Tensi AS-Iran Kian Memanas, Amerika Kerahkan Pasukan Besar-besaran ke Timur Tengah: Perang!
SERAMBINEWS.COM - Amerika Serikat meningkatkan pasukan, senjata dan militernya di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya eskalasi konflik dengan Iran.
Langkah tersebut dilakukan Amerika Serikat sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk eskalasi konflik yang lebih luas dan perang besar di kawasan.
Mengutip sumber, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Amerika Serikat mulai mengerahkan tambahan personel militer, tenaga medis, serta persenjataan ke kawasan tersebut untuk memberikan lebih banyak opsi kepada Presiden Donald Trump dalam menentukan respons terhadap situasi Iran.
Dalam laporan itu disebutkan, selama sepekan terakhir Washington telah mengirimkan gugus tugas militer ke Timur Tengah serta menempatkan sejumlah skuadron pesawat tempur di berbagai pangkalan udara kawasan.
Selain itu, pesawat pembom strategis B-1 yang berbasis di Inggris dilaporkan tengah dipersiapkan untuk mendukung kemungkinan operasi militer berskala besar.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan, lebih dari 150 personel medis telah tiba di rumah sakit utama militer AS di Jerman.
Fasilitas tersebut menjadi salah satu lokasi perawatan bagi prajurit Amerika yang mengalami luka dalam operasi di kawasan Timur Tengah.
Peningkatan kekuatan militer ini berlangsung di tengah upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Sebelumnya, Axios melaporkan adanya proposal gencatan senjata selama 10 hari yang telah disampaikan oleh para mediator kepada Washington.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan proposal tersebut dan meminta Israel menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi.
Namun, di sisi lain, Amerika Serikat tetap melakukan persiapan apabila proses negosiasi gagal.
Penguatan militer di kawasan dinilai menjadi langkah antisipasi terhadap kemungkinan konflik lanjutan.
Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Washington melancarkan serangan pada malam 8 Juli 2026, dengan alasan Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang di kawasan Selat Hormuz.
Teheran mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik.
Panglima tertinggi Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Ia menegaskan setiap upaya pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke wilayah Iran akan dibalas dengan perlawanan nasional serta respons militer yang tegas.
Pernyataan itu disampaikan Hatami saat mengunjungi satuan Angkatan Darat, Pertahanan Udara, dan Angkatan Udara Iran di Provinsi Isfahan, Rabu (22/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Hatami menegaskan angkatan bersenjata Iran terus meningkatkan kesiapan tempur guna menghadapi segala bentuk ancaman dari luar negeri.
Menurutnya, Washington telah keliru jika menganggap kehadiran pasukan Amerika di Iran akan mendapat sambutan dari masyarakat.
"Dulu, Amerika mengira jika mereka menginjakkan kaki di wilayah Iran, mereka akan disambut. Sebaliknya, mereka akan menghadapi permusuhan dan tekad teguh rakyat Iran," kata Hatami.
Ia bahkan menegaskan, apabila terjadi invasi, jutaan warga Iran akan ikut mempertahankan negaranya bersama militer.
"Jika musuh menginjakkan kaki di wilayah Iran, mereka akan menghadapi jutaan warga Iran dengan senjata apa pun yang mereka miliki," tegas komandan militer tersebut.
Hatami mengatakan Iran tidak pernah menaruh kepercayaan penuh terhadap komitmen negara-negara lawan.
Karena itu, pemerintah terus memperkuat sistem pertahanan dan kemampuan tempur guna mengantisipasi kemungkinan pelanggaran perjanjian maupun aksi militer dari pihak luar.
"Kami tahu bahwa pihak lain dapat melanggar perjanjian apa pun dan melakukan tindakan gegabah. Oleh karena itu, Iran tidak pernah berhenti memperkuat pertahanan dan kemampuan tempurnya," katanya.
Selain memperingatkan soal kemungkinan invasi, Hatami juga menegaskan Iran tetap menguasai kawasan strategis Selat Hormuz.
Ia menyatakan setiap serangan yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran akan dibalas secara langsung.
"Kami akan membalas serangan Amerika jika diserang. Mereka harus memahami bahwa Republik Islam Iran adalah kekuatan besar dan akan membela martabat nasionalnya," tegasnya.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)