Melalui karya foto berpendekatan human interest, masyarakat bisa langsung memahami tantangan hingga manfaat nyata dari Sekolah Rakyat tanpa perlu penjelasan panjang lebar

Jakarta (ANTARA) - Pakar Kebijakan Pendidikan dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Dr Alpha Amirachman menilai karya fotografi merupakan medium yang efektif untuk menyampaikan pesan dan sisi humanis dari keberadaan program Sekolah Rakyat kepada masyarakat luas.

Dalam seminar pendidikan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis, Alpha mengatakan fotografi mampu menggugah empati publik secara langsung ketimbang sekadar sajian data statistik atau dokumentasi seremoni resmi.

"Melalui karya foto berpendekatan human interest, masyarakat bisa langsung memahami tantangan hingga manfaat nyata dari Sekolah Rakyat tanpa perlu penjelasan panjang lebar," ucapnya.

Pameran dan seminar fotografi tersebut merupakan kolaborasi antara anggota Asosiasi Fotografi Indonesia dan sejumlah Sekolah Rakyat Kementerian Sosial (Kemensos).

Sebanyak 74 siswa dari 36 Sekolah Rakyat turut ambil bagian dalam seminar dan pameran fotografi bertema "Belajar dan Berkarya Untuk Masa Depan Melalui Sekolah Rakyat, Pendidikan Inklusif dan Berkeadilan".

Sedikitnya 134 karya fotografi yang dipamerkan mengisahkan beragam kisah tentang keseharian siswa dan guru di Sekolah Rakyat, lingkungan hidup mereka, hingga kehidupan berbudaya dari sudut pandang mereka.

Alpha menjelaskan pameran fotografi karya jurnalis foto senior maupun para siswa berhasil mengabadikan ekspresi kegembiraan, kesetaraan, serta dinamika kehidupan peserta didik di asrama Sekolah Rakyat secara otentik.

Pendekatan visual tersebut dinilai selaras dengan gagasan utama Sekolah Rakyat dalam merangkul serta mengentaskan anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini rentan putus sekolah.

Karya-karya fotografi, menurut dia, dapat merekam proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan jiwa kebersamaan yang dibangun dalam sistem sekolah berbasis asrama (boarding school).

Melalui pesan visual yang kuat, publik dapat menyadari bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan terobosan strategis pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan antar-generasi.

"Sekolah Rakyat ini adalah terobosan pemerintah untuk menyentuh the invisible, mereka yang tidak kelihatan. Jumlahnya cukup banyak, terutama pada usia sekolah SMA yang terpaksa putus sekolah karena kendala ekonomi dan beban keluarga," katanya.

Menurut dia, terobosan ini mendesak dilakukan mengingat angka anak putus sekolah di Indonesia cukup tinggi, dimana data BPS mencatat terdapat hampir 3 juta anak yang belum tersentuh sistem pendidikan formal secara optimal.

Oleh karena itu ia mengapresiasi kolaborasi pameran fotografi tersebut sebagai sarana edukasi publik yang efektif untuk memperlihatkan dampak positif terobosan kebijakan pendidikan nasional saat ini.