TRIBUNJOGJA.COM- Tidak semua hubungan berjalan dengan sehat.
Ada hubungan yang dipenuhi pertengkaran, manipulasi, sikap merendahkan, hingga membuat salah satu pihak merasa tertekan secara emosional.
Kondisi seperti ini sering dikenal sebagai toxic relationship.
Meski menyadari hubungan tersebut tidak sehat, tidak sedikit orang yang tetap memilih bertahan.
Hal ini sering memunculkan pertanyaan, mengapa seseorang sulit meninggalkan hubungan yang justru membuatnya terluka?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena masih cinta atau belum bisa move on.
Berbagai penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa keputusan untuk bertahan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Mulai dari ikatan emosional, harapan pasangan akan berubah, rasa takut kehilangan, hingga perubahan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Bertahan Bukan Berarti Menikmati Hubungan yang Tidak Sehat
Bagi orang yang tidak pernah mengalaminya, keluar dari hubungan toxic mungkin terlihat mudah.
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Hubungan yang tidak sehat sering kali tidak dipenuhi konflik setiap saat.
Ada kalanya pasangan kembali bersikap hangat, meminta maaf, atau menunjukkan perhatian setelah terjadi pertengkaran.
Momen-momen tersebut membuat seseorang kembali berharap bahwa hubungan mereka masih bisa diperbaiki.
Menurut berbagai penelitian, kondisi tersebut dapat membentuk pola yang terus berulang.
Setelah konflik mereda, hubungan terasa membaik.
Namun, tidak lama kemudian perilaku yang sama kembali muncul.
Siklus inilah yang membuat sebagian orang kesulitan melihat kondisi hubungannya secara utuh dan memilih bertahan dengan harapan keadaan akan berubah.
Trauma Bonding, Ikatan Emosional yang Membuat Sulit Pergi
Selain dipengaruhi oleh rasa sayang atau harapan, berbagai penelitian juga menemukan bahwa banyak orang bertahan karena mengalami trauma bonding.
Yaitu ikatan emosional yang terbentuk ketika seseorang berulang kali menerima perlakuan menyakitkan, tetapi sesekali juga mendapatkan kasih sayang, perhatian, atau permintaan maaf dari pasangannya.
Pola tersebut membuat seseorang berada dalam situasi yang membingungkan.
Di satu sisi, ia merasa terluka oleh perlakuan pasangannya. Namun, di sisi lain, ia masih mengingat berbagai momen baik yang pernah dialami bersama.
Akibatnya, harapan untuk mempertahankan hubungan terus muncul meskipun perilaku yang menyakitkan kembali terulang.
Trauma bonding tidak membuat seseorang menikmati hubungan yang tidak sehat.
Sebaliknya, kondisi ini justru membuat keputusan untuk pergi terasa jauh lebih sulit karena seseorang terus berharap bahwa pasangan dan hubungannya akan berubah menjadi lebih baik.
Harapan Pasangan Akan Berubah
Selain trauma bonding, banyak orang memilih bertahan karena percaya pasangannya suatu saat akan berubah.
Harapan ini biasanya muncul ketika pasangan mengakui kesalahannya, meminta maaf, atau berjanji tidak akan mengulangi perilaku yang sama.
Janji tersebut sering kali membuat seseorang kembali memberikan kesempatan.
Terlebih jika sebelumnya pasangan pernah menunjukkan perubahan, meski hanya berlangsung sementara.
Kondisi ini membuat harapan terus muncul, sehingga keputusan untuk mengakhiri hubungan terasa semakin sulit.
Berharap pasangan menjadi pribadi yang lebih baik tentu bukan hal yang salah.
Namun, perubahan yang sehat membutuhkan kesadaran, komitmen, dan usaha yang dilakukan secara konsisten.
Jika perilaku yang menyakitkan terus berulang tanpa adanya perubahan nyata, hubungan tersebut berisiko kembali masuk ke siklus yang sama.
Takut Kehilangan dan Perubahan Cara Memandang Diri Sendiri
Rasa takut kehilangan juga menjadi salah satu alasan yang membuat seseorang sulit meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Setelah menjalin hubungan dalam waktu lama, sebagian orang merasa hidupnya sudah sangat bergantung pada pasangan.
Ada yang takut memulai hidup dari awal, khawatir tidak menemukan pasangan lain, atau merasa semua waktu dan perasaan yang telah diberikan akan sia-sia jika hubungan berakhir.
Di sisi lain, hubungan yang berlangsung lama juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Adanya kritik, hinaan, sikap merendahkan, atau manipulasi yang terjadi secara berulang dapat mengikis rasa percaya diri.
Akibatnya, seseorang mulai merasa dirinya tidak cukup baik atau tidak pantas mendapatkan hubungan yang lebih sehat.
Kondisi tersebut membuat keputusan untuk pergi menjadi semakin berat. Bukan karena hubungan itu membahagiakan, melainkan karena seseorang mulai meragukan kemampuannya untuk menjalani hidup tanpa pasangan atau membangun hubungan yang lebih baik di masa depan.
Tidak Ada Kata Terlambat untuk Keluar dari Hubungan yang Tidak Sehat
Mengakhiri hubungan toxic memang bukan keputusan yang mudah.
Setiap orang memiliki pengalaman dan situasi yang berbeda, sehingga proses untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat juga tidak bisa disamakan.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa hubungan yang sehat seharusnya menghadirkan rasa aman, saling menghargai, dan memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk bertumbuh.
Jika sebuah hubungan lebih sering diwarnai rasa takut, tekanan emosional, atau manipulasi, kondisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai hal yang wajar.
Apabila merasa kesulitan menghadapi situasi tersebut seorang diri, mencari dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang membantu.
Terlebih jika hubungan sudah melibatkan ancaman atau kekerasan, keselamatan diri perlu menjadi prioritas utama.
Memutuskan untuk mengakhiri hubungan toxic bukanlah keputusan yang egois.
Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menjadi bentuk menghargai diri sendiri sekaligus membuka kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat selanjutnya.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)