TRIBUNJOGJA.COM, WONOSOBO - Tujuh anak mengikuti tradisi Ruwat Sukerta Cukur Rambut Gimbal di Pendopo Bupati Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026).
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.
Didampingi orang tua, setiap anak berambut gimbal menjalani setiap tahapan ruwatan.
Kemudian, rambut gimbal di setiap anak dipotong oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat; Wakil Bupati, Amir Husein; Sekretaris Daerah, One Andang Wardoyo; serta pejabat lain.
Pengampu Tradisi Ruwat Cukur Rambut Gimbal, Nanik Widayat menjelaskan, ruwatan dilakukan untuk menghilangkan sukerta atau hal-hal kurang baik yang melekat pada anak.
"Ruwat itu artinya menghilangkan. Sukerta itu sesuatu yang tidak baik," ungkap Nanik.
Menurutnya, prosesi cukur rambut gimbal tidak dilakukan serampangan.
Seluruh tahapan harus dijalani berdasarkan keinginan anak, bukan paksaan orang tua maupun keluarga.
Tahap pertama diawali dengan tantingan, yakni memastikan anak benar-benar bersedia rambut gimbalnya dipotong.
Setelah itu, dilanjutkan udar punagi, yaitu memenuhi permintaan anak sebagai syarat sebelum rambut gimbal dipotong.
"Tahun ini, ada yang minta kucing beserta kandangnya, naik kuda, sepeda, tembak-tembakan, boneka Barbie dan baju warna pink, tablet, hingga kambing dan dua sepeda," kata Nanik.
Setelah seluruh permintaan dipenuhi, anak-anak menjalani prosesi bebono sebagai simbol bahwa seluruh syarat telah dilaksanakan.
"Tahapan berikutnya adalah jamasan yang telah digelar pada 22 Juli 2027 di Taman Rekreasi Pemandian Kalianget," ungkapnya.
Menurut Nanik, jamasan bermakna membersihkan hati dan menghilangkan segala pengaruh buruk agar anak dalam kondisi sehat saat mengikuti prosesi cukur rambut gimbal.
Meski sempat menghadapi tantangan karena beberapa anak rewel sejak sehari sebelumnya, seluruh rangkaian akhirnya berjalan lancar.
Baca juga: Kabar Temuan Mayat di Banguntapan Bantul, Polisi Lakukan Penelusuran
Dilarung
Setelah prosesi cukur selesai, rambut yang telah dipotong dilarung di Sungai Serayu, tepatnya di kawasan Jembatan Selokromo.
Nanik mengatakan, larung memiliki makna agar anak mampu beradaptasi di mana pun berada saat dewasa nanti.
"Semua maknanya adalah untuk kebaikan," ucapnya.
Ia menyebut, hidup dengan rambut gimbal kerap menjadi beban psikologis bagi anak.
Selain terasa berat, tidak sedikit anak yang kehilangan rasa percaya diri.
Bahkan, seorang peserta perempuan mengaku kesulitan mengenakan jilbab karena ukuran rambut gimbalnya cukup besar.
"Secara psikis, hidup dengan gembel itu tidak enak," katanya.
Nanik menjelaskan, rambut gimbal memiliki beberapa jenis, mulai dari gembel udan, gembel gimbal, hingga gembel gelung yang paling sulit dipotong karena melekat kuat pada kulit kepala.
Dari tujuh peserta tahun ini, terdapat tiga anak dengan rambut jenis gimbal, dua gembel udan, dan dua gembel gelung.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, berharap, setelah mengikuti prosesi ruwatan, anak-anak dapat tumbuh sehat dan meraih cita-citanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo akan terus mendampingi anak-anak yang mengikuti tradisi tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap pelestarian budaya sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo menambahkan, tahun ini, ruwatan diikuti tujuh anak, terdiri atas satu anak laki-laki dan enam anak perempuan.
Menurutnya, tradisi ruwat cukur rambut gimbal merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga warisan budaya sekaligus menghadirkan pelayanan kepada masyarakat. (TribunJateng)