Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Musim tangkapan ikan yang mulai berlangsung pada Juli hingga Oktober membawa berkah bagi para nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Satu di antara hasil laut yang kini melimpah adalah udang rebon, komoditas bernilai ekonomi tinggi yang menjadi bahan baku terasi hingga ebi.
Pemandangan khas musim rebon tampak di lapangan Katapang Doyong, Pantai Timur Pangandaran, Kamis (23/7/2026).
Di bawah terik matahari, puluhan nelayan terlihat sibuk menjemur hamparan udang rebon yang baru didaratkan dari laut.
Sesekali mereka membolak-balik udang menggunakan alat khusus agar proses pengeringan berlangsung merata.
Baca juga: Di Usia 87 Tahun, Bakul Ikan TPI Pangandaran Ini Masih Berjuang Demi Mimpi Berhaji
Aroma khas udang yang dijemur berpadu dengan semilir angin pantai, menjadi penanda dimulainya musim panen yang selalu dinanti para nelayan.
Seorang nelayan, Nono (67), mengatakan musim rebon biasanya berlangsung mulai Juli hingga Oktober.
Pada periode itu, para nelayan memanfaatkan momentum untuk menangkap udang rebon di bagang yang berada sekitar ratusan meter dari bibir Pantai Timur Pangandaran.
"Biasanya kami menangkap udang rebon di bagang menggunakan jaring sirib atau branjang yang ukurannya cukup besar," ujar Nono kepada Tribun Jabar di lapangan Ketapang Doyong, Kamis siang.
Aktivitas melaut dimulai sekitar pukul 18.00 WIB. Para nelayan bertahan di tengah laut hingga pukul 04.00 WIB keesokan harinya.
Selama semalam, jaring diangkat berkali-kali dengan selang waktu sekitar satu jam sekali.
Menurut Nono, hasil tangkapan sangat dipengaruhi kondisi arus laut. Saat cuaca dan arus bersahabat, hasil yang diperoleh bisa mencapai satu kuintal, bahkan hingga satu ton dalam satu malam.
"Dalam semalam kami biasanya mengangkat jaring beberapa kali. Banyak sedikitnya hasil tangkapan tergantung perubahan arus laut," katanya.
Setelah seluruh hasil tangkapan dikumpulkan, udang rebon dibawa ke lapang Katapang Doyong untuk dijemur.
Proses pengeringan memanfaatkan panas matahari dan dapat berlangsung setengah hari hingga seharian penuh, tergantung intensitas sinar matahari.
Udang yang sudah kering kemudian dikemas dan langsung dipasarkan. Para pengepul atau bandar dari berbagai daerah, seperti Tegal dan Banjar, biasanya datang ke Pangandaran untuk membeli hasil tangkapan nelayan.
"Habis dijemur langsung dikemas. Biasanya bandar dari Tegal dan Banjar datang membeli ke sini," ucap Nono.
Harga udang rebon kering saat ini berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 43 ribu per kilogram untuk kualitas terbaik. Sementara kualitas yang lebih rendah hanya dihargai belasan ribu rupiah per kilogram.
Melimpahnya hasil tangkapan membuat pendapatan nelayan ikut meningkat.
Dari hasil tangkapan hingga satu ton dalam semalam, Nono mengaku dapat memperoleh keuntungan bersih mulai belasan juta hingga puluhan juta rupiah.
"Ya, itu tergantung kualitas dan harga jual di pasaran," ujarnya.
Selain menjadi sumber penghasilan nelayan saat musim tangkap, udang rebon memiliki nilai tambah karena diolah menjadi berbagai produk pangan.
"Seperti buat terasi, ebi, dan aneka bumbu masakan yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia," kata Nono. (*)