– Rusia menyerukan agar konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak terus berlanjut di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan kelanjutan konflik tidak menguntungkan kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Lavrov dalam konferensi pers di Pasay, Filipina, pada Rabu (22/7/2026).
Menurut Lavrov, memang ada pihak-pihak yang ingin mendorong konflik antara Washington dan Teheran terus berlanjut.
Namun, ia menegaskan Rusia bukan bagian dari pihak yang menginginkan eskalasi tersebut.
Lavrov juga menepis tudingan yang menyebut Rusia dan China memasok senjata kepada Iran untuk menyerang fasilitas militer Amerika Serikat.
Ia menilai tuduhan tersebut tidak berdasar dan menyebut narasi yang berkembang di Barat, khususnya di Washington, semakin sulit dipercaya.
Sebaliknya, Lavrov justru menuding Amerika Serikat terlibat langsung dalam konflik Rusia-Ukraina.
Menurutnya, Washington tidak hanya memasok persenjataan, tetapi juga memberikan data intelijen, termasuk melalui sistem satelit Starlink, yang disebut digunakan untuk mengarahkan serangan Ukraina ke wilayah Rusia.
Selain menyoroti konflik Timur Tengah, Lavrov juga mengungkapkan kekhawatiran Rusia terhadap perkembangan program nuklir di Eropa.
Ia menyinggung proyek AUKUS yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, serta menyatakan implementasinya dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan standar Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
Lavrov juga menyoroti informasi intelijen Rusia yang menyebut Jerman berupaya memperkuat kemampuan pencegahan nuklirnya.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi perhatian serius bagi Rusia maupun negara-negara anggota ASEAN.