TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan menegaskan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan ramah bagi seluruh peserta didik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Erlina, mengatakan bahwa seluruh anak Indonesia merupakan tanggung jawab bersama, baik orang tua, sekolah, pemerintah, maupun masyarakat.
"Makna tema Hari Anak Nasional tahun ini adalah bahwa semua anak Indonesia berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan dan pendidikan yang layak untuk membangun masa depan yang lebih cerah," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Jumat (24/7/2026).
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Kabupaten Nunukan telah membentuk Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Kedepan, setiap satuan pendidikan diwajibkan membentuk Tim Pokja BSAN sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan dan perundungan.
Menurut Erlina, tim tersebut nantinya juga dapat menjadi salah satu wadah pengaduan apabila terjadi kasus yang melibatkan anak, seperti perundungan (bullying), kekerasan, maupun bentuk pelanggaran hak anak lainnya di lingkungan sekolah.
"Melalui Dana BOSDA, sekolah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan BSAN. Kami juga akan memperkuat kolaborasi lintas OPD serta memberikan pelatihan kepada kepala sekolah dan guru bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara, maupun perguruan tinggi," katanya.
Selain membentuk Tim Pokja BSAN, sekolah juga didorong bekerja sama dengan perangkat daerah terkait untuk menggelar sosialisasi, edukasi dan berbagai kegiatan pencegahan bullying maupun kekerasan terhadap anak.
Sebagai kabupaten yang terletak di perbatasan, Nunukan masih menghadapi tantangan dalam pemerataan akses pendidikan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Erlina menjelaskan, Disdik bersama sejumlah organisasi perangkat daerah telah menggelar rapat koordinasi dan membentuk Tim Koordinasi Pencegahan dan Penanganan ATS.
Tim tersebut saat ini sedang menyusun Rencana Aksi Daerah sebagai langkah strategis untuk menekan angka anak putus sekolah.
"Permasalahan Anak Tidak Sekolah menjadi perhatian serius. Karena itu kami melibatkan lintas sektor dalam penyusunan rencana aksi daerah agar penanganannya lebih terarah dan berkelanjutan," jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus memberikan kesempatan yang sama bagi anak berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah Kabupaten Nunukan juga menyediakan berbagai bentuk dukungan, seperti beasiswa bagi siswa berprestasi maupun siswa dari keluarga kurang mampu, serta layanan bus sekolah yang membantu peserta didik yang tinggal jauh darisekolah.
Dalam upaya meningkatkan perlindungan anak, Disdik terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai instansi, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Melalui Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, guru, peserta didik dan orang tua akan mendapatkan edukasi, sosialisasi, serta pendampingan mengenai perlindungan anak dan pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan sekolah.
"Kami akan terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam penanganan dan pendampingan kasus-kasus anak, sehingga sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik," pungkas Erlina.
(*)
Penulis: Fatimah Majid