Antusias Wisatawan Warnai Hari Jadi Wonosobo, Disparbud Kaji Pengembangan Festival Budaya
muh radlis July 25, 2026 11:12 AM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Tak hanya dipadati masyarakat lokal, rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara, Jumat (24/7/2026).


Sejak pagi, wisatawan tampak memenuhi kawasan Alun-alun Wonosobo hingga kompleks Pendopo Kabupaten Wonosobo untuk menyaksikan berbagai prosesi budaya, mulai dari Pisowanan Agung, kirab gunungan, hingga Ruwat Sukerta Cukur Rambut Gimbal.


Sejumlah wisatawan bahkan terlihat mengenakan pakaian adat Jawa untuk menyatu dengan suasana perayaan. Mereka tampak antusias mengabadikan setiap prosesi menggunakan kamera maupun telepon genggam. Tak sedikit pula wisatawan asing yang larut menikmati pertunjukan seni dan ritual budaya yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.


Salah satunya adalah John, wisatawan asal Australia. Meski sudah 12 kali berkunjung ke Wonosobo, baru kali ini ia berkesempatan menyaksikan secara langsung prosesi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. John mengaku terkesan dengan kekayaan budaya yang ditampilkan dalam setiap rangkaian acara.


"Saya sudah 12 kali ke Wonosobo, tetapi ini pertama kalinya melihat prosesi Hari Jadi. Sangat menarik," ujarnya dalam Bahasa Inggris.


Melihat tingginya antusiasme wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo menilai rangkaian Hari Jadi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda wisata budaya tahunan.


Kepala Disparbud Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan konsep tersebut mulai disiapkan agar peringatan Hari Jadi tidak hanya menjadi seremoni daerah, tetapi juga menjadi festival budaya yang mampu menarik lebih banyak wisatawan.


"Brandingnya sudah bukan lagi Hari Jadi lagi nantinya," ungkapnya.


Menurut Fahmi, wisatawan umumnya tidak datang hanya untuk menghadiri peringatan hari jadi. Mereka justru tertarik pada berbagai atraksi budaya yang menjadi kekhasan Wonosobo. Karena itu, rangkaian tradisi seperti pengambilan air suci, ziarah, Bedhol Kedhaton, Pisowanan Agung, hingga Ruwat Sukerta Cukur Rambut Gimbal dinilai layak dikemas menjadi sebuah festival budaya.


Ia mengungkapkan, ketertarikan wisatawan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak beberapa prosesi budaya digelar. Ia menceritakan, saat prosesi pengambilan air suci di sejumlah mata air, misalnya, banyak wisatawan sengaja berhenti untuk menyaksikan jalannya ritual. Bahkan, sebagian mengetahui agenda tersebut melalui media sosial.


Ke depan, Disparbud berharap konsep festival budaya mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama di Wonosobo. "Saya pinginnya hari jadi kelak orang staycation di Wonosobo," ucapnya.


Menurut Fahmi, semakin lama wisatawan berada di Wonosobo, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, mulai dari tingkat hunian hotel, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM. Meski demikian, ia menilai promosi sejumlah prosesi budaya masih perlu diperkuat agar semakin dikenal, baik oleh masyarakat maupun wisatawan.


Dengan pengemasan yang lebih matang, Fahmi optimistis peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dapat berkembang menjadi agenda wisata budaya tahunan yang dinantikan masyarakat sekaligus wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. (ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.