TRIBUN-BALI.COM – Setelah perayaan Buda Keliwon Pegatuwakan pada 22 Juli 2026, umat Hindu di Bali kembali akan menyambut rerahinan Kajeng Kliwon Enyitan yang jatuh pada Senin, 27 Juli 2026 berdasarkan Kalender Bali.
Kajeng Kliwon Enyitan merupakan salah satu rerahinan atau hari suci dalam Kalender Bali yang memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Hindu.
Hari suci ini diyakini sebagai waktu ketika kekuatan niskala begitu kuat, sehingga umat Hindu dianjurkan memperbanyak persembahyangan, menghaturkan banten, serta melakukan penyucian diri untuk menetralisir pengaruh energi negatif.
Karena itulah, Kajeng Kliwon Enyitan menjadi momentum penting untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjaga keseimbangan antara bhuana alit (diri manusia) dan bhuana agung (alam semesta).
Kajeng Kliwon Enyitan adalah hari suci yang jatuh setelah Tilem (bulan mati) dalam sistem penanggalan Hindu Bali.
Kajeng Kliwon sendiri merupakan pertemuan Kajeng dalam siklus Tri Wara dengan Kliwon dalam siklus Panca Wara.
Baca juga: Nasib Kalung Emas Nyoman Cita yang Sudah Dilebur Toko Emas, Kini Polisi Sita Sebagai Barang Bukti
Pertemuan kedua wara tersebut dipercaya menghadirkan energi spiritual yang sangat kuat.
Dalam ajaran Hindu Bali, momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memohon perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menetralisir kekuatan negatif yang diyakini sedang aktif.
Jenis Enyitan menunjukkan bahwa Kajeng Kliwon tersebut berlangsung setelah Tilem, sehingga memiliki makna khusus sebagai masa penyucian setelah fase bulan gelap.
Kajeng Kliwon Enyitan dipercaya menjadi saat bertemunya energi dualitas alam semesta yang juga tercermin dalam diri manusia.
Karena itu, umat Hindu diajak untuk melakukan introspeksi, mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap berada di jalan dharma.
Hari suci ini juga dimaknai sebagai kesempatan untuk mengembalikan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan sehingga tercipta keseimbangan kehidupan.
Pada Kajeng Kliwon Enyitan, umat Hindu dianjurkan melaksanakan beberapa kegiatan spiritual, antara lain:
Melakukan persembahyangan di merajan, sanggah, atau pura.
Menghaturkan banten segehan, seperti segehan cacah dan segehan mancawarna, sebagai simbol menetralisir energi negatif atau Bhuta Kala.
Melaksanakan meditasi, yoga, semadhi, atau tapa brata sebagai sarana penyucian batin.
Memperbanyak doa serta introspeksi diri agar terhindar dari sifat-sifat negatif.
Dalam kehidupan spiritual umat Hindu Bali, Kajeng Kliwon Enyitan memiliki sejumlah fungsi penting, yaitu:
Menetralisir pengaruh energi negatif (Bhuta Kala).
Menjaga keseimbangan antara bhuana alit dan bhuana agung.
Menjadi waktu yang baik untuk melaksanakan upacara pasupati maupun meruat (penyucian) terhadap sarana upacara maupun benda-benda sakral.
Memohon keselamatan, kerahayuan, dan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Melalui pelaksanaan persembahyangan dan berbagai laku spiritual pada Kajeng Kliwon Enyitan, umat Hindu diharapkan mampu menjaga kesucian lahir dan batin,
mengendalikan diri dari pengaruh adharma, serta senantiasa memperoleh kerahayuan, keseimbangan, dan kedamaian dalam menjalani kehidupan.
(*)