Hari Jadi ke-201 Wonosobo, Ratusan Orang Berjalan Hening Membawa Obor dalam Prosesi Tapa Bisu
raka f pujangga July 23, 2026 11:59 PM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Tradisi Tapa Bisu kembali menjadi salah satu rangkaian sakral dalam peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Kamis (23/7/2026) malam. 

Tahun ini, prosesi tidak hanya diikuti warga Desa Plobangan dan perangkat desa, tetapi juga dibuka untuk masyarakat umum.

Baca juga: Kirab Temu Gelang Keris Kyai Bisma dengan Tapa Bisu Sambut Hari Jadi ke-276 Blora

Prosesi berlangsung dengan berjalan kaki dari Klenteng Hok Hoo Bio Wonosobo menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo dalam suasana hening dan gelap sebagai bentuk perenungan dan doa bersama.

Pantauan di lokasi, peserta mulai berkumpul sekira pukul 19.47 WIB di depan Klenteng Hok Hoo Bio. 

Ratusan peserta membawa oncor atau obor yang menyala dan mengenakan pakaian adat Jawa.

Sepanjang perjalanan menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo, seluruh peserta berjalan tanpa percakapan. 

Suasana hening terasa menyelimuti iring-iringan, hanya diiringi cahaya obor dan langkah kaki para peserta.

Masyarakat tampak memenuhi sejumlah titik di sepanjang rute untuk menyaksikan prosesi. 

20260723_iring-iringan peserta Tapa Bisu di Wonosobo_2
TAPA BISU - Suasana iring-iringan peserta Tapa Bisu yang berjalan tanpa berbicara di kegelapan sambil membawa obor pada peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Kamis (23/7/2026) malam. 

Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Disparbud Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistyawati, mengatakan Tapa Bisu selama ini identik dengan warga Desa Plobangan. 

Namun pada peringatan Hari Jadi tahun ini, pemerintah membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk ikut serta.

"Dalam dua hari kita buka pendaftaran di Instagram dari masyarakat umum yang mendaftar. Jumlah itu di luar peserta yang sudah kami rencanakan," katanya.

Ratna menuturkan, Tapa Bisu memiliki makna sejarah sekaligus spiritual. Prosesi tersebut melambangkan perpindahan pusat pemerintahan Wonosobo dari Desa Plobangan menuju lokasi Kabupaten Wonosobo saat ini.

Selain itu, tradisi berjalan tanpa berbicara menjadi simbol doa dan perenungan agar masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

"Untuk menuju sesuatu yang lebih baik harus berdoa dengan hikmat," ujar Ratna.

Salah satu peserta, Arya Kusuma, mengaku telah empat kali mengikuti Tapa Bisu bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.

"Saya sudah empat kali mengikuti Tapa Bisu," katanya.

Arya menilai prosesi tersebut menjadi ruang untuk menenangkan diri sebelum mengikuti rangkaian acara budaya lainnya.

"Tempat wadah kita untuk berserah diri, untuk mengosongkan diri," ucapnya.

Menurut Arya, perjalanan sekitar satu kilometer menuju Pendopo memberikan pelajaran tentang makna kehidupan.

Peserta berjalan mengikuti rombongan, sebagian membawa obor dan sebagian lainnya tanpa penerangan. Baginya, kondisi tersebut mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu harus terlihat mewah atau gemerlap.

"Bagaimana kita memaknai diri kita terhadap perjalanan Tapa Bisu itu sendiri," ujarnya.

Usai mengikuti prosesi, Arya mengatakan nilai yang paling dirasakan adalah pentingnya kembali melakukan refleksi diri.

"Kembali ke diri dan tetap mencari cahaya," tuturnya.

Usai prosesi Tapa Bisu, rangkaian ritual dilanjutkan dengan pencampuran air yang berasal dari tujuh sumber mata air di Wonosobo.

Baca juga: Tapa Bisu dan Birat Sengkolo, 600 Orang Berjalan dengan Obor Doakan Wonosobo di Usia Dua Abad

Air tersebut kemudian didoakan oleh enam agama sebelum diserahkan kepada Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) untuk prosesi selanjutnya di Paseban.

Selain air, tanah dari makam juga dibawa dalam prosesi untuk kemudian ditanam di kawasan Wringin Kurung sebagai simbol doa dan harapan bagi kemakmuran Kabupaten Wonosobo. Prosesi tersebut biasanya berlangsung hingga tengah malam.

Rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo akan berlanjut pada esok hari, Jumat (24/7/2026) melalui acara Pisowanan Agung. (ima)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.