TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Kesadaran masyarakat Kabupaten Trenggalek dalam mengikuti program Keluarga Berencana (KB) dinilai semakin baik.
Hal itu tercermin dari Angka Kesuburan Total (Total Fertility Rate/TFR) yang kini berada di angka 1,89, lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur maupun target nasional sebesar 2,1.
Capaian tersebut menunjukkan pengendalian penduduk di Kabupaten Trenggalek berjalan dengan baik, sekaligus menjadi indikator meningkatnya kesadaran pasangan usia subur dalam merencanakan jumlah anak.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek, dr. Bakhtiar Arifin, mengatakan fokus program KB saat ini tidak lagi semata-mata mengendalikan jumlah penduduk, melainkan membangun kualitas keluarga.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Gandeng PWI Kediri Raya, Perluas Perlindungan Jaminan Sosial bagi Wartawan
"Kalau dahulu program KB difokuskan pada pengendalian jumlah penduduk, sekarang bergeser ke pembangunan kualitas penduduk. Jadi, tidak hanya sekadar masalah kuantitas, tetapi juga kualitas dari keluarga," ujar dr. Bakhtiar Arifin, Kamis (23/7/2026).
TFR Trenggalek Lebih Rendah dari Target Nasional
Menurut dr. Bakhtiar, angka TFR Trenggalek sebesar 1,89 merupakan capaian yang sangat baik dan tidak perlu diturunkan maupun dinaikkan secara drastis.
Ia menjelaskan, angka tersebut dinilai ideal untuk menjaga keseimbangan pengendalian penduduk di Kabupaten Trenggalek.
"Secara kuantitas, angka TFR 1,89 itu sudah sangat baik dan prima. Jika diturunkan lagi kurang baik, dan jika dinaikkan lagi tentu bisa mengganggu keseimbangan pengendalian penduduk. Jadi, kesadaran ber-KB di Trenggalek insyaallah sudah baik," ungkapnya.
Sebagai informasi, TFR sebesar 2,1 umumnya dijadikan acuan sebagai replacement level, yakni tingkat kesuburan yang mampu menjaga jumlah penduduk tetap stabil dari generasi ke generasi.
Program KB Kini Fokus pada Kualitas Keluarga
Dr. Bakhtiar menegaskan paradigma pelaksanaan program KB telah berubah seiring perkembangan zaman.
Jika sebelumnya orientasi utama adalah mengurangi laju pertumbuhan penduduk, kini pemerintah lebih menitikberatkan pada pembentukan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas.
Menurutnya, keberhasilan program KB saat ini tidak hanya diukur dari jumlah anak yang dimiliki setiap keluarga, tetapi juga dari kualitas pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan anggota keluarga.
KB Suntik Masih Jadi Pilihan Favorit Warga Trenggalek
Terkait metode kontrasepsi, dr. Bakhtiar menjelaskan tidak ada jenis alat kontrasepsi yang paling benar atau paling baik untuk semua orang.
Pemilihan metode KB harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan, serta rencana jumlah anak masing-masing pasangan usia subur (PUS).
Meski demikian, hingga saat ini KB suntik masih menjadi metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan masyarakat Kabupaten Trenggalek.
"Untuk yang paling banyak digunakan masyarakat sampai saat ini masih KB suntik. Alasannya karena dinilai lebih praktis dan masa kesuburannya bisa kembali dengan cepat," pungkasnya.
Apa Itu Angka Kesuburan Total (TFR)?
Total Fertility Rate (TFR) merupakan rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya, yakni pada rentang usia 15 hingga 49 tahun, berdasarkan tingkat kesuburan menurut kelompok umur.
Secara umum, TFR sebesar 2,1 dianggap sebagai angka ideal untuk mempertahankan jumlah penduduk tetap stabil. Sementara itu, capaian TFR Kabupaten Trenggalek sebesar 1,89 menunjukkan tingkat kesuburan masyarakat berada di bawah rata-rata Jawa Timur maupun target nasional, sekaligus mencerminkan tingginya kesadaran masyarakat dalam menjalankan program Keluarga Berencana.
(Madchan Jazuli/Tribunmataraman.com)