TRIBUNSUMSEL.COM -- Identitas tiga orang yang berada di dalam mobil Toyota Alphard dan terlibat cekcok dengan petugas keamanan (satpam) proyek MRT, Fiktor Harefa, di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, akhirnya terkuak.
Ketiganya dipastikan merupakan anggota kepolisian aktif yang bertugas di Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar).
Kepastian mengenai sosok ketiga penumpang tersebut disampaikan langsung oleh Kapolsek Metro Menteng, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu.
Baca juga: Diisukan Dipecat Usai Insiden Alphard, Satpam Bundaran HI Buka Suara Soal Nasib Pekerjaannya
Fakta mengenai latar belakang ketiga sosok tersebut terungkap usai proses mediasi antara Fiktor dan pihak pengemudi Alphard yang berlangsung selama sekitar enam jam di Mapolsek Metro Menteng.
Kuasa hukum Fiktor, Wiradarma Harefa, membenarkan bahwa ketiganya secara terbuka mengakui status mereka sebagai anggota Polri, baik saat insiden terjadi maupun saat proses mediasi berlangsung.
"Tiga-tiganya anggota. Betul bahwa mereka mengakui pada saat itu 'kami anggota', iya. Dan saat ini juga mengakui mereka anggota. Cuma makanya ini hari ini juga mereka sudah dijemput (oleh Polda Jabar) dan hari ini dijaga di atas ya, ada yang memeriksa," ungkap Wiradarma.
Mengenai kendaraan yang digunakan, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu menegaskan bahwa mobil Toyota Alphard hitam berpelat nomor D 1828 XHQ yang ditumpangi ketiga personel tersebut bukanlah fasilitas negara.
"Ya itu mobil pribadi, mobil pribadi, bukan (mobil dinas)," tuturnya.
Usai menjalani mediasi, ketiga sosok anggota Polri tersebut tidak dihadirkan di hadapan awak media yang melakukan peliputan.
Wiradarma menjelaskan bahwa ketiganya langsung dijemput dan diamankan oleh tim Pengamanan Internal (Paminal) Bidang Propam Polda Jawa Barat yang datang langsung dari Bandung untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Teman-teman yang sudah menunggu, kenapa nanti mungkin bertanya-tanya kenapa tidak ada yang bersangkutan ya, bahwa memang orang itu sekarang sudah diamankan. Ada sekarang itu di Paminal dari Jawa Barat. Ya, jadi sekarang mereka diamankan juga," jelasnya.
Baca juga: Sosok Vicol, Sekuriti di Bundaran HI Sujud Minta Maaf ke Sopir Alphard Terobos Lampu Penyeberangan
Meski perselisihan dengan Fiktor telah berakhir damai, Braiel memastikan proses hukum terhadap ketiganya tetap berlanjut.
Menurutnya, dugaan tindakan arogan, intimidasi, hingga pengancaman akan ditangani oleh Bidang Propam Polda Jawa Barat.
"Terkait dengan tadi yang disampaikan ada beberapa dugaan perbuatan arogansi dari rekan pengemudi maupun penumpang, ini malam ini juga akan ditindaklanjuti dari Bid Propam Polda Jawa Barat," ujar Braiel, dikutip dalam Kompas.com, Sabtu (25/7/2026).
Sementara itu, dugaan pelanggaran lalu lintas berupa menerobos pelican crossing saat lampu merah dan penggunaan pelat nomor palsu akan diproses oleh Subdit Gakkum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
"Terkait dugaan pelanggaran lalu lintas dari pengemudi ini, malam ini juga akan ditindaklanjuti oleh Subdit Gakkum Lantas Polda Metro Jaya," jelasnya.
Sebelumnya, perselisihan antara Fiktor Harefa dan pengemudi Toyota Alphard di kawasan Bundaran HI diselesaikan melalui mediasi di Mapolsek Metro Menteng.
Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu mengatakan kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.
"Telah dilaksanakan upaya atau mediasi antara pihak pengendara dan saudara Fiktor dari pihak keamanan. Telah disepakati bahwa persoalan perselisihan diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua belah pihak saling memaafkan, mengakui kesalahan," kata Braiel.
Fiktor bersama kuasa hukumnya tiba di Mapolsek Metro Menteng sekitar pukul 14.40 WIB. Setelah menjalani mediasi selama kurang lebih enam jam, mereka baru keluar sekitar pukul 20.40 WIB.
Menurut Wiradarma, kesepakatan damai telah dituangkan dalam surat yang ditandatangani kedua belah pihak. Ia mengatakan proses mediasi berlangsung cukup lama karena masing-masing pihak menyampaikan kronologi dan keluh kesah terkait peristiwa tersebut.
"Dengan apa yang difasilitasi oleh Pak Kapolsek dan tim di sini, masing-masing telah menerima, semua mengakui bahwa ada kesalahan, ada arogansi yang terjadi pada saat itu spontan," kata Wiradarma.
Kini, lanjut dia, Fiktor menganggap persoalan tersebut telah selesai dan ingin kembali fokus bekerja mencari nafkah seperti biasa.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com