Jateng Guyub Bunyikan Tanda Bahaya Soal Kerusakan Lingkungan dan Kriminalisasi Petani
rika irawati July 24, 2026 08:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Bunyi kentongan tanda bahaya terdengar di depan kantor Gubernur Jateng, di Kota Semarang, Jumat (24/7/2026) sore.

Kentongan tersebut dibunyikan ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Jateng Guyub. 

Aliansi tersebut terdiri dari warga Jateng yang berasal dari 22 kabupaten/kota, korban kriminalisasi, tambang, dan lingkungan. 

Di sela membunyikan kentongan, massa aksi melakukan orasi yang mengeluhkan sejumlah persoalan di wilayah mereka, di antaranya konflik tambang yang tidak kunjung usai.

Koordinator Aksi dari Aliansi Jateng Guyub Joko Prianto mengatakan, peserta aksi memukul kentongan tanda bahaya sebagai pengingat kondisi Jateng yang tidak baik-baik saja.

Baca juga: Massa Jateng Guyub Klaim Dapur Rakyat Lebih Baik dari Program MBG

Joko Prianto mengatakan, saat ini, Jateng mengalami kerusakan lingkungan hingga marak kriminalisasi petani.

"Kami nilai, kondisi di Jateng saat ini dalam kondisi bahaya," ujarnya.

Prianto merinci, kondisi bahaya di Jateng bisa dilihat dari kerusakan lingkungan yang sudah terjadi di Rembang, Pati, Blora, Jepara, Magelang, hingga Klaten. 

Di daerah itu, banyak aktivitas tambang sehingga menimbulkan banyak kerusakan alam.

Di sisi lain, tidak ada penegakan hukum yang tegas dari aparat.

Mengenai persoalan kriminalisasi, di Jateng telah ada belasan pejuang lingkungan yang dilaporkan polisi, meliputi dua petani Dayunan Kendal, tiga pejuang Lingkungan Sumberrejo-Jepara.

Baca juga: Aliansi Guyub Jateng Geruduk Kantor Gubernur, Tuntut Penghentian Kriminalisasi Pejuang Lingkungan

Berikutnya, empat petani Simbangdesa Batang, lima petani Pundenrejo Pati, satu pejuang lingkungan Kendeng dan pejuang lingkungan di Blora.

"Iya, dua persoalan itu saja, pemerintah belum bisa menyelesaikan," katanya.

Selepas aksi Jateng Guyub selama tiga hari ini, pihaknya bakal melakukan aksi kembali saat tuntutan belum dipenuhi dan kerusakan lingkungan masih di terjadi di Jateng.

"Gerakan Jateng Guyub merupakan gerakan permulaan, jika belum terpenuhi, kami akan kembali," tuturnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.