Omar Marmoush Jadi Korban... Leandro Paredes Kembali Membuka Luka Piala Dunia Mesir dengan Momen Bersejarah!
Rina Kusumawati July 23, 2026 08:40 PM

Sebuah “keberatan” menjaga kehormatan sang juara dunia melawan Mesir.

Piala Dunia 2026 telah berakhir, namun luka di hati para penggemar Mesir belum sembuh. Turnamen tersebut menghadirkan momen-momen yang mengubah arah sejarah sepak bola Mesir dan menggagalkan harapan mereka untuk meraih kejayaan di panggung dunia.

Leandro Paredes mengambil salah satu momen menyakitkan itu dan menjadikannya ikon di dinding rumahnya. Gelandang Argentina tersebut ingin memiliki pengingat akan babak luar biasa dalam perjalanannya pada turnamen yang akhirnya dimenangkan oleh Spanyol di partai final, setelah Argentina kalah.

Lukisan bersejarah bintang Argentina

Argentina kalah di final melawan Spanyol melalui gol Ferran Torres, namun para pemain mereka pulang dengan kepala tegak. Mereka berhasil mempertahankan status sebagai “juara bertahan” hingga pertandingan terakhir turnamen.

Leandro Paredes disambut hangat oleh keluarganya, yang memilih untuk menghormatinya dengan cara istimewa. Mereka mempersembahkan sebuah lukisan yang menggambarkan momen-momen terbaiknya selama turnamen, seperti yang terlihat dalam foto-foto yang diunggah sang istri, Camila Galante, di akun pribadinya.

Lukisan itu menggambarkan saat Omar Marmoush gagal menciptakan babak baru dalam sejarah sepak bola Mesir di babak 16 besar. Skor masih 2-2 pada detik-detik akhir waktu tambahan ketika Marmoush melakukan serangan balik cepat yang hampir membawa Mesir lolos ke perempat final.

Paredes menjadi pemain bertahan terakhir di lapangan. Ia berhasil menghentikan bola dengan tekel sempurna. Banyak yang menyebutnya sebagai “titik balik dramatis” – momen yang mengubah peluang gol pasti bagi Mesir menjadi serangan balik mematikan Argentina, yang berujung pada gol kemenangan Enzo Fernández dan membawa Argentina melaju ke perempat final dengan mengorbankan Mesir.

Karya defensif jenius yang menyelamatkan sang juara bertahan

Tindakan Paredes itu tidak luput dari perhatian para analis dan kritikus dunia. Media “The Athletic” menyebut momen tersebut sebagai bentuk kejeniusannya dalam bertahan, dan menilainya sebagai aksi defensif paling ikonik sepanjang turnamen.

Media itu menjelaskan bahwa Paredes menghadapi situasi berisiko tinggi melawan tiga penyerang Mesir: Mohamed Salah, Omar Marmoush, dan Mahmoud Hassan “Trezeguet”. Namun dengan ketenangan dan kemampuan membaca permainan yang luar biasa, ia berhasil mengantisipasi umpan bintang Manchester City itu ke arah “Trezeguet” dan memotongnya tepat pada waktu yang sempurna.

Detail teknis itulah yang membuat Paredes merasa sangat bangga. Banyak orang di Argentina melihat intersepsinya sebagai “keajaiban defensif” yang menjaga peluang mereka mempertahankan gelar hingga pertandingan melawan Spanyol.

Sekarang, lukisan yang tergantung di rumahnya menjadi pengingat abadi tentang pertemuan yang menggagalkan keajaiban sepak bola Mesir, yang begitu dekat untuk lolos ke perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka — dengan mengalahkan sang juara bertahan.

Momen “kontroversial” yang tak terlupakan di final

Selain kehebatannya dalam bertahan, akhir perjalanan Paredes di Piala Dunia juga diwarnai ketegangan. Setelah kekalahan di final melawan Spanyol, ia terlibat bentrok verbal dan fisik dengan pemain muda Spanyol, Gavi.

Banyak kritik tajam muncul dari sejumlah tokoh besar, termasuk Zlatan Ibrahimovic, yang menyebut perilakunya “tidak profesional”. Namun Paredes menolak untuk meminta maaf. Ia menegaskan rasa bangganya atas semua yang telah ia lakukan bersama Albiceleste sepanjang turnamen.

Setelah final, Paredes menulis pesan emosional kepada para penggemar di akun resminya, menegaskan bahwa ia bangga menjadi bagian dari “generasi terbesar dalam sejarah Argentina”.

Laporan awal sempat menyebutkan bahwa ia menerima kartu merah akibat insiden setelah pertandingan. Namun, FIFA kemudian menghapus kartu tersebut dari catatan resminya, sementara penyelidikan atas insiden yang menimbulkan kehebohan besar di dunia olahraga internasional masih berlanjut.

Marmoush juga tak akan melupakannya

Bagi rakyat Mesir, lukisan itu menjadi pengingat menyakitkan tentang peluang yang bisa mengubah wajah sepak bola Afrika. Sementara bagi Paredes, lukisan itu adalah bukti pengorbanan dan komitmen taktisnya sebagai pemimpin lini tengah. Gantung di rumah sang bintang Argentina, lukisan itu akan menjadi pengingat abadi bahwa detail kecil bisa menciptakan pahlawan di panggung terbesar.

Setiap pemenang meninggalkan pihak yang kalah di sisi lain. Dan pihak kalah itu adalah Omar Marmoush, yang kehilangan banyak dukungan dan kasih dari publik Mesir setelah turnamen berakhir. Seluruh 120 juta warga Mesir seolah sepakat dengan satu putusan: ia adalah “bayangan” di Piala Dunia, dan Mesir gagal memanfaatkan kemampuan teknis luar biasa yang pernah membuatnya salah satu pemain profesional paling menonjol dalam sejarah negara itu.

Satu umpan matang, satu penetrasi melewati pertahanan Argentina, satu gol dramatis — dan Marmoush mungkin telah menjadi pahlawan super di mata rakyat Mesir, menorehkan namanya dalam sejarah dengan huruf emas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.