TRIBUNJATENG.COM, BREBES -Kondisi banjir rob yang kerap merendam pesisir pantai utara (Pantura) khususnya tak membuat pemerintah diam.
Pemerintah pusat dikabarkan bahkan membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall di sepanjang bibir pantai khususnya di Brebes.
Di Kabupaten Brebes sendiri, direncanakan masuk seksi ke 9 dengan panjang tanggul laut raksasa 71 KM.
Baca juga: 10,9 Kilometer Pantai Jepara Diusulkan Masuk Program Giant Sea Wall
Pemkab Brebes mengaku menyambut baik proyek nasional tersebut, karena saat ini sudah banyak tambak warga yang hilang.
Saat ini, rencana pembangunan Giant Sea Wall masih dalam tahap pematangan melalui Badan Pengelolaan Otoritas Pantai Utara Jawa.
Dengan posisi pembangunan sekitar 2 hingga 6 kilometer dari bibir pantai.
"Kondisi pembangunan Giant Sea Wall dari pemerintah pusat memang kita harapkan karena kondisi pesisir kita itu sepanjang 71 KM ini di 14 desa 5 kecamata sudah cukup parah."
"Banyak tambak kita yang sudah tidak berfungsi, harapan kita sih dengan pembangunan giant sea wall ini bisa memperbaiki kondisi perbaikan penanganan kondisi petani tambak," ujar Eko Supriyanto Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes saat ditemui di kantornya Jumat 24 Juli 2026.
Eko menyebut, di Kecamatan Losari saja ada ratusan hektar tambak yang rusak bahkan hilang.
"Kondisi terakhir saja kemarin di wilayah Losari tahun 2025 ada 150 hektar tambak kita yang kembali hilang. Sehingga harapan kami memang betul-betul dibutuhkan untuk kesejahteraan masyarakat Brebes," terangnya.
Menurut Eko, pembangunan tanggul raksasa juga berdampak pada perubahan pada biota laut dan juga kehidupan nelayan.
"Misalnya dengan nelayan kecil kita yang menangkap ikan di bawah 12 mil mungkin tangkapannya akan berbeda berkurang dan mungkin berbeda karena ikan tangkapannya yang berkurang," terangnya.
Nelayan Masih Minim Pemahaman
Sejumlah nelayan mengaku masih belum tahu menahu soal rencana pembangunan tembok raksasa tersebut.
Nelayan mengaku, sama sekali tidak menerima sosialisasi dampak dari pembangunan giant sea wall.
Baca juga: Proyek Giant Sea Wall Harus Libatkan Komunitas Pesisir
Rusianto misalnya, nelayan dari Desa Krakahan, Kecamatan Tanjung mengaku belum tahu sama sekali menerima sosialisasi terkait pembangunan giant sea wall tersebut. Bahkan, hanya sekedar membayangkan saja tidak bisa.
Ia hanya berharap, pembangunannya nanti bisa bermanfaat.
"Kayaknya keluar masuk dari laut ke pantainya itu pak, karena selama ini sering dangkal. Kapal susah masuk susah keluar, itu mungkin keluhan masyarakat kita nelayan Krakahan," tandasnya. (Pet)