TRIBUNPAPUABARAT.COM, KAIMANA - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kaimana, Papua Barat, mencatat sebanyak 81 kasus kekerasan terhadap anak hingga akhir 2025.
Temuan ini menunjukkan masih banyak anak yang membutuhkan perhatian serius, terutama dalam aspek tumbuh kembang dan kesehatan mental.
Hal tersebut disampaikan Kepala DP3A Kaimana, Olivia Ansanay, dalam sambutannya pada perayaan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Serbaguna Paud R.A. Muslimah NU, Kamis (23/7/2026).
Menurut Olivia, hasil pendataan psikososial anak yang dilakukan sepanjang 2026 menunjukkan sebanyak 26.300 anak telah terdata.
Dari jumlah itu, 163 anak diambil sebagai sampel. Hasilnya, sekitar 50,31 persen berada pada kategori normal dengan perkembangan baik.
“Namun, sebanyak 28,22 persen anak masuk kategori borderline atau membutuhkan perhatian khusus. Mereka mulai menunjukkan gejala kesulitan emosional, seperti mudah cemas, mudah marah, sering membantah, sulit berkonsentrasi saat belajar, hingga cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan,” ungkapnya.
Baca juga: Kaimana Catat 6 Kasus Kekerasan Anak di Awal 2026, Dinas PPPA Imbau Warga Berani Melapor
Sementara itu, 21,47 persen anak lainnya masuk kategori abnormal dan memerlukan intervensi segera.
Kondisi ini ditandai dengan penurunan prestasi belajar, kesulitan membangun hubungan sosial, sering terlibat konflik, kehilangan rasa percaya diri, hingga menurunnya aktivitas sehari-hari.
“Data ini menunjukkan masih banyak anak yang membutuhkan perhatian serius, terutama terkait perilaku, hiperaktivitas, kesehatan emosional, dan hubungan sosial dengan teman sebaya,” jelas Olivia.
Ia menegaskan, data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat program perlindungan anak serta mendorong keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Olivia berharap sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, serta mitra pembangunan terus diperkuat guna menekan angka kekerasan terhadap anak.
"Mari kita mewujudkan generasi Kaimana yang sehat, cerdas, serta berdaya saing di masa depan," pungkasnya.