Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) meminta para pendukung untuk menerima kemenangan Spanyol di final Piala Dunia FIFA 2026 setelah sebuah petisi yang digerakkan penggemar dan menuntut laga diputar ulang menjadi viral pada hari-hari setelah kekalahan Argentina di New Jersey.
Spanyol mengamankan gelar Piala Dunia putra kedua mereka lewat kemenangan 1-0 atas waktu tambahan melawan juara bertahan Argentina, setelah Ferran Torres mencetak gol penentu pada menit ke-106 di Stadion New York New Jersey. Tim asuhan Luis de la Fuente menguasai sebagian besar jalannya pertandingan, sementara Argentina kesulitan menciptakan peluang dan menuntaskan laga dengan 10 pemain menyusul kartu merah telat untuk Enzo Fernández.
Final itu terus menjadi sorotan sejak saat itu, bukan hanya karena keributan seusai pertandingan yang melibatkan beberapa pemain Argentina, tetapi juga karena berkembangnya teori konspirasi seputar kepemimpinan wasit.
Petisi tayangan ulang mendapat daya tarik di internet
Sebuah petisi daring yang dibuat oleh pendukung Argentina, Gisela Sánchez, telah mengumpulkan lebih dari 101.613 tanda tangan terverifikasi, dengan tuntutan agar FIFA mengulang final Piala Dunia tersebut.
Petisi itu menuduh wasit asal Slovenia, Slavko Vinčić, tampil dengan kinerja yang “kontroversial dan korup” serta meminta FIFA menyelidiki sejumlah keputusan yang diambil selama pertandingan.
Uraian lengkapnya menyoroti kekhawatiran mengenai integritas kepemimpinan wasit, dengan klaim bahwa final itu tertutup dugaan keberpihakan dan keputusan yang dipertanyakan. Petisi tersebut berargumen bahwa para penggemar berharap laga ditentukan oleh keterampilan dan usaha, bukan oleh keputusan wasit, serta memperingatkan bahwa kegagalan menanggapi kekhawatiran seperti ini dapat merusak kepercayaan terhadap olahraga.
Petisi itu juga menyinggung video-video yang beredar di internet dan diyakini pendukung menunjukkan keputusan yang menguntungkan salah satu pihak, lalu menggambarkan persoalan ini sebagai isu yang melampaui Argentina dan menyentuh kredibilitas sepak bola secara global.
Petisi tersebut ditutup dengan seruan langsung kepada FIFA:
“Karena itu, kami mendesak FIFA untuk meninjau insiden-insiden ini dengan serius dan transparan, serta mempertimbangkan untuk mengulang final—kali ini tanpa pengaruh wasit yang korup.”
Namun, tidak ada bukti yang diajukan untuk mendukung tuduhan bahwa wasit atau FIFA bertindak tidak semestinya, dan tidak ada indikasi bahwa pertandingan itu dipengaruhi oleh suap atau korupsi.
Selain itu, petisi di Change.org tidak memiliki otoritas hukum maupun otoritas olahraga, dan regulasi FIFA hanya mengizinkan laga diulang dalam keadaan luar biasa, bukan karena ketidaksetujuan terhadap keputusan wasit.
Juga baca:
Claudio Tapia menolak tuntutan pengulangan
Di tengah kampanye daring yang terus membesar, presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina, Claudio “Chiqui” Tapia, secara terbuka menjauhkan federasi dari seruan untuk mengulang laga dan meminta para pendukung menerima hasilnya.
Dalam pernyataan panjang yang dibagikan di Instagram, Tapia mengakui keunggulan Spanyol pada hari itu sambil mendorong para penggemar untuk tetap mendukung tim nasional meski kecewa.
“Kami tidak mampu melewati Spanyol,” tulis Tapia.
“Kami tidak bisa mengalahkan Spanyol. Mereka lebih unggul, mereka menang secara sah, dan kami harus mengakuinya.”
Ia menambahkan bahwa menerima kekalahan merupakan bagian dari olahraga elite.
“Dalam olahraga, Anda juga belajar menerima kekalahan dengan ketenangan yang sama seperti saat merayakan kemenangan.”
Meski mengakui bahwa kalah di final Piala Dunia lain terasa menyakitkan, Tapia mengingatkan pendukung bahwa skuad itu sekali lagi telah mencapai panggung terbesar dalam sepak bola internasional.
“Ya, kami kalah di final. Tetapi benar juga bahwa kelompok ini baru saja membawa kebahagiaan besar bagi negara.”
“Kekalahan itu menyakitkan. Itu menyakitkan karena kami kompetitif, karena kami adalah tim tersukses dalam sejarah, dan karena peringkat kedua tidak pernah cukup bagi kami.”
Presiden AFA itu juga membela komitmen yang ditunjukkan skuad Lionel Scaloni sepanjang turnamen.
“Mari kita pikirkan pengorbanan para pemain ini, staf pelatih, dan setiap orang yang bekerja lebih dari 50 hari jauh dari keluarga mereka, dengan satu tujuan: mewakili Argentina sebaik mungkin.”
Ia menutup pernyataannya dengan peringatan agar para pendukung tidak terpengaruh informasi yang salah.
“Itulah sebabnya kalian tidak boleh goyah oleh kebohongan atau oleh skema yang hanya bertujuan mengacaukan. Cukup sudah mencoba berbalik melawan mereka yang telah memberi begitu banyak untuk sepak bola kita.”
Scaloni juga menepis teori konspirasi
Pernyataan Tapia sejalan dengan komentar yang sebelumnya disampaikan pelatih kepala Argentina, Lionel Scaloni, yang juga menolak anggapan bahwa kepemimpinan Vinčić menentukan hasil final.
Pelatih Argentina itu mengakui bahwa Spanyol memang menjadi tim yang lebih baik pada malam itu, meski kecewa karena gagal meraih gelar Piala Dunia beruntun.
Ironisnya, Argentina sendiri sempat menghadapi tuduhan berulang soal keputusan wasit yang menguntungkan mereka lebih awal di turnamen. Salah satu pihak yang mempertanyakan kepemimpinan wasit FIFA adalah pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, yang mengklaim bahwa badan sepak bola dunia itu ingin Lionel Messi dan Argentina tetap bertahan di kompetisi selama mungkin.
Juga baca:
Meski perdebatan di internet terus berlanjut, FIFA belum memberi tanda bahwa hasil final Piala Dunia akan ditinjau ulang, dengan investigasi yang sedang berjalan justru berfokus pada keributan setelah laga yang melibatkan anggota skuad Argentina seusai peluit akhir.
Selain petisi tayangan ulang, ada pula kampanye viral lain yang beredar di internet dan menyerukan agar Argentina dicopot dari tempat mereka di Piala Dunia mendatang, dengan laporan bahwa kampanye itu sempat menarik sekitar 23 juta tanda tangan sebelum akhirnya dihapus. Seperti petisi tayangan ulang, kampanye tersebut tidak memiliki kekuatan resmi, tetapi menyoroti reaksi global yang sangat besar terhadap final yang kontroversial itu.