Hotel-hotel di berbagai kota penyelenggara di Amerika Serikat mengakhiri gelaran Piala Dunia FIFA 2026 dengan pencapaian yang sangat memuaskan. Secuan apa mereka?
Pertumbuhan RevPAR (Revenue Per Available Room) atau pendapatan per kamar yang tersedia di pasar-pasar ini terbukti melonjak drastis, bahkan melampaui berbagai proyeksi awal yang sempat dibuat oleh CoStar, perusahaan penyedia data, informasi, riset, dan media asal Amerika Serikat yang memfokuskan bisnisnya pada pasar properti dan real estat.
Sebelumnya, CoStar sempat memprediksi bahwa pertumbuhan RevPAR di wilayah tuan rumah AS akan berada di angka 13% selama kompetisi berlangsung. Namun, realita di lapangan pada periode 11 hingga 27 Juni menunjukkan hasil yang jauh lebih tinggi. Peningkatan RevPAR di kota-kota tersebut secara rata-rata berhasil menembus angka di atas 20%, seperti dikutip dari Kamis (23/7/2026).
Tren positif ini terus berlanjut saat turnamen memasuki fase gugur pada rentang 28 Juni hingga 4 Juli.
Pada pekan tersebut, lonjakan RevPAR di kota-kota tuan rumah mencapai 23%, meskipun jumlah laga yang digelar sebenarnya lebih sedikit. Philadelphia menjadi salah satu lokasi yang paling bersinar dengan lonjakan RevPAR hingga 112% pada laga tanggal 4 Juli. Sementara itu, Kansas City mencatatkan kenaikan RevPAR sebesar 180% pada pertandingan tanggal 3 Juli, diiringi kenaikan harga kamar yang menyentuh 90%.
Pencapaian fantastis ini tentu jauh lebih baik ketimbang proyeksi skeptis pada awal musim semi. Kala itu, FIFA sempat membatalkan sebagian besar pemesanan blok kamar yang telah disepakati sebelumnya. Tak hanya itu, hasil survei American Hotel & Lodging Association pada bulan Mei juga sempat menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Sekitar 80% pemilik hotel di 11 kota penyelenggara mengaku bahwa tingkat pemesanan kamar mereka berada di bawah perkiraan awal.
Jan Freitag, Direktur Nasional Analitik Perhotelan di CoStar, menilai bahwa kehadiran para penggemar sepak bola berkantong tebal menjadi kunci utama yang menutupi kekurangan tingkat hunian tersebut.
"Kami selalu memperkirakan ini akan menjadi peristiwa kenaikan tarif kamar, jauh lebih besar daripada peristiwa hunian," katanya. "Orang-orang yang membayar ratusan atau mungkin ribuan dolar untuk pertandingan Piala Dunia juga bersedia menghabiskan sedikit lebih banyak untuk akomodasi."
Freitag menjelaskan bahwa gambaran utuh mengenai kinerja industri ini baru terlihat jelas saat data CoStar dicocokkan langsung dengan jadwal laga. Kenaikan harga kamar yang tajam menjadi bukti kuat dari kondisi tersebut.
Ia juga menilai narasi awal yang menyebut Piala Dunia sebanding dengan "104 Super Bowl" sebagai hal yang terlalu berlebihan.
Sementara itu, Paul Caine selaku Presiden On Location membagikan kabar gembira mengenai layanan paket perhotelan resmi FIFA. Ia menyebut ajang ini sebagai salah satu program hospitality terbesar dalam sejarah olahraga, dengan penjualan menembus lebih dari 600.000 paket.
Tingkat permintaan tercatat sangat tinggi sejak fase grup. Salah satu contohnya adalah duel Brasil melawan Maroko di Stadion New York-New Jersey yang sukses mendatangkan sekitar 15.300 tamu.
"Semua pasar sangat kuat, dan sebagian besar pertandingan akhirnya terjual habis," kata Caine.
Melihat hasil akhir yang ada, para pengelola hotel beserta pejabat pariwisata sepakat menganggap Piala Dunia sebagai sebuah kemenangan besar.
Di wilayah Atlanta, Craig Strickler yang menjabat sebagai Presiden Amerika di Valor Hospitality menyampaikan kabar serupa. Ia mencatat RevPAR di American Hotel Atlanta Downtown, Tapestry Collection by Hilton, melonjak lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya selama enam pekan terakhir turnamen.
"Semuanya relatif terhadap ekspektasi," kata Strickler.
"Jika Anda mengharapkan untuk mencapai ADR (Average Daily Rate) yang signifikan dan tiket terjual habis untuk setiap pekan pertandingan, maka mungkin tidak sesuai dengan harapan Anda. Tetapi jika Anda menurunkan ekspektasi tersebut dan menyadari bahwa permintaan akan ada dan Anda perlu menetapkan harga yang sesuai, maka itu adalah kemenangan yang solid," sambungnya.
Gregg Caren, CEO Biro Konvensi dan Pengunjung Philadelphia, menyebut lonjakan tarif kamar sebagai faktor utama di balik suksesnya kinerja perhotelan setempat. Menurut pendataan Caren, angka ADR serta RevPAR di area Center City Philadelphia terangkat hingga sekitar 50% selama penyelenggaraan enam pertandingan di kota itu.
"Pemilik hotel tidak lagi berfokus pada tingkat hunian, itu adalah hal yang ketinggalan zaman di tahun 1980-an dan 1990-an. Ini adalah permainan pendapatan," kata Caren.
Caren juga mengapresiasi keberanian pemerintah kota setempat yang tetap menggelar dua konvensi besar bersamaan dengan ajang Piala Dunia. Keputusan strategis tersebut terbukti ampuh dalam menjaga tingkat permintaan kamar agar tetap stabil.
Di luar keuntungan finansial secara langsung, Caren menyoroti hadirnya dampak positif berupa kesan manis para pengunjung di media sosial. Ia sangat optimistis efek menyenangkan ini akan membawa dampak baik yang bertahan lama pasca-turnamen.
"Ketika Anda melihat emosi yang terjadi di unggahan media sosial dan cerita dari orang Prancis, Jerman, Inggris, dan Brasil, Anda mendapatkan gambaran tentang ekspektasi mereka sebelum datang ke sini. Tetapi menurut semua laporan, mereka memiliki pengalaman yang luar biasa," jawab Caren.
Caren menceritakan bahwa dirinya terhubung dalam grup percakapan bersama para pimpinan biro konvensi dari berbagai kota tuan rumah lain. Grup ini diisi oleh perwakilan Boston, New York, Los Angeles, Dallas, Miami, hingga Seattle, serta pejabat dari Asosiasi Perjalanan AS dan Brand USA.
Ia meyakini cerita-cerita mengesankan dari para turis tersebut bisa diolah menjadi materi pemasaran yang sangat efektif untuk menarik wisatawan mancanegara di masa depan.
"Saya pikir kita hanya perlu mengambil beberapa unggahan itu dan mengubahnya menjadi kampanye iklan kita," kata Caren.





