Keraguan Terhadap Ketidakadilan Argentina: '61.000 Tanda Tangan' Menuntut Ulangan Final Piala Dunia!
Hendra Wijaya July 24, 2026 12:48 AM

Setelah Spanyol berhasil meraih gelar juara, tirai Piala Dunia 2026 resmi ditutup dengan La Roja dinobatkan sebagai juara edisi ke-23. Namun, kontroversi terkait kepemimpinan wasit masih bergema, terutama di Argentina.

Peristiwa di Final Piala Dunia

Spanyol menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya. Ferran Torres menjadi pahlawan setelah mencetak satu-satunya gol pada menit ke-106 di Stadion MetLife, memanfaatkan umpan dari Nico Williams untuk menaklukkan Argentina. Turnamen ini diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, menjadi sorotan akibat keputusan-keputusannya yang menuai kontroversi. Argentina merasa Mac Allister dan Nicolas Tagliafico seharusnya diganjar kartu atas pelanggaran mereka, sementara Spanyol menganggap gol Nico Williams dan Ferran Torres yang dianulir seharusnya disahkan.

Kekalahan ini membuat kapten Argentina, Lionel Messi, gagal meraih gelar di ajang yang ia sebut sebagai penampilan terakhirnya bersama tim nasional. Pemain Inter Miami tersebut juga tidak berhasil membawa pulang Sepatu Emas, dengan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa kini dipegang oleh Kylian Mbappe yang mencapai total 22 gol.

Inggris menempati posisi ketiga — pencapaian terbaik mereka sejak menjuarai Piala Dunia 1966 — setelah mengalahkan Prancis dengan skor 6-4 di laga perebutan tempat ketiga.

Petisi Menuntut Ulangan Pertandingan

Menurut laporan situs Brasil "Globo", seorang pendukung Argentina bernama Gisela Sanchez mengungkapkan keraguannya terhadap performa wasit Slavko Vincic. Dalam unggahannya, ia mendesak Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk meninjau ulang keputusan-keputusan wasit yang, menurutnya, berdampak langsung terhadap jalannya pertandingan.

Sanchez mempertanyakan apakah keputusan wasit telah membuat tim nasional Argentina kehilangan gelar juara. Sementara itu, petisi yang dibuat melalui platform Change.org untuk menuntut pertandingan diulang telah mengumpulkan lebih dari 61.000 tanda tangan.

Meski Sanchez tidak menyertakan bukti konkret atas klaimnya, para pendukung Argentina tetap menuntut agar final yang diputuskan pada babak perpanjangan waktu itu diulang.

Ini bukan kali pertama muncul kampanye serupa di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, di Prancis sempat beredar petisi dengan lebih dari 82.000 tanda tangan untuk mengulang semifinal melawan Spanyol, dengan alasan adanya kesalahan wasit dalam insiden sebelum penalti yang menghasilkan gol pembuka bagi Spanyol.

Kebenaran Mengenai Presiden Federasi Sepak Bola Argentina dan Dugaan Pemanggilan oleh Pengadilan Amerika Serikat

Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) membantah laporan bahwa pengadilan Amerika Serikat memanggil presidennya, Claudio Tapia. Dalam pernyataan resmi, AFA menegaskan bahwa kabar tersebut hanyalah rumor tanpa dasar.

Pihak berwenang AS sedang menyelidiki kontrak komersial yang terkait dengan AFA senilai lebih dari 300 juta dolar AS, menurut berbagai sumber media. Penyelidikan ini merupakan kelanjutan dari penggerebekan yang dilakukan di kantor AFA pada Desember lalu.

Dalam pernyataan di situs resmi AFA disebutkan, "Demikian pula, klaim mengenai penyitaan properti milik Tapia, serta ponsel dan perangkat elektronik yang ada padanya, juga merupakan rumor yang tidak benar."

AFA menegaskan bahwa baik Tapia maupun bendahara Pablo Toviggino tidak menjadi subjek panggilan tersebut. Panggilan itu ditujukan kepada pihak ketiga lainnya.

Orang yang dimaksud, yang tidak disebutkan namanya dalam pernyataan tersebut, diperintahkan untuk hadir di hadapan dewan juri dan menyerahkan dokumen serta korespondensi terkait sejumlah pejabat tertentu.

Penyelidikan FIFA atas Insiden Argentina

Media "Sky Sports" melaporkan bahwa FIFA telah membuka penyelidikan atas insiden yang terjadi setelah pertandingan antara Spanyol dan Argentina, terutama terkait perilaku tidak sportif yang dilakukan oleh Leandro Paredes dan Ayala, setelah keduanya dilaporkan menyerang beberapa pemain La Roja usai peluit panjang dibunyikan.

Keributan terjadi antara pemain Spanyol dan Argentina setelah final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat.

Pelatih kepala Argentina, Lionel Scaloni, segera turun tangan untuk memisahkan para pemain dan menenangkan situasi. Aksinya berhasil meredakan ketegangan dan mencegah insiden semakin memburuk.

Namun tayangan ulang memperlihatkan adegan tidak menyenangkan antara pemain Argentina dan gelandang Spanyol Pablo Gavi, sebelum Scaloni ikut campur. Rekaman tersebut menunjukkan para pemain Argentina mengerumuni Gavi yang saat itu berusia 21 tahun, sebelum Leandro Paredes melakukan gerakan mirip "gulat" terhadap pemain muda Spanyol itu.

Paredes tampak "memukul" Gavi dan kemudian menjatuhkannya ke lapangan — sebuah adegan yang mengejutkan banyak pihak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.