TRIBUNJOGJA.COM – Menjelang penayangan film Memburu Pemangsa, Sinemaku Pictures memilih cara yang berbeda untuk memperkenalkan karya terbarunya.
Alih-alih hanya mengandalkan teaser, trailer atau poster, rumah produksi tersebut menghadirkan website memburupemangsa.com sebagai bagian dari kampanye film.
Website tersebut bukan sekadar memuat informasi mengenai cerita, karakter, maupun dunia yang dibangun dalam Memburu Pemangsa.
Di dalamnya, pengunjung juga diperkenalkan dengan teori demonologi yang menjadi bagian dari cerita, sekaligus menemukan informasi terkait kampanye perlindungan anak.
Langkah ini menjadi cara Sinemaku Pictures memperluas pengalaman penonton sebelum memasuki bioskop.
Film tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga membuka ruang interaktif mengenai isu yang diangkat dalam ceritanya.
Keputusan Sinemaku Pictures menghadirkan website khusus bukan tanpa alasan.
Film Memburu Pemangsa memang mengangkat kisah fiksi, tetapi berangkat dari persoalan yang masih menjadi perhatian, yakni kasus penculikan anak.
Melalui website tersebut, Sinemaku Pictures ingin mengajak masyarakat melihat bahwa ancaman terhadap anak-anak bukan sekadar cerita di layar lebar.
Isu tersebut masih dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari sehingga membutuhkan kepedulian bersama.
Sutradara Umay Shahab mengatakan kampanye ini dibuat agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya perlindungan anak.
Kasus penculikan anak merupakan persoalan yang menimbulkan keprihatinan sehingga diharapkan kampanye ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada.
Website memburupemangsa.com juga menjadi penghubung antara dunia film dan dunia nyata.
Selain memperkenalkan cerita, karakter, serta teori demonologi yang menjadi bagian dari semesta Memburu Pemangsa, pengunjung dapat menemukan informasi mengenai kampanye #JagaAnakAnak hingga kanal informasi yang dapat diakses apabila menghadapi kasus penculikan anak.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Sinemaku Pictures mengajak masyarakat membagikan identitas digital bertajuk "Kartu Pemburu" melalui media sosial.
Kampanye ini diharapkan mampu memperluas pesan film sekaligus mengingatkan bahwa menjaga anak-anak bukan hanya tugas keluarga atau aparat, melainkan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.
Pendekatan seperti ini masih jarang dilakukan dalam promosi film Indonesia. Alih-alih berhenti pada materi promosi konvensional, Memburu Pemangsa mencoba membangun keterlibatan penonton melalui media digital yang menghubungkan cerita fiksi dengan isu sosial yang diangkat dalam film.
Baca juga: Yogi Nekat Pakai Baju Ksatria Baja Hitam Saat Ujian Proposal Tesis di USD
Memburu Pemangsa menjadi debut Umay Shahab menggarap film bergenre horror crime action sekaligus disebut sebagai proyek paling ambisius Sinemaku Pictures hingga saat ini.
Memburu Pemangsa mengikuti perjalanan empat jurnalis investigasi yang memburu dalang di balik serangkaian kasus penculikan anak.
Agnes (Laura Basuki), Cia (Prilly Latuconsina), Anya (Yasamin Jasem), dan Brina (Taskya Namya) bekerja sama mengungkap misteri tersebut.
Mereka dibantu Petra (Andri Mashadi), seorang penyidik yang ikut menelusuri jejak pelaku.
Namun semakin dekat mereka pada kebenaran, semakin tipis pula batas antara kenyataan dan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika.
Sosok pemangsa yang diperankan Rifnu Wikana bukan hanya melakukan kejahatan terhadap anak-anak, tetapi juga digambarkan memiliki hubungan dengan kekuatan iblis.
Di balik atmosfer horor yang mencekam, Memburu Pemangsa membawa pesan yang lebih dalam.
Melalui kampanye #JagaAnakAnak, Umay Shahab ingin mengingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh dengan rasa aman.
Horor dalam film ini bukan sekadar tentang makhluk gaib, melainkan juga tentang kejahatan yang dilakukan manusia terhadap mereka yang paling rentan.
Memburu Pemangsa dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.
Lewat perpaduan horor, kriminal, dan aksi investigasi, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton merenungkan pentingnya menjaga anak-anak dari ancaman yang bisa datang dari mana saja. (MG Natasya Aulia)