TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Di tengah deretan gedung pencakar langit dan deretan proyek pembangunan yang terus tumbuh di Jakarta, masih sebuah sekolah negeri yang selama hampir dua tahun hanya menyisakan bangunan roboh.
Bagi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, fakta itu bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan tamparan bagi dirinya sebagai kepala daerah.
Bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan, telah roboh sejak 2024, sebagian ruang kelas kini tampak tak beratap lagi.
Selama itu pula, para siswanya terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar dengan berbagai keterbatasan setelah dipindah ke sekolah lain dan harus berbagi ruang belajar.
Kondisi tersebut baru belakangan menjadi perhatian luas setelah videonya beredar di media sosial.
Pramono mengaku baru mengetahui persoalan itu dan ia pun turut mengungkapkan rasa kecewanya karena masih ada sekolah negeri di Jakarta yang kondisinya memprihatinkan.
“Yang jelas bagi Jakarta, terutama bagi saya pribadi, pendidikan yang kemudian seperti itu benar-benar menampar muka saya lah gitu,” ucap Pramono saat ditemui di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Kamis (23/7/2026).
Pengakuan itu menjadi refleksi bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan Pemprov DKI Jakarta, terutama di sektor pendidikan yang selama ini selalu disebut sebagai layanan dasar.
Sejak bangunan sekolah mengalami kerusakan parah, ratusan siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 harus menjalani aktivitas belajar di sekolah lain.
Keterbatasan ruang membuat kegiatan belajar dilakukan secara bergantian atau shifting, sehingga proses belajar mengajar tidak berlangsung secara normal.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik berbagai capaian pembangunan Jakarta, masih ada fasilitas pendidikan yang luput dari perhatian.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, Pramono memastikan persoalan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 tidak akan dibiarkan berlarut-larut.
Ia mengatakan telah menggelar rapat bersama jajarannya dan berencana meninjau langsung sekolah tersebut.
“Kemarin sudah kita rapatkan, hari ini kita rapatkan untuk diputuskan, besok saya melakukan kunjungan lapangan,” katanya.
Menurut Pramono, pendidikan merupakan salah satu layanan dasar yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah.
Pramono mengakui pembangunan kembali sekolah itu belum dapat menggunakan APBD maupun APBD Perubahan karena anggarannya belum tersedia.
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan sekolah tetap terbengkalai.
Sebagai solusi, Pemprov DKI Jakarta akan memanfaatkan sumber pendanaan lain, salah satunya dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB).
“Saya sudah memerintahkan walaupun anggarannya belum ada di APBD atau APBD Perubahan, kita bisa menggunakan dana-dana yang ada, salah satunya KLB dan sebagainya. Intinya hari ini nanti siang ini saya akan segera memutuskan kapan ini akan dibangun,” kata Pramono.
Ia menilai dana KLB dapat dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan fasilitas publik yang mendesak, termasuk sekolah.
Bagi Pramono, pendidikan, kesehatan, dan persoalan sosial merupakan tiga sektor paling mendasar yang harus dibenahi di Jakarta.
“Intinya adalah pendidikan bagi saya, pendidikan, kesehatan dan sosial, itu bagi saya adalah hal yang paling mendasar yang harus diperbaiki di Jakarta,” ucapnya.
Kasus SDN Kebayoran Lama Selatan 09 kini menjadi lebih dari sekadar persoalan bangunan sekolah yang roboh.
Pengakuan Pramono bahwa kondisi itu menjadi “tamparan” bagi dirinya telah disampaikan ke publik. Kini, perhatian masyarakat beralih pada langkah nyata Pemprov DKI Jakarta.
Sebab setelah hampir dua tahun siswa belajar dalam keterbatasan, yang paling ditunggu bukan lagi pengakuan, melainkan dimulainya pembangunan kembali sekolah tersebut.