TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS- Di Museum Situs Purbakala Patiayam Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus sepasang gading purba membentang lebih dari dua meter.
Gading berwarna cokelat kehitaman itu berurat retak yang menyimpan ratusan ribu tahun dalam seratnya.
Seorang lelaki paruh baya berkaus hitam berdiri khidmat di samping gading itu. Matanya menyusuri lekuk gading yang pernah menjadi milik makhluk raksasa pada zamannya. Ia tak bergerak seakan sedang berbincang diam-diam dengan masa lampau saat kata Kudus bahkan belum ada di dalam peta.
Lelaki berkaus hitam tersebut bernama Jamin, sosok yang setiap hari berjaga di antara jutaan tahun sejarah. Sebagai Koordinator Museum Purbakala Patiayam Kudus, dia bukan sekadar penjaga ruangan berisi tulang belulang peninggalan masa lampau. Lebih dari itu, dia juga penjaga ingatan geologis sebuah wilayah yang menjadi rumah makhluk purba.
Jamin sangat hafal setiap fosil purba yang dikoleksi di Museum Situs Purbakala Patiayam. Baginya, fosil-fosil itu merupakan penanda kehidupan di tanah kelahirannya sejak masa prasejarah.
Saking hafalnya, dia bisa menjelaskan secara runtut setiap fosil lengkap dengan kapan ditemukannya.
Fosil-fosil yang disimpan di Museum Patiayam merupakan hasil temuan di kebun yang menghampar di Perbukitan Patiayam. Bukit ini menjulang di sisi utara Desa Terban. Di bukit itu juga warga desa biasa menghabiskan waktu setiap hari untuk bercocok tanam.
Baca juga: Lengkap Jadwal Piala Presiden 2026 dan Daftar Klub Mulai Juli
“Kalau di Patiayam yang paling banyak ditemukan fosil peninggalan sejarah yaitu di Petak Slumprit dan Petak 21 C, itu memang kawasan emas penemuan fosil,” kata Jamin saat ditemui di Museum Purbakala Patiayam, Minggu (19/7/2026) sore.
Pertemuan dengan Jamin seolah melemparkan imajinasi ke era di mana Patiayam masih dihuni makhluk purba. Katanya, kehidupan purba di Patiayam sudah ada sejak 750 ribu tahun sampai 1,5 juta tahun yang lalu.
Era ini disebut pleistosen. Pengetahuan dan pengalaman Jamin ini tidak didapatkan begitu saja. Melainkan, dia telah bersinggungan langsung dengan sejumlah peneliti dan para arkeolog yang melakukan observasi lapangan atas temuan-temuan fosil di Patiayam.
“Ada banyak temuan fosil di sini. Fosil hewan laut, rawa, dan hewan darat,” kata Jamin menjelaskan.
Bahkan, kata dia, pernah ada temuan fosil yang merupakan bagian dari tulang hominid. Manusia purba jenis homo erectus yang secara evolusioner dekat dengan mansuia modern atau homo sapiens.
“Kalau dijumlah di sini (Museum Purbakala Patiayam) ada sebanyak sekitar 11.000 fragmen fosil purbakala yang tersimpan di sini,” kata dia.
Yang paling fenomenal dari temuan fragmen-fragmen fosil tersebut yaitu ditemukan tulang gajah purba yang telah membatu.
Tulang gajah tersebut terdiri atas berbagai bagian, mulai dari gading sampai tulang kaki. Semuanya masih tersimpan di museum. Gajah purba tersebut berjenis Stegodon Trigonocephalus.
Sampai saat ini, kata Jamin, masih banyak para peneliti atau arkeolog yang berdatangan ke Perbukitan Patiayam. Ada saja temuan-temuan baru dari datangnya para arkeolog ini. Terakhir temuan dari para warga yaitu fosil elephas hysudrindicus yang belakangan dilakukan ekskavasi oleh para arkeolog.
“Memang yang banyak menemukan yaitu warga kemudian diserahkan ke kami atau dilaporkan ke kami,” kata Jamin.
Disimpan di rumah
Museum ini ada sejak 2014. Sebelumnya, fosil-fosil temuan warga disimpan di rumah warga. Oleh Jamin saat era 2005 sampai 2010, fosil-fosil temuan tersebut disimpan di dua rumah milik warga, yaitu di rumah Ibu Siti dan Pak Rakijan.
Seiring semakin seringnya para peneliti datang akhirnya fosil itu dipindahkan ke Balai Desa Terban pada 2010.
Sampai pada akhirnya pada tahun 2014 fosil-fosil itu dipindahkan ke Museum Purbakala Patiayam yang berdiri di tanah milik Desa Terban.
“Saya masih ingat, mulai menempati museum ini pada 1 September 2014,” katanya.
Sampai saat ini, fosil-fosil purba masih acap ditemukan warga Terban. Oleh Jamin para penemu fosil itu didata. Benda temuannya diamankan di museum. Para penemu fosil itu kemudian diberi kompensasi.
Kompensasinya menyesuaikan dengan benda temuannya. Minimal kompensasi yang diserahkan yaitu Rp 250 ribu. Ada juga yang sampai Rp 5 juta.
“Paling fenomenal kalau di sini yaitu fosil gading gajah,” kata Jamin.
Hingga kini, museum ini menjadi semacam etalase kehidupan prasejarah di area Pantura Kudus. Tak ayal para pengunjung berdatangan ke mesuem ini untuk sekadar mengetahui.
Salah seorang pengunjung, Rahman asal Pati menuturkan, perlu ada penambahan luas museum. Sebab, kata dia, fosil yang dipajang di museum hanya sebagain kecil dari banyaknya temuan di Situs Purbakala Patiayam.
Memang benar apa yang disampaikan Rahman. Di lantai dua museum, masih sangat banyak tersimpan fragmen fosil yang jumlahnya ribuan. Semua itu disimpan dengan hati-hati oleh Jamin. Setiap benda temuan diidentifikasi dan didata. Kemudian disimpan pada rak-rak museum yang memenuhi isi lantai dua museum.
“Penambahan ini menurut saya bisa menambah kuantitas dan kualitas dari nilai sejarah yang bisa disajikan saat berkunjung ke Museum Patiayam. Karena menurut saya temuan yang dipajang di museum hanya garis besarnya saja. Belum merinci ke sejarah yang lebih mendalam. Jadi menurut saya perlu dikembangkan,” kata Rahman.
Kemudian, lanjut Rahman, agar Patiayam sebagai situs purbakala yang dilengkapi museum supaya lebih dikenal luas perlu diselenggarakan sejumlah even. Baginya, even yang mengundang banyak orang ke Situs Purbakala Patiayam bisa menjadi ajang promosi sekaligus pengenalan potensi prasejarah yang ada di sana.
“Atau para pengunjung juga bisa diajak ke lokasi temuan dengan datang langsung ke Bukit Patiayam,” katanya. (Goz).