Perusahaan Makin Bergantung pada Vendor, Pengelolaan Risiko Dinilai Harus Diperkuat
Sanusi July 25, 2026 10:21 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Transformasi digital membuat perusahaan semakin bergantung pada vendor teknologi, penyedia layanan, dan mitra bisnis untuk menjalankan operasional. 

Di sisi lain, ketergantungan tersebut juga memperbesar potensi risiko, mulai dari gangguan operasional, serangan siber, kebocoran data, hingga risiko kepatuhan yang dapat mengganggu keberlangsungan usaha.

Kondisi tersebut mendorong pentingnya penerapan third-party risk management (TPRM) atau manajemen risiko pihak ketiga sebagai bagian dari tata kelola perusahaan.

Praktik ini dinilai tidak lagi sekadar memenuhi aspek kepatuhan, tetapi telah menjadi strategi untuk menjaga ketahanan bisnis di tengah ekosistem usaha yang semakin saling terhubung.

Isu tersebut mengemuka dalam forum Advancing Risk Management in Indonesia: Third-Party Risk Management & Global Perspective yang digelar Veda Praxis bersama The Institute of Risk Management (IRM) di Jakarta. Forum ini juga menjadi momentum dimulainya kemitraan strategis kedua lembaga untuk memperkuat pengembangan kompetensi manajemen risiko di Indonesia.

Baca juga: Autokritik Menperin: Tranformasi Digital Sektor Industri Berjalan Lambat

Chief Executive Officer Veda Praxis Syahraki Syahrir mengatakan, berbagai kasus yang terjadi belakangan menunjukkan bahwa banyak risiko justru berasal dari pihak ketiga. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan daftar kepatuhan (compliance checklist), tetapi perlu membangun sistem pengelolaan risiko yang menyeluruh.

"Risiko pihak ketiga menjadi akar dari berbagai kasus yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Di era digital, ketergantungan terhadap pihak ketiga semakin besar sehingga risiko tersebut harus benar-benar dikelola," ujar Syahraki.

Menurut Syahraki, kebutuhan terhadap kompetensi manajemen risiko di Indonesia terus meningkat, namun belum diimbangi dengan pendidikan yang memadai, terutama di perguruan tinggi.

"Selama 21 tahun berdiri, kami melihat salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah penguatan governance dan manajemen risiko. Di banyak universitas, pendidikan mengenai manajemen risiko masih sangat terbatas, padahal kebutuhan dunia bisnis sudah sangat besar," katanya.

Melalui kemitraan dengan IRM, Veda Praxis ingin memperluas implementasi manajemen risiko tidak hanya di kalangan korporasi, tetapi juga di dunia pendidikan dan masyarakat.

"Harapannya adalah meningkatkan kapabilitas SDM sekaligus memperkuat kemampuan bisnis nasional. Jika manajemen risiko diterapkan dengan baik, ekonomi Indonesia juga akan semakin maju," ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara pelaku industri, institusi pendidikan, dan organisasi profesi dapat mempercepat terbentuknya budaya manajemen risiko yang lebih kuat sehingga mampu meningkatkan daya saing bisnis nasional di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

Sementara itu, GRC Partner Veda Praxis Dadan Gunawan menilai pemahaman mengenai manajemen risiko di Indonesia masih perlu diperkuat karena kerap dipandang sebagai disiplin yang terpisah dari proses bisnis.

Menurutnya, manajemen risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola organisasi dan harus menjadi dasar dalam proses pengambilan keputusan.

"Risk management bukan dunia yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari manajemen. Kalau kita memiliki governance yang baik, manajemen risiko harus menjadi bagian yang melekat di dalamnya," ujarnya.

Dadan mengatakan edukasi mengenai manajemen risiko perlu dilakukan secara berkelanjutan kepada korporasi, institusi pemerintah, maupun masyarakat agar organisasi mampu mengidentifikasi potensi persoalan sejak dini sebelum berkembang menjadi krisis.

Baca juga: Peran Pemuda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi dan Transformasi Digital Desa

"Jika kita mampu mengidentifikasi masalah dari awal, kita bisa mendesain solusi sebelum insiden terjadi. Banyak proyek maupun kebijakan akan jauh lebih efektif dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat," katanya.

Ia menambahkan tantangan terbesar dunia usaha saat ini adalah tingginya ketidakpastian, mulai dari dinamika geopolitik, perubahan regulasi, hingga tekanan ekonomi global. 

Namun, ketidakpastian tersebut tidak selalu menjadi ancaman apabila dikelola dengan pendekatan manajemen risiko yang tepat.
"Ketidakpastian justru bisa menjadi peluang. Banyak negara mampu mengubah berbagai tantangan menjadi kekuatan karena memiliki manajemen risiko yang baik. Kita juga berada di jalur yang benar, tinggal membutuhkan konsistensi dan kolaborasi dalam membangun budaya tersebut," ujarnya.

Dari perspektif global, Head of Partnership Asia IRM Victoria Robinson mengatakan setiap negara memiliki tingkat kematangan manajemen risiko yang berbeda, bergantung pada karakteristik industri dan regulasi yang berlaku.

Menurutnya, sektor perbankan, jasa keuangan, dan asuransi umumnya telah memiliki penerapan yang lebih maju. Namun, prinsip manajemen risiko pada dasarnya relevan bagi seluruh sektor usaha.

"Enterprise risk management adalah fondasi yang membuat bisnis bertahan dan berkembang. Semua industri membutuhkannya, mulai dari manufaktur, perhotelan, hingga teknologi," katanya.

Melalui kerja sama dengan Veda Praxis, IRM ingin menggabungkan pengalaman global dengan pemahaman lokal untuk menghadirkan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan kawasan ASEAN.

"Kami ingin mendengarkan kebutuhan pasar Indonesia, menggabungkan keahlian global dengan ahli lokal, lalu mengembangkan pendidikan yang membantu para profesional Indonesia menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Head of IT & Digital Risk Group Bank Rakyat Indonesia Nugroho Pancayogo menambahkan bahwa setiap aktivitas bisnis pada dasarnya selalu berdampingan dengan risiko sehingga kemampuan mengelolanya menjadi faktor utama keberlangsungan usaha.

"Bisnis pada dasarnya adalah mengelola risiko. Tidak ada bisnis tanpa risiko. Karena itu, jika ingin bisnis berjalan dengan baik, manajemen risiko harus menjadi prioritas," katanya.

Menurut Nugroho, penerapan manajemen risiko akan berjalan efektif apabila telah dipahami dan menjadi budaya organisasi, mulai dari level operasional hingga jajaran manajemen puncak.

"Yang terpenting adalah seluruh lini organisasi, dari level paling dasar sampai top management, memiliki kesadaran yang sama untuk menjalankannya," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.