Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Keluhan warga Desa Talang Pauh, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, terkait maraknya truk pengangkut kelapa sawit bermuatan berlebih yang melintasi jalan desa ramai diperbincangkan di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, warga meminta pemerintah dan aparat berwenang segera mengambil tindakan terhadap truk-truk yang diduga mengangkut muatan melebihi kapasitas.
Warga juga menyoroti adanya pengawalan terhadap iring-iringan truk sehingga pengguna jalan lain diminta menepi saat kendaraan melintas.
"Di Desa Talang Pauh setiap hari lewat fuso muatan sawit. Kalau lewat ada pengawalan, orang disuruh minggir. Ini jalan bukan untuk fuso muatan sawit. Muatannya melebihi," tulis akun media sosial yang mengunggah keluhan tersebut.
Unggahan itu pun mendapat banyak tanggapan dari warganet. Sebagian meminta agar kendaraan yang diduga melanggar aturan difoto dan diviralkan sebagai bukti, sementara yang lain menilai truk bermuatan berlebih hanya akan mempercepat kerusakan jalan dan membahayakan pengguna jalan.
Menanggapi keluhan yang beredar di media sosial tersebut, Kepala Desa Talang Pauh, Idil Fitri, mengaku belum menerima laporan resmi dari masyarakat terkait dugaan adanya pengawalan terhadap truk pengangkut kelapa sawit.
"Kalau terkait hal itu saya belum mendapatkan laporan dari masyarakat. Tetapi ada yang saya dengar, mobil fuso lewat malam-malam hingga memutus kabel milik warga. Namun saya tidak tahu apa muatannya," kata Idil Fitri saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, Idil membenarkan bahwa truk pengangkut kelapa sawit dengan muatan berlebih memang kerap melintasi jalan di Desa Talang Pauh. Bahkan, menurutnya, tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sering disusun hingga lima tingkat di atas bak truk.
"Kalau soal mobil truk yang membawa kelapa sawit dengan muatan berlebih itu memang sering melintas, kadang sampai lima tingkat kelapa sawit di atas bak truk. Secara berat kendaraan tentu sudah melebihi kapasitas," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mempercepat kerusakan jalan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat.
Muatan TBS yang ditumpuk terlalu tinggi berpotensi jatuh sewaktu-waktu dan menimpa pengendara lain yang melintas.
"Selain bisa mempercepat kerusakan jalan, hal itu juga membahayakan masyarakat karena sangat rentan tandan kelapa sawit itu jatuh dan menimpa pengendara lain," jelasnya.
Sebagai pemerintah desa sekaligus warga, Idil mengaku keberatan dengan kondisi tersebut. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah maupun Polres Bengkulu Tengah segera mengambil langkah penertiban terhadap kendaraan angkutan sawit yang diduga membawa muatan melebihi kapasitas.
"Saya secara pemerintah desa dan sebagai masyarakat merasa keberatan dengan kondisi ini. Kami berharap ada kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah atau Polres Bengkulu Tengah untuk menertibkan kendaraan itu," tutupnya.