Bawa Prestasi hingga Kancah Internasional, Bunga Sekar Anjani Gagal Lolos SPMB
Dwi Rizki July 24, 2026 02:22 PM

WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Mimpi seorang atlet sepak bola, Bunga Sekar Anjani untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri melalui jalur prestasi nonakademik harus kandas dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru 2026.

Keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi yang dialami putrinya, mulai dari penilaian sertifikat hingga transparansi sistem.

Ibunda Bunga, Suryanah mengatakan putrinya bukan atlet biasa. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia aktif menekuni sepak bola dan telah mengoleksi sejumlah prestasi.

Bahkan, saat proses SPMB berlangsung, Bunga tengah mengikuti pertandingan di Kudus sebelum melanjutkan kompetisi ke Swedia melalui ajang yang menjadi jalur menuju Gothia Cup.

Baca juga: Bela Satpam di Bundaran HI, Pramono Sebut Sopir Alphard Melanggar dan Diduga Pakai Pelat Nomor Palsu

Suryanah mengatakan keluarga telah mengikuti seluruh prosedur yang ditetapkan dalam sistem.

Mereka memilih SMAN 2 Tangsel sebagai tujuan pertama dan mendaftarkan Bunga melalui jalur prestasi nonakademik dengan melampirkan sertifikat yang telah diverifikasi panitia.

"Ikutinlah alurnya, kita sudah ikutin alurnya. Sudah diverifikasi, kita sudah diverifikasi. Kami tinggal menunggu pendaftarannya," ujar Suryanah kepada TribunTangerang.com di kediamannya, Serpong, Tangsel, Jumat (24/7/2026).

Namun, saat hasil seleksi diumumkan, keluarga mengaku terkejut. Nama Bunga disebut tidak pernah muncul dalam daftar peringkat peserta jalur prestasi nonakademik, meski status di laman SPMB akhirnya tertulis 'tidak diterima'. 

"Nama Bunga nggak muncul sama sekali. Harusnya kalau tersingkir, kelihatan dulu namanya. Ini mah nggak muncul sama sekali," kata Suryanah.

Keluarga mempertanyakan penilaian terhadap sertifikat prestasi yang dimiliki Bunga.

Menurut mereka, sertifikat dari Liga SKF yang menjadi bagian dari kualifikasi Gothia Cup diduga hanya dihitung sebagai prestasi nasional tidak berjenjang dengan bobot sembilan poin, padahal belakangan mereka mengetahui kompetisi tersebut diduga masuk kategori berjenjang dengan bobot lebih tinggi.

Sementara itu, Ayah Bunga, Agus, mengaku baru memahami ketentuan dalam petunjuk teknis (juknis) setelah proses seleksi selesai. 

Ia menilai minimnya sosialisasi membuat orang tua kesulitan memahami dasar penilaian prestasi.

"Kalau memang benar Liga SKF itu berjenjang, kenapa dimasukinnya ke yang tidak berjenjang? Kita kan baru tahu setelah mempelajari juknis," ujar Agus.

Persoalan tidak berhenti di sekolah pilihan pertama. Saat mendaftar ke SMAN 7 Tangsel sebagai pilihan kedua, keluarga mengaku kembali menemui kendala karena sistem menampilkan status Bunga belum terverifikasi, padahal dokumen sebelumnya telah dinyatakan lolos verifikasi di sekolah pertama.

"Katanya Bunga tidak terverifikasi, padahal kami punya bukti sudah terverifikasi. Harusnya kalau sistemnya sudah terhubung, datanya terbaca di mana pun," kata Agus.

Di balik persoalan administrasi tersebut, keluarga mengaku lebih terpukul melihat dampaknya terhadap mental sang anak. 

Selama mengikuti pertandingan di luar negeri, Bunga terus menanyakan perkembangan hasil SPMB tanpa mengetahui dirinya telah dinyatakan tidak diterima.

"Dia nanya terus, 'Ma, gimana sekolah aku?' Saya cuma bilang, 'Tunggu ya, fokus tanding dulu' Saya nggak mau mentalnya terganggu saat bertanding," tutur Suryanah.

Sepulang dari Swedia, harapan Bunga untuk mengenyam pendidikan di SMA negeri pupus. Keluarga akhirnya mendaftarkan Bunga ke sekolah swasta agar tidak kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan, meski pilihan tersebut bukan yang diinginkan sejak awal.

Suryanah berharap pengalaman yang dialami putrinya menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara SPMB, terutama dalam aspek transparansi penilaian, sosialisasi aturan, dan penghargaan terhadap prestasi atlet pelajar. (m30)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.