Belajar dari Pengalaman, Semangat Berkarya Galeri Cinta Batik Semarang Mengolah Motif Khas Pesisir
muslimah July 25, 2026 06:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pagi di Galeri Cinta Batik Semarang, Kampung Batik Gedong No 430, Semarang Timur, selalu dimulai dengan cara yang sama.

Iin Windhi Indah mengambil selembar kain mori, memanaskan malam, lalu mulai menggerakkan canting di atas kain putih.

Rutinitas itu telah ia jalani hampir dua dekade.

Bukan semata untuk memenuhi pesanan, melainkan menjaga agar Batik Semarangan tetap memiliki orang yang bersedia merawatnya dari proses paling awal. 

Perjalanan Iin menjadi pembatik tidak dimulai dari keluarga pengrajin batik.

Ia juga tidak mewarisi keterampilan itu dari orang tua.

Semua bermula pada 2006 saat Pemerintah Kota Semarang menggulirkan program revitalisasi batik semarangan. Saat itu, ia mengikuti pelatihan dasar bersama puluhan peserta lain.

Namun pelatihan itu hanya mengenalkannya pada teknik membatik. Selebihnya, ia harus belajar sendiri.

"Saya bukan keturunan pembatik. Saya cuma diberi pengetahuan dasar, setelah itu saya mencari sendiri apa sebenarnya batik semarangan," kenangnya.

Pencarian itu membawanya berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk sejarawan.

Salah satunya, Dewi Yuliati, dosen sejarah Universitas Diponegoro, yang membantu membuka pemahaman mengenai sejarah batik di Semarang, karakter kota pesisir, hingga perjalanan budaya yang membentuknya.

Dari sanalah Iin mulai memahami bahwa batik semarangan bukan sekadar menghadirkan gambar Lawang Sewu, Warak Ngendog, atau Tugu Muda di atas kain.

Menurutnya, batik Semarang lahir dari kota pelabuhan yang sejak lama menjadi ruang pertemuan budaya Jawa, Tionghoa, Eropa, hingga India.

Karena itu motifnya cenderung bebas, berwarna cerah, dan tidak memiliki pakem tunggal seperti batik pedalaman.

Namun perjalanan membatik ternyata jauh dari mudah. Kala itu, bahan baku membatik masih sulit diperoleh di Semarang.

Untuk membeli kain maupun pewarna, ia harus pergi ke Solo, Pekalongan, atau Yogyakarta. Tidak ada guru yang bisa ditanya ketika warna gagal keluar atau malam terlalu encer.

"Saya belajar dari gagal. Dicoba lagi, gagal lagi, diperbaiki lagi," katanya.

Salah satu ujian terbesar datang ketika seorang pengusaha memberinya pesanan 20 lembar batik sutra. Padahal saat itu, memegang kain sutra saja ia belum pernah.

"Saya nekat saja," ujarnya sambil tersenyum.

Keberanian itu harus dibayar mahal. Dari 20 lembar kain, hanya tiga yang berhasil. S

isanya gagal.

Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti.

Kain-kain yang gagal justru kembali ia olah hingga memiliki nilai jual.

"Semakin sulit, malah semakin ingin bisa," katanya.

Dalam perjalanan itu, Iin tidak sendirian. Ia dan suaminya sama-sama memilih menekuni dunia batik.

Keduanya membangun usaha perlahan dari kondisi yang serba terbatas. 

Mereka pernah tinggal di rumah sewa sambil merintis usaha batik sedikit demi sedikit.

Penghasilan yang diperoleh kembali diputar untuk membeli kain, malam, pewarna, hingga peralatan produksi.

Sedikit demi sedikit usaha mereka tumbuh.

Kini Galeri Cinta Batik Semarang menjadi tempat produksi sekaligus ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal batik semarangan lebih dekat.

Sekitar sembilan pembatik bekerja bersama Iin.

Meski proses dikerjakan bersama, untuk pewarnaan ia tetap memilih turun tangan sendiri agar karakter warna yang selama ini dibangun tetap terjaga. Bagi

Iin, membatik bukan sekadar menghasilkan kain.

Ia memaknai setiap tahap sebagai gambaran perjalanan hidup. 

Kain putih diibaratkan manusia yang lahir tanpa noda.

Saat digambar, di sanalah harapan mulai dituliskan.

Proses mencanting menjadi simbol perjuangan.

Ada malam yang menetes, garis yang melenceng, hingga hasil yang tidak sesuai harapan.

"Itu seperti hidup. Kita pasti salah, pasti jatuh. Tapi kalau berhenti, ya enggak akan pernah selesai," ujarnya.

Tahap pewarnaan menjadi proses menyempurnakan diri, sedangkan pelorotan menjadi simbol ketika manusia akhirnya menemukan bentuk terbaiknya.

"Dari situ tercipta kain batik yang utuh. Sama seperti tujuan hidup yang akhirnya kita capai," katanya.

Filosofi itulah yang membuatnya bertahan hingga hari ini.

Di tengah semakin banyaknya batik printing dan semakin sedikit orang yang memilih menjadi pembatik, Iin tetap percaya bahwa kekuatan batik bukan terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada proses yang dilalui.

Baginya, selama masih ada orang yang mau memahami proses itu, Batik Semarangan akan tetap memiliki masa depan. (Rezanda Akbar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.