Cegah Keracunan MBG,  Dua Siswa SMPN 1 Turi Sleman Ciptakan Alat Pendeteksi Makanan Basi
Muhammad Fatoni July 23, 2026 11:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dua pelajar kelas 9B Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Turi, Sleman, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, menciptakan sebuah inovasi berupa alat pendeteksi kesegaran makanan.

Alat yang dilengkapi dengan berbagai sensor ini dirancang untuk memastikan makanan yang hendak dikonsumsi masih layak atau tidak.

Penggunaan alat ini tentu dapat mencegah terjadinya keracunan makanan, terutama pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Berawal dari riset daring dan diskusi bersama, kedua siswa ini memutuskan merancang perangkat praktis yang mampu mendeteksi kelayakan konsumsi suatu makanan hanya dalam waktu sekitar lima detik.

"Prosesnya sekitar 5 detik-an. Kalau makanan basi seperti ini hasilnya (sambil memperlihatkan layar kecil di detektor bertuliskan tidak aman)," kata Abyan Syahlefi, menunjukkan sistem kerjanya, Kamis (23/7/2026). 

Abyan mengatakan detektor makanan ini masih tahap pengembangan. Akan tetapi sudah cukup mumpuni.

Sebab, sudah lebih dari 9 kali melakukan pengujian dan alatnya mampu mendeteksi kesegaran makanan dengan tingkat akurasi hingga 100 persen. 

Cara Kerja

Ia menjelaskan bahwa perangkat buatannya bekerja menggunakan sejumlah komponen sensor yang saling mendukung.

Otak dari perangkat ini dikendalikan oleh mikrokontroler ESP32 yang dilengkapi konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth.

Sementara kestabilan suhu di dalam kotak sampel dijaga menggunakan kipas.

Beberapa sensor yang ditanam meliputi Sensor MQ3 yang berfungsi untuk mendeteksi kandungan alkohol atau tingkat kesegaran makanan.

Kemudian sensor MQ135 yang digunakan untuk mengecek kualitas udara di sekitar sampel makanan.

Sensor DHT11 berfungsi untuk mengukur suhu di dalam ruangan kotak sampel dan Sensor TCS3200 digunakan untuk mendeteksi kandungan pestisida, misalnya pada buah atau bahan pangan lainnya.

Cara pengoperasian alat ini tergolong mudah.

Sampel makanan yang akan diuji, misalnya sampel dari program MBG, dimasukkan ke dalam boks atau kotak khusus yang disediakan.

 Layar indikator pada perangkat nantinya akan menampilkan informasi, apakah makanan tersebut dalam kondisi aman atau tidak layak konsumsi. 

Baca juga: Kisah Raif, Pelajar SLB Islam Qothrunnada Banguntapan Bantul Berhasil Sabet Gelar Juara FLS2N

Proses Pembuatan

Proses pembuatan alat deteksi ini memakan waktu lebih kurang tiga bulan, dengan pengerjaan perakitan membutuhkan waktu sekitar dua mingguan.

Komponen penyusun alat ini sebagian dibeli secara online dan lainnya ada juga dibeli di toko-toko elektronik yang ada di Yogyakarta.

Estimasi total biaya produksi sekitar Rp500.000.

Menurut Abyan, tantangan terberat dalam proses pembuatan bukan pada tahap perakitan, melainkan pada tahap pemrograman.

Kesalahan kecil dalam menulis kode seringkali memicu error dan berdampak langsung pada ketepatan hasil pembacaan hasil pendeteksian. 

"Kesulitan dalam membuat alat ini memrogramnya sih. Soalnya seringkali saya meleset sedikit, itu kan salah, ya salah hasilnya, error-error gitu ya. Kalau merakitnya lumayan masih gampang, memrogramnya yang agak sulit," jelasnya. 

Apresiasi Positif

Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sekaligus Pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMPN 1 Turi, Anik Marwati, mengekspresi inisiatif dari kedua anak didiknya yang telah menciptakan alat deteksi kesegaran makanan.

Menurut dia, ide pembuatan alat ini murni berasal dari inisiatif siswa melihat informasi maraknya kasus keracunan MBG di sekolah, sementara pihak sekolah berperan sebatas memfasilitasi kebutuhan riset.

Anik mengungkapkan bahwa alat tersebut telah beberapa kali diuji coba secara berkala di sekolah menggunakan sampel makanan MBG.

Pengujian dilakukan dengan memerhatikan standar waktu konsumsi ideal MBG, yakni maksimal dua jam setelah makanan tiba, di mana sampel diteliti sekitar satu jam setelah kedatangan dengan pengujian tiga kali repetisi untuk setiap jenis menu nasi, sayur, dan lauk.

Hasil dari berbagai uji coba tersebut menunjukkan bahwa pasokan MBG aman dan tidak ditemukan makanan yang terdeteksi basi.

"Kalau sekarang ya masih dikembangkan. Tapi sesekali dipakai juga untuk mendeteksi MBG, alhamdulillah aman," kata dia. 

Saat ini, karya inovatif siswa berupa detektor makanan buatan Abyan dan Pradipta tengah dibawa untuk mengarungi kompetisi dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Nasional jenjang SMP.

Karya ini telah melewati tahap pertama yakni seleksi proposal, perakitan alat, hingga penyusunan laporan hasil penelitian lengkap dengan lampiran pendukung.

Sekarang sedang memasuki tahap kedua berupa pelaporan untuk berjuang agar bisa menuju babak selanjutnya di Jakarta.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.