Apa, kan, Sikit, tapi Jangan Sampai Apa Kali
Randy P.F Hutagaol July 23, 2026 07:27 PM

JONTRA Polta dan Jek Buntal sedang senang. Mobil yang mereka agenkan akhirnya berhasil gol, dengan kisaran harga yang hanya turun sedikit dari tawaran awal pemilik. Ini merupakan mobil pertama yang mereka jual dalam hampir dua bulan terakhir.

"Cair kelen, ya, makan-makan, lah," kata Ucok Morning saat keduanya tiba di kedai Tok Awang dengan wajah semringah.

Jek Buntal tertawa. "Memang, lah, kalok udah perkara pucuk kek gini cepat kali, ya, infonya sampek."

"Lebih cepat dari lari Mayor Teddy pas main futsal," sahut Jontra Polta.

Dari meja di sudut kedai, Riki Rikardo yang sedang bermain Ludo bersama Leman Dogol menyeletuk.
"Udah letkol dia, Mak Jon."

"Bah, udah naik pangkat? Sayang kali, ya. Padahal sor awak dia Mayor. Kek idola awak, Mayor Lukman, yang diam-diam bikin Si Jamilah anak Wak Jamal mau beranak."

Leman Dogol tertawa. "Ke mana aja, Mamak? Itu, lah, jangan asik donlot video Wika Salim aja kerja Mamak. Jadi tak tahu dunia ini udah entah ke mana-mana."

Tawa yang makin berderai-derai lalu di sela tepuk-tepuk tangan kecil tatkala Jontra Polta dan Jek Buntal membebaskan Riki Rikardo, Leman Dogol, Ucok Morning, untuk memesan apa pun yang mereka inginkan. Dengan syarat, masing-masing, makan dan minum, tak boleh lebih dari Rp 30 ribu. Ocik Nensi mencatat semua pesanan dengan penuh semangat.

"Sering-sering kek gini, lah, kelen. Kalok cair, bagi-bagi sikit ke sini. Jangan dibawak pekak aja."

"Eh, selo, lah, Cik," sergah Jek Buntal. "Makanya doakan awak banyak rezeki. Makin sering awak cair, kan, makin sering jugak awak kemari."

Obrolan kemudian melesat-lesat tak tentu juntrungan. Masih ada sisa-sisa Piala Dunia. Gosip artis. Drama cina. Juga tentang tingkah polah para menteri yang serba konyol. Tentang antrean BBM, listrik biarpet, air bersih yang sama sekali tak bersih, jalan rusak, sampah menggunung, dari bantaran sungai, tepi-tepi jalan, sampai gedung dewan. 

Kemudian, Zainuddin Tambi datang. Tas kulitnya, yang biasa ia kepitkan di ketiak, diganti tas sandang. Keringat yang membasahi kemeja model safari berwarna khaki, meninggalkan jejak dua garis dengan diameter kira-kira 10 sentimeter, memanjang dari pundak ke dada, membelok ke bagian bawah ketiak. Alur tali tas sandang. Zainuddin membawa kantong plastik. Lantaran transparan, kelihatan di dalam kantong terdapat dua kotak bekal makanan.

"Sampek dua bontotan Pak Guru, ya," tegur Leman Dogol diikuti tawa berderai.

Zainuddin tersenyum. "Udah tebalek-balek sebenarnya ini, Man."

"Tebalek cemana?"

"Dari rumah, bontotan ini kosong. Pas balek dari sekolah, baru ada isinya."

"Bah! Kok, bisa kek gitu pulak?" kata Riki Rikardo menimpali. "Pak Guru, kan, cumak ngajar di Inpres. Bukan di sekolah internasiyenel yang kantin-kantinnya sedia makanan gratis kek di kantor Gugel. Iya, kan? Ato jangan-jangan...?"

"Jangan-jangan apa, Ki?" tanya Jontra Polta pula.

"Jangan-jangan... Ehm... Sorry-sorry, ni, ya, Guru, kalok aku salah. Jangan-jangan sisa EmBeGe?"

Zainuddin Tambi tersenyum tipis, lantas mengangguk halus. "Persisnya bukan sisa, Ki, tapi cemana caranya biar EmBeGe gak kelihatan kek ada sisa. Siswa kan gak bisa kita paksa. Ini soal selera. Kalok memang tak sor orang tu, ya, gak dimakan. Ditengok pun nggak. Bukannya yang kelaparan kali semua orang tu ke sekolah. Jadi daripada tebuang masuk tong sampah, ato beserak dimakan ayam, guru-guru, lah, yang inisatif bawak pulang."

Percakapan bergeser ke Makan Bergizi Gratis. Bergeser ke harga-harga bahan kebutuhan pokok yang terkerek naik lagi. Daging ayam naik lagi. Ikan naik lagi. Telur naik lagi. Bahkan beras. Susu, kembali sulit dicari.

"Alah, udah, lah, bosan kali aku bahas-bahas EmBeGe ini. Gak ada gunanya," sergah Ucok Morning memutus percakapan. Diseruputnya Fanta Susu Dingin yang baru diantar Ocik Nensi. "Percuma kita recok-recok di sini. Gak akan ada yang didengar jugak. Presiden kita udah lama gak nengok medsos."

"Tapi, Ketua, pas pidato-pidato, tahunya dia perkembangan di medsos," ucap Jek Buntal.

"Tahu, memang, cumak itu, kan yang udah dipilih-pilih. Udah difilter. Trus, dia percaya aja sama yang dibisik-bisikkan itu. Makanya banyak yang jadi lawak-lawak."

Riki Rikardo yang sedang menyeruput kuah Mi Aceh, tersedak, lalu terbatuk-batuk. Setelah minum dan berdehem beberapa kali, disambungnya kalimat Ucok Morning.

"Setuju aku, Ketua. Makin ke sini memang makin lawak-lawak. Udah dengar kelen soal Universitas Republik Indonesia?"

"Universitas Indonesia," sahut Jontra Polta.

"Bukan, Om, kalok itu biawak beranak kucing pun tahu. Universitas Republik Indonesia! Ada Republik-nya!"

"Apa pulak itu?"

"Aku pun belom tahu betul, Om. Cumak katanya ini universitas untuk calon-calon pegawai pemerintahan dan pejabat negara."

"Bah! Jadi, yang lulus dari universitas-universitas laen cemana pulak? Tiap taon ada ribuan itu lulusannya? Mo ke mana? Gak bisa jadi pejabat?"

Riki Rikardo mengangkat bahu. "Aku nggak tahu."

"Makin lawak, memang!" seru Ucok Morning.

"Belum seberapa itu, Ketua. Masih ada yang lebih lawak. Dua pimpinan tertinggi Universitas Republik Indonesia ini sudah dilantik. Namanya Gubernur dan Wakil Gubernur. Yang gubernur, mantan tentara, jenderal. Yang wakil gubernur akademisi, katanya dari ITB. Cumak, sampai sekarang, kek mana konsep Universitas Republik Indonesia ini masih kabur. Dosen-dosennya belum ada. Bahkan gedung kampusnya pun belum ada."

"Bah! Cemananya negara kau ini! Udah kek bagi-bagi jatah lapak parkir ormas kutengok. Kalok ada celah, gas!

Mainkan! Apa, kan, dulu sikit, tapi jangan sampai apa kali. Rusak kita kalau begini."

Zainuddin Tambi yang sedang menyantap menu Makan Bergizi Gratis, dengan tambahan Mi Bangladesh sumbangan Jek Buntal, mencoba menyabarkan.

"Atur napas, Ketua. Gak usah pala marah-marah. Kita sendiri yang rugi. Harap-harap saja, siapa tahu, besok-besok ada bisikan agak paten yang sampek ke telinga presiden kita."

Dari balik steling, Ocik Nensi yang sedang beres-beres, melempar celetukan.

"Maunya ada, lah, yang bisikkan ke dia soal Sarwendah dan Ruben Onsu."

"Apa pentingnya, Cik?" tanya Jontra Polta dan Leman Dogol nyaris bersamaan.
"Iya, Cik. Kalok orang tu mo cerai, ya, cerai aja. Mo saling tuntut ganti rugi, ya, terserah aja. Apa pulak itu jadi urusan Prabowo?"

"Itu, lah, salah kelen. Justru ini penting. Urjen! Darurat. Supaya kasus kek gini gak terulang lagi, pemerintah perlu bikin undang-undang baru."

"Undang-undang apa, Cik?" giliran Leman pula yang bertanya.

"Undang-undang anti mokondo." (t agus khaidir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.