbar dicopot dari jabatannya.
Pernyataan ini disampaikan oleh peserta aksi yang berlangsung di depan Kantor Kejati Sumbar, Jalan Raden Saleh No. 4, Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Rabu (22/7/2026)
Koordinator Aksi, Muhammad Rifadli, mengatakan bahwa demonstrasi yang berlangsung buntut dari pengawalan dugaan kasus penjemputan paksa salah satu peserta aksi berinisial FR.
Dugaan itu terjadi beberapa waktu lalu, usai aksi sebelumnya berlangsung di Kejari Padang dan Kejati Sumbar.
Pemicu dugaan penjemputan paksa beberapa waktu lalu, dipicu oleh dugaan perusakan pagar di Kejati Sumbar oleh peserta demonstrasi.
Baca juga: Perampok Gasak Uang Setoran Rp 8 Juta di Padang, Diduga Sudah Intai Korban Sejak Awal
Untuk itu Rifadli menganggap Kajati Sumbar sangat arogan atas dugaan penjemputan paksa tersebut.
"Tuntutan kita, fokusnya terhadap penjemputan paksa, intimidasi. Kami menilai Kajati Sumbar arogan," ucapnya saat dikonfirmasi.
Pihaknya juga menilai Kajati Sumbar saat ini sebagai sejarah terburuk di Sumatera Barat atas dugaan penjemputan paksa tersebut.
Dalam tuntutan massa tersebut, Kajati Sumbar menurut Rifadli harus dicopot dari jabatan yang diembannya saat ini.
"Karena menurut kami, ini adalah hal yang berkaitan di luar wewenangnya. Kejadiannya juga hari Minggu, sampai larut malam, baru peserta aksi ini dikembalikan ke rumahnya," tegasnya.
Baca juga: Perampokan Pecah Kaca Mobil Siang Bolong di Padang, Pelaku Gasak Rp8 Juta
Puluhan peserta aksi dari Gerakan Masyarakat Muda Sumatera Barat menggeruduk Kantor Kejati Sumbar, Rabu (22/7/2026) siang.
Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 14.37 WIB, massa tampak sudah ramai di depan gerbang Kantor Kejati Sumbar.
Di depan gerbang, puluhan personel kepolisian juga berjaga di lokasi. Sebagian personel tampak menemui massa di luar gerbang, sisanya di bagian dalam.
Massa tampak membentangkan spanduk bertuliskan Gerakan Masyarakat Muda dan membawa bendera Indonesia.
Di gerbang pintu masuk, beberapa poster tampak sudah dipasang. Poster tersebut berbunyi: Kajati Terburuk Sepanjang Sejarah Sumbar.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Kamis 23 Juli 2026: Dominan Cerah Berawan, Hujan Ringan Siang-Sore
Tak hanya itu, poster tersebut juga berbunyi: Copot dan Tendang, Sumbar tidak butuh Kajati arogan, peng intimidasi dan penculik.
Orator saat berorasi meminta Kajati Sumbar menemui mereka, namun dalam aksi tersebut pihak tang didemo tidak hadir.
Dia juga meminta pihak Kajati tidak bersikap arogan dan melakukan penculikan terhadap saah satu peserta aksi berinisial FR.
Aksi sempat memanas saat terjadi perdebatan dengan para personel kepolisian. Massa sempat membakar ban di tengah jalan.
Akan tetapi, api langsung dipadamkan dengan cepat oleh pihak kepolisian. Salah satu personel menyebut bahwa pembakaran ban bekas tidak diperbolehkan, lantaran menganggu pengguna jalan.
Api tampak dipadamkan dengan APAR. Seusai pembakaran tersebut, massa tampak membubarkan diri sekira pukul 14.53 WIB. (*)