Festival Krakatau 2026 Kehilangan Esensi Sejarah, Klasika Lampung Dorong Edukasi Bagi Publik
Reny Fitriani July 24, 2026 12:31 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Peringatan tragedi dahsyat letusan Gunung Krakatau 1883 dinilai terancam kehilangan esensi sejarahnya. 

Baca Juga: Kuasa Hukum Dendi Ramadhona Belum Tentukan Banding, Soroti Uang Pengganti Rp 21 M

Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menyebut gelaran Festival Krakatau 2026 semakin bergeser menjadi panggung hura-hura seremonial dan minim ruang edukasi sejarah bagi publik.

Padahal, agenda tahunan yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) tersebut memikul beban moral untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Lampung atas salah satu bencana terhebat dalam peradaban manusia.

Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung dan panitia penyelenggara tak boleh sekadar menjual pesta pora pariwisata.

Menurutnya, festival ini semestinya wajib dijadikan sebagai medium refleksi kritis serta sarana pembelajaran publik mengenai kebencanaan.

"Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan, ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan," ujar Mufid, Jumat (24/7/2026).

Festival Krakatau 2026 sendiri dijadwalkan bakal bakal dipusatkan di Kota Bandar Lampung, tepatnya di Lapangan Saburai Enggal mulai 25–30 Agustus 2026 mendatang. 

Sederet agenda hiburan, perlombaan, hingga wisata kuliner masif disiapkan untuk memanjakan para pengunjung.

Adapun rangkaian festival ini bakal diisi dengan pesta hiburan dan kompetisi seperti festival band, solo song, dance, Krakatau Run, balap perahu, hingga lomba layang-layang.

Ada pula karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, pameran seni rupa, kerajinan lokal, serta Pesona Kemilau Krakatau.

Tak hanya itu, ajang ini juga menawarkan wisata kuliner dan edukasi seperti Mengan Balak, Seruit Battle, festival kuliner, hingga tur edukasi ke Gunung Anak Krakatau.

Meski diproyeksikan sukses menyedot partisipasi ribuan pengunjung, Klasika menilai jajaran acara megah tersebut justru menyisakan 'lubang besar' kekosongan substansi sejarah lokal. 

Generasi muda dikhawatirkan hanya menikmati semarak pesta tanpa memahami memori kelam dan nilai historis di balik nama besar Krakatau.

Menjawab kehampaan edukasi tersebut, Klasika mengusulkan agar panitia menghadirkan Dr. Suryadi, akademisi sekaligus peneliti naskah kuno dari Universitas Leiden, Belanda.

Dr. Suryadi merupakan pakar yang meneliti secara mendalam naskah langka "Syair Lampung Karam", karya monumental sastrawan pribumi Muhammad Saleh yang merekam detik-detik kiamat kecil saat Krakatau meletus pada 1883 dari kacamata masyarakat lokal.

"Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik," terang Mufid.

Mufid menilai, karya tersebut memiliki nilai vital sebagai sumber pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang amat ampuh membangun literasi kebencanaan berbasis pengalaman sejarah masyarakat Lampung.

Menurutnya, membiarkan festival berjalan tanpa penguatan aspek edukasi ini berisiko mengaburkan makna historis peristiwa tersebut.

"Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung," lugasnya.

Atas dasar itu, Klasika mendorong Pemerintah Provinsi Lampung dan seluruh pihak terkait untuk melakukan evaluasi mendasar. 

Porsi ruang akademis dan edukasi yang lebih serius dan terstruktur harus diberi panggung utama dalam penyelenggaraan Festival Krakatau ke depan.

Penguatan tersebut dapat diwujudkan melalui ruang-ruang diskusi publik, pameran arsip dan naskah sejarah langka, pemutaran film dokumenter, hingga kolaborasi berkelanjutan bersama para akademisi dan peneliti.

Dengan hadirnya ruang edukasi yang kuat, Festival Krakatau diharapkan tak sekadar berakhir sebagai ajang hiburan musiman yang hampa makna, melainkan bertransformasi menjadi wahana pembelajaran yang kaya akan pesan sejarah dan identitas kebudayaan bagi masyarakat luas.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.