Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Palu menata pedagang di kawasan Pasar Inpres Manonda mulai memasuki tahap persiapan.
Salah satunya ditandai dengan pembongkaran eks Terminal Manonda di Jl Labu, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat akan dialihfungsikan menjadi pasar tradisional.
Lokasi eks terminal yang berada di sisi selatan Pasar Inpres Manonda itu disiapkan sebagai tempat relokasi pedagang selama ini berjualan di badan maupun bahu jalan di sekitar kawasan pasar.
Baca juga: Apresiasi Program Live In Pemuda Interfaith, Miss Peuru: Momentum Perkuat Persatuan dan Toleransi
Pantauan TribunPalu.com, lokasi tersebut kini telah diratakan untuk persiapan pembangunan.
Disisi timur lahan tersebut terdapat baliho berukuran besar yang menampilkan ilustrasi bangunan pasar.
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari pendataan dan sosialisasi yang dilakukan Pemkot Palu pada Juni 2026.
Sebelumnya, pedagang yang berjualan di luar kawasan pasar, termasuk yang menggunakan kendaraan roda empat sebagai sarana berdagang, telah didata untuk selanjutnya diarahkan menempati lokasi baru.
Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu, Ahmad Rifai, mengatakan eks terminal tersebut diprioritaskan bagi pedagang yang selama ini berjualan di bahu jalan di kawasan Pasar Inpres Manonda.
"Lokasi eks terminal Balaroa nanti diprioritaskan untuk ditempati pedagang yang selama ini berdagang di bahu jalan kawasan sekeliling Pasar Inpres Manonda," ujarnya.
Rifai menjelaskan, proses relokasi belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena pembangunan lapak di lokasi tersebut masih menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu.
Menurutnya, setelah pembangunan selesai, pengelolaan pasar akan diserahkan kepada Disperindag Kota Palu sebelum pedagang dipindahkan.
"Untuk waktu relokasinya kami belum dapat infonya. Lahan baru diratakan beberapa waktu lalu. Setelah pembangunan lapak selesai, baru dilakukan relokasi," katanya.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, Disperindag telah menginventarisasi sekitar 600 pedagang yang berjualan di luar kawasan Pasar Inpres Manonda.
Baca juga: Rafiq Al Amri Bantah Hina Prof Zainal Abidin, Sebut Chat WhatsApp Hanya Pesan Terusan
Namun, data tersebut masih akan diverifikasi kembali untuk memastikan pedagang yang direlokasi benar-benar belum memiliki lapak tetap di dalam pasar maupun di kawasan ruko.
"Jangan sampai ada pedagang yang memiliki lapak ganda, sudah punya tempat di dalam pasar tetapi masih berjualan di luar. Sasaran kami adalah pedagang yang memang belum memiliki lapak tetap," jelasnya.
Ia menuturkan, relokasi dilakukan untuk mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan keselamatan pedagang dan masyarakat.
Selain memperlancar arus lalu lintas di sekitar Pasar Inpres Manonda, pedagang juga diharapkan tidak lagi berjualan di badan jalan yang berpotensi membahayakan keselamatan.
"Pedagang juga akan lebih terlindungi dari risiko kecelakaan lalu lintas maupun panas terik matahari," ujarnya.
Rifai menambahkan, setelah relokasi dilaksanakan, seluruh instansi terkait akan dilibatkan untuk mengawasi agar tidak ada lagi aktivitas jual beli di badan maupun bahu jalan kawasan Pasar Inpres Manonda.
Disperindag Palu juga akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan transaksi jual beli di ruas jalan sekitar pasar.
Pedagang Minta Kepastian Lapak
Di sisi lain, sejumlah pedagang mengaku tidak menolak rencana relokasi. Namun, mereka meminta pemerintah memastikan seluruh pedagang mendapatkan tempat berjualan yang layak.
Seorang pedagang, Subaidah, mengaku khawatir lokasi baru tidak mampu menampung seluruh pedagang yang selama ini berjualan di luar pasar.
Ia mengaku mendengar informasi bahwa pasar baru akan memiliki sekitar 600 petak, sementara jumlah pedagang diperkirakan lebih banyak.
Baca juga: Lirik Lagu Selaras Kata - Rizky Febian, Track Spesial di Album Berona
"Cuma yang saya dengar katanya 600 petak. Sementara ini kayaknya lebih dari 600 penjual keliling Pasar Inpres," katanya.
Subaidah telah berjualan sekitar 10 tahun itu juga berharap pemerintah mempertimbangkan kebiasaan pembeli yang selama ini berbelanja secara cepat tanpa harus turun dari kendaraan.
"Kalau maunya kita sih tetap di pinggir jalan. Kan sekarang juga jam 08.00 sudah bersih," ujarnya.
Senada dengan itu, pedagang lainnya, Sumasniati, mengatakan para pedagang siap mengikuti penataan selama seluruh pedagang mendapat tempat dan mekanisme pengelolaan pasar baru dijelaskan secara terbuka.
"Macam kita ini mau diatur asal ada tempat. Semuanya mau masuk asal ada tempat, jelas juga pengelolaannya, jangan nanti di sana bayar ini bayar itu," katanya.
Baca juga: SD Inpres 1 Tanamodindi Palu Gelar Pentas Bakat Peringati Hari Anak Nasional
Ia juga berharap kapasitas pasar baru benar-benar mampu menampung seluruh pedagang yang akan direlokasi sehingga proses penataan tidak menimbulkan persoalan baru bagi pedagang maupun masyarakat.(*)