BANJARMASINPOST.CO.ID- Psikiater Konsultan Psikiatri Adiksi RSJ Sambang Lihum, dr Firdaus Yamani, Sp.KJ., Subsp.Ad(K), mengatakan paparan gadget berlebihan pada anak usia dini dapat memunculkan gejala yang menyerupai autisme.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme yang merupakan gangguan perkembangan saraf sejak dini.
Menurutnya, istilah virtual autism memang bukan istilah baku dalam ilmu psikiatri. Meski demikian, istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan anak yang mengalami gangguan perkembangan akibat paparan gadget secara berlebihan.
“Virtual autism bukan istilah yang baku di ilmu psikiatri. Namun memang anak yang kecanduan gadget bisa menunjukkan gejala yang mirip dengan autisme, walaupun keduanya berbeda,” ujarnya.
Baca juga: Gawai Pengaruhi Prilaku Anak, Madrasah di Banjarmasin Ini Larang Anak Bawa Handphone ke Sekolah
Menurut Firdaus, perbedaan paling mendasar dapat dilihat dari waktu munculnya gejala. Pada anak dengan ASD, tanda-tanda gangguan perkembangan umumnya sudah tampak sebelum usia dua tahun.
Sementara gejala pada anak yang mengalami virtual autism biasanya muncul setelah usia tersebut, seiring tingginya paparan gadget.
Gejalanya pun hampir serupa, seperti keterlambatan berbicara, kesulitan berinteraksi sosial, lebih senang menyendiri, hingga mudah mengalami tantrum. Namun tingkat keparahannya cenderung lebih ringan dibanding ASD.
“Pada virtual autism, kemajuannya biasanya lebih cepat setelah dilakukan terapi meski tanpa obat. Sedangkan ASD perlu penanganan lebih kompleks,” katanya.
Firdaus mengungkapkan, di RSJ Sambang Lihum hanya sekitar tiga hingga empat pasien anak yang rutin menjalani kontrol akibat gangguan kecanduan gadget.
Padahal, menurutnya, jumlah kasus sebenarnya jauh lebih banyak. “Kasusnya jauh lebih banyak, tetapi biasanya anak baru dibawa berobat ketika kondisinya sudah cukup berat,” jelasnya.
Ia menambahkan, semakin dini seorang anak diperkenalkan dengan gadget, maka risiko gangguan perkembangan juga semakin besar. Pasalnya, otak anak masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga lebih rentan terhadap berbagai stimulasi yang berlebihan dibandingkan remaja maupun orang dewasa.
Selain durasi penggunaan gadget, pola asuh orangtua juga menjadi faktor yang sangat menentukan.
Firdaus menyebut terdapat tiga pola asuh yang berisiko membuat anak mencari pelarian ke gadget, yakni pola asuh otoriter, permisif, dan pola asuh yang mengabaikan anak.
Sebaliknya, pola asuh otoritatif atau seimbang dinilai menjadi pendekatan terbaik karena memadukan kasih sayang dengan aturan yang jelas.
Baca juga: Dongeng Dapat Cegah Bullying dan Hindari Gawai
Sebagai panduan, Firdaus menyarankan orang tua menerapkan aturan 3-6-9-12 dalam penggunaan gadget.
Anak usia nol hingga tiga tahun sebaiknya tidak diberikan gadget sama sekali. Pada usia tiga hingga enam tahun, penggunaan maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua.
"Usia enam hingga sembilan tahun maksimal dua jam, sedangkan usia sembilan hingga 12 tahun maksimal tiga jam dengan pengawasan terhadap konten yang diakses,"pungkasnya.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)