Prabowo Dinilai Rendahkan Martabat Rakyat Imbas Pernyataan 'Londo Ireng', DPR Didesak Tegur Presiden
Rita Noor Shobah July 25, 2026 11:29 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat, dan kritikus sebagai "Londo Ireng".

Menurut Ray, penyebutan tersebut berpotensi merendahkan harkat dan martabat masyarakat yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Ray sebagai tanggapan atas pidato Presiden Prabowo dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Jakarta.

Baca juga: Ucapan Prabowo soal Londo Ireng Berbahaya bagi Demokrasi, Formappi: Ketidaksukaan Ini Kerap Diulang

Londo Ireng merupakan istilah yang secara historis merujuk pada pribumi yang dianggap membantu pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan.

Ray menilai penggunaan istilah tersebut bukan sekadar pilihan kata, tetapi dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap kelompok yang menjalankan fungsi kritik dalam sistem demokrasi.

Ia juga mengaku mencatat sejumlah pernyataan Presiden yang dinilai menggunakan diksi keras ketika berbicara di ruang publik.

"Mulai dari 'endasmu', 'bajingan', 'emang gue pikirin', 'kabur aja sana', 'antek-antek asing', dan yang terakhir 'Londo Ireng'," kata Ray kepada wartawan, Sabtu (25/7/2026).

Meski demikian, Ray menilai masyarakat kini mulai melihat ungkapan-ungkapan kasar dari Presiden tersebut tidak lebih dari sekadar kata-kata kosong tanpa makna.

Pasalnya, hingga hari ini, tuduhan seperti adanya "antek asing" maupun "Londo Ireng" tidak pernah dibuktikan secara nyata kepada publik.

Publik pun mulai menanggapinya sebagai lelucon belaka.

"Hal ini terlihat dari meme yang pernah beredar, di mana istilah yang merujuk ke sistem ekonomi ala Prabowo (Prabowonomic), justru diplesetkan masyarakat menjadi Prabowo no mic," ujar Ray.

Lebih lanjut, Ray memperingatkan bahaya dari situasi ini.

Baca juga: Ucapan Londo Ireng Mengkhianati Mandat Konstitusi dan Kedaulatan Rakyat

Jika Presiden terus menggunakan diksi yang merendahkan, masyarakat bisa menganggap bahwa melontarkan kata-kata tidak pantas adalah sesuatu yang lumrah. 

Ujung-ujungnya, bahasa kasar tersebut dapat berbalik diungkapkan oleh rakyat kepada para pejabat negara.

Ray Minta DPR Ingatkan Presiden

Karena itu, Ray meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk menjalankan fungsinya dengan memperingatkan Presiden Prabowo agar tidak lagi menuduh rakyat tanpa bukti.

DPR, kata Ray, semestinya mendorong Presiden untuk menyampaikan pidato yang memberi inspirasi, semangat, dan menjaga kesatuan seluruh anak bangsa, baik yang mendukung maupun yang mengkritisi pemerintah.

"Jangan mengotak-ngotakkan anak bangsa sebagai anak baik dan yang lainnya adalah Londo Ireng. Bukankah Pak Prabowo sendiri pernah menyebut bahwa oposisi itu penting? Maka, harkat dan martabat para kritikus pemerintah tidak boleh direndahkan," imbuhnya.

Baca juga: Prabowo Tuding Jurnalis dan LSM Londo Ireng, CELIOS: Kritik Dibalas Serangan Personal, Bukan Data

Prabowo Singgung Istilah "Londo Ireng" saat Harlah PKB

Adapun, pernyataan Presiden Prabowo Subianto disampaikan pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung keberadaan kelompok ‘Londo Ireng’ yang menurutnya masih ada hingga saat ini dengan identitas yang berbeda. 

Secara historis, Londo Ireng merujuk pada pribumi yang berkhianat dengan membantu penjajah Belanda.

"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," tegas Prabowo.

Prabowo menyebut kelompok tersebut kini mengenakan "baju" yang berbeda, mulai dari wartawan, pengamat, hingga LSM. Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan pihak yang mendanai kelompok-kelompok tersebut di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," cecarnya.

Lebih lanjut, Prabowo menilai kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye negatif untuk menggoyahkan mental bangsa. 

Salah satunya melalui narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh.

"Kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. (Dibilang) Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ucap Prabowo.

Mantan Menteri Pertahanan itu lantas menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan tersebut layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras.

"Umpamanya ya kesebelasan kita lagi main sepak bola. Dia lagi bertarung dia lagi bertanding di lapangan. Kita kan sebagai suporter (berteriak) ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ. Oh nanti gol masuk, nanti kamu kalah nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya," imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.