TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat memastikan progres perbaikan Jalur Malalak di Kabupaten Agam telah mencapai 98 persen.
Ruas jalan yang sempat terputus akibat bencana galodo pada akhir 2025 itu kini sudah dapat dilalui kendaraan secara terbatas.
Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, mengatakan pekerjaan fungsional pada jalur tersebut telah selesai sehingga kendaraan sudah bisa melintas, meski kondisi jalan belum sepenuhnya permanen.
"Kalau Jalur Malalak, pekerjaan fungsionalnya sudah selesai. Ruas jalan sudah bisa dilalui secara terbatas karena memang pengaspalannya belum dilakukan. Ini merupakan bagian dari pengadaan barang dalam keadaan darurat," kata Elsa kepada TribunPadang.com, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, setelah penanganan darurat selesai, BPJN akan melanjutkan pekerjaan permanen agar kondisi jalan menjadi lebih baik dan nyaman dilalui.
Baca juga: Antrean BBM Sumbar Bukan karena Stok Habis, Gubernur Diminta Jelaskan ke Publik
Secara fisik, kata Elsa, progres perbaikan di lapangan telah mencapai sekitar 98 persen. Saat ini pekerjaan yang tersisa hanya tahap perapian.
"Kalau secara fisik di lapangan sudah 98 persen, tinggal perapian-perapian saja lagi. Jalur itu sudah bisa dilewati," ujarnya.
Meski demikian, Elsa mengingatkan pengguna jalan agar tetap berhati-hati.
Sebab, lapisan perkerasan jalan belum sempurna sehingga saat hujan kondisi jalan masih berpotensi licin dan menyulitkan kendaraan.
"Karena kondisi perkerasannya belum sempurna, nanti saat hujan memang agak susah. Tapi kalau sekarang sudah bisa dilewati secara terbatas. Truk juga sudah banyak yang lewat," katanya.
Baca juga: Musdalub Demokrat Sumbar Dibuka, Sekjen Demokrat hingga Wamen Ketenagakerjaan Hadir di Padang
BPJN Sumbar menargetkan seluruh pekerjaan penanganan Jalur Malalak selesai pada 31 Juli 2026.
Diketahui, Jalur Malalak mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir bandang atau galodo yang melanda Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, pada akhir November hingga awal Desember 2025.
Curah hujan tinggi memicu longsoran material dari kaki Gunung Singgalang yang menerjang permukiman warga, lahan pertanian, serta memutus jalur alternatif Padang–Bukittinggi melalui Malalak.
Sejak bencana tersebut, akses transportasi di jalur alternatif itu sempat tidak dapat dilalui hingga akhirnya dilakukan penanganan darurat oleh pemerintah melalui BPJN Sumbar. (*)