SURYA.CO.ID LAMONGAN - Puluhan akun yang diduga bot membanjiri kolom komentar sejumlah akun informasi publik di Lamongan dengan promosi judi online. Aksi spam massal itu mengganggu ruang interaksi warga dan memicu keresahan pengelola akun.
Fenomena promosi judi online melalui media sosial tersebut muncul dengan pola yang hampir seragam. Dalam hitungan menit setelah unggahan dibuat, komentar berisi ajakan bermain hingga tautan situs judi langsung memenuhi kolom diskusi, menggeser percakapan asli para pengguna media sosial.
Komentar yang muncul menawarkan berbagai iming-iming kemenangan mudah dan keuntungan besar, sekaligus mencantumkan nama situs judi tertentu secara terus-menerus.
Baca juga: Wanita Asal Surabaya Dituntut 2 Tahun Penjara Gara-gara Promosi Judi Online di Instagram Story
Deretan komentar tersebut membuat tanggapan warganet yang berisi informasi maupun diskusi menjadi sulit ditemukan.
Kondisi itu membuat pengelola akun mengambil langkah dengan menandai akun Instagram resmi Polres Lamongan pada salah satu unggahannya sebagai bentuk laporan terbuka.
"@polres.lamongan mangsa ndan wkwk," tulis akun tersebut sambil menunjukkan banyaknya komentar promosi judi online yang memenuhi kolom komentar.
Aksi tersebut menjadi perhatian karena promosi judi online tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna media sosial, tetapi juga berpotensi menjangkau masyarakat luas melalui pesan yang dibuat seolah menawarkan peluang keuntungan instan.
Baca juga: Pemuda Bojonegoro Diringkus Polisi: Sering Bobol Kotak Amal Masjid untuk Main Judol
Keberadaan akun-akun yang diduga otomatis menyebarkan komentar secara massal dinilai dapat merusak kualitas ruang digital publik.
Warga berharap aparat kepolisian bersama instansi terkait, termasuk Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), meningkatkan pengawasan serta patroli siber untuk menekan penyebaran promosi judi online.
Hingga Kamis siang, komentar bermuatan promosi judi online masih terlihat muncul di sejumlah unggahan akun informasi publik di Lamongan. Pola kemunculan yang serentak dan berulang memperkuat dugaan adanya penggunaan akun otomatis untuk melakukan spam dalam jumlah besar.