TRIBUNWOW.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah dan ditutup di zona negatif pada perdagangan sesi kedua. Penurunan signifikan ini didorong oleh sejumlah sentimen global yang kembali memanas.
Koreksi IHSG dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik yang membuat harga minyak acuan Brent kembali menembus level 100 dolar AS per barel, level tertinggi yang terakhir kali tersentuh pada bulan Mei. Selain itu, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga kembali mengalami penguatan ke kisaran angka 18.000, setelah sempat stabil di level 17.800 hingga 17.900 dalam beberapa hari terakhir.
Meskipun demikian, para analis menilai volatilitas tinggi ini merupakan fase koreksi sehat yang wajar terjadi setelah pasar mengalami reli yang kuat. Sinyal perlawanan atau rebound IHSG diproyeksikan akan dipimpin oleh pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai salah satu proksi utama Indonesia. Pada perdagangan sebelumnya, BBCA mencatatkan net sell asing yang besar yakni sekitar Rp84 miliar, dan sahamnya terkoreksi sebesar 3,46 persen.
Di tengah masa rilis laporan keuangan emiten yang berlangsung mulai 24 Juli hingga akhir bulan ini, pergerakan saham berpotensi mengalami anomali. Bagi investor dengan profil risiko lebih tinggi yang mencari potensi risk-reward lebih besar, saham BRIS direkomendasikan sebagai salah satu pilihan alternatif yang menarik di sektor perbankan.
Selain sektor perbankan, analis juga menyoroti saham TINS yang memiliki valuasi Price to Earnings (PE) sekitar 10 kali. Saham ini berpotensi bergerak secara anomali saat pasar bergejolak, didukung oleh fundamental perusahaan yang sejauh ini masih berjalan sesuai ekspektasi atau on track.
Sumber: Maybank Sekuritas
(TribunWow.com/Ghozi Luthfi Romadhon)